malam tadi, selepas sholat maghrib di masjid dekat stasiun bogor, sebenarnya niat saya adalah untuk menonton film King atau Garuda di Dadaku. tapi apa daya, ternyata bangku kedua teater di BTM 21 yang menayangkan film-film tersebut sudah penuh. mau pulang, tanggung. mau main ke tempat lain, bingung hendak ke mana. tiba-tiba tercetus untuk mencoba jalan-jalan di sekitar suryakencana. selepas menyeberang jalan juanda dari BTM, saya langsung naik angkot 02,tujuan saya adalah Gang Awut.
Gang Awut adalah nama jalan kecil yang melintang di tengah-tengah jalan Suryakencana. daerah ini terkenal dengan jajanannya, tapi saran saya untuk anda yang muslim, agak berhati-hatilah dengan kehalalan makanannya. maklum, daerah pecinan.
turun di perempatan gang awut, saya belok ke arah kanan. tidak jauh dari situ, sekitar 50 meter ada pedagang es pala. awalnya agak tidak terlalu yakin juga untuk membeli minuman di situ karena si pedagang hanya menggelar dagangannya pada meja kecil di depan bangku panjang. tidak ada tenda di atas meja yang penuh dengan toples-toples besar. tidak ada kain penutup yang menyekat antara bangku dan jalanan. tidak ada juga tulisan yang menyatakan bahwa yang diperdagangkan itu adalah es pala. akhirnya setelah menanyakan apa yang dijual oleh si ibu pedagang itu, saya minum di pelataran toko yang sedang tutup di belakang lapak si pedagang.
rasa-rasanya resep minuman itu sederhana saja. hanya buah pala yang diiris tipis-tipis, lalu dicampur dengan air gula, serta kelapa yang dikerok. namun rasa dari minuman itu cukup eksotis. awalnya saya agak ragu bisa menghabiskan satu cangkir besar, karena terus terang saya sendiri tidak suka dengan buah pala yang biasanya saya lihat dalam bentuk manisan pala. buah pala dengan sensasi pedas di mulut ternyata menjadi jinak dengan es dan manis dari gula.
setelah menghabiskan sedikit waktu untuk ngobrol-ngobrol, saya pun beranjak untuk membayar. ternyata hanya Rp 2500,00 untuk satu gelasnya. selesai dengan gang awut, saya kembali ke jalan suryakencana. saya mengambil jalan ke arah kiri, melawan arus kendaraan di jalan suryakencana yang satu arah. malam itu sangat cerah dan bulan menampakkan dirinya dalam bentuk sabit. malam senin seperti itu ternyata banyak toko-toko di suryakencana yang sudah tutup. akan tetapi hal itu tidak membuat keasyikan menyusuri jalan suryakencana menjadi berkurang. melintasi bangunan-bangunan tua dengan berjalan kaki membuat saya menjadi lebih dapat memperhatikan arsitektur yang ada.
di seberang jalan kemudian saya melihat tulisan Tan Ek Tjoan dalam huruf besar-besar. toko itu sudah tutup. setahu saya Tan Ek Tjoan dulunya adalah produsen roti yang cukup terkenal di Bogor. tapi dengan melihat keadaan bangunan toko itu, rasanya Tan Ek Tjoan sudah jauh melewati masa jayanya dan tergantikan dengan roti-roti lain yang lebih modern.
perhatian saya kemudian terpikat dengan sebuah toko yang kebetulan masih buka di sisi saya berjalan. saya tidak sempat memperhatikan nama tokonya, tapi itu adalah toko mainan. iseng-iseng saya masuk. mainan di sana amat beragam dan membawa saya pada kenangan masa kanak-kanak dulu. yang paling menarik adalah kembang api. rupanya toko itu masih menjual kembang api meskipun saat ini bukan musim tahun baru, bulan puasa, atau imlek. kemudian di satu etalase saya menemukan jigsaw puzzle. 1000 keping hanya Rp 49.000,00. walaupun bukan merk clementoni yang buatan italia itu, tapi rasanya asik juga bermain puzzle. sayang uang di dompet tidak mengizinkan saya untuk melakukan transaksi di toko itu.
keluar dari toko itu, saya melanjutkan perjalanan ke arah pasar bogor. saat itu baru sekitar pukul 20.00, tapi ternyata sebagian pedagang sayur sudah mulai menggelar lapaknya di aspal suryakencana. sayur-mayur ini berasal dari berbagai tempat di sekitar bogor, bahkan sampai dari daerah leuwiliang. tempat ini memang pusat penjualan hasil pertanian di bogor. cobalah datang pukul 3 dini hari, tempat ini bukan main ramainya. dengan berbekal terpal plastik sebagai alas dan penerangan dari sebatang lilin, roda ekomoni rakyat ini bergerak tiap dini hari. keramaian pasar bogor saat saya melewati jalan ini malam tadi, tentulah belum ada apa-apanya dibandingkan jika saya melewatinya sekitar lima jam kemudian.
tepat sebelum Ramayana, di seberang jalan berjejeran dengan ramayana, saya melihat ada pedagang cakwe. ukuran cakwe yang panjangnya mencapai setengah meter membuat saya seperti laron yang terpikat pada cahaya, bergerak mendekat. “cakwe medan” begitu tulisan yang ada. seorang ibu menghentikan aktifitas mencetak cakwe dari adonannya untuk melayani saya. beliau menawarkan saya cakwe yang dihargai Rp 1500,00 per potongnya. “7 cuma 10.000, tapi kalau mau beli satu juga boleh, 1500 saja,” si pedagang menawarkan dagangannya pada saya. akhirnya saya memutuskan untuk beli 3 potong saja, Rp 4500,00. si ibu kemudian kembali menawarkan, “mau tunggu sebentar yang baru digoreng, biar dapet yang lebih prima,” si ibu menunjuk ke arah wajan besar yang berisi cakwe berwarna kuning. 3 cakwe raksasa dengan panjang setengah meter akhirnya sudah di tangan, lengkap dengan sambalnya. masih takjub dengan ukuran cakwe yang sedang saya pegang, saya pun membalas sms teman yang baru saja masuk. teman saya yang sedang di klaten itu sedang pamer kalau dia sedang makan sate kerbau khas solo yang nikmat. maka saya pun tidak kalah dengan menceritakan cakwe raksasa yang baru saja saya beli. akhirnya balas-balasan sms itu pun berakhir dengan penjelasan dari saya yang meyakinkan dia bahwa yang saya beli itu benar-benar cakwe, bukan roti banquet.
sekarang tinggal cari tempat yang nyaman untuk memakannya. habis suryakencana, saya pun kembali ke BTM. di restoran fastfood A&W saya membeli rootbeer ukuran jumbo, Rp 9.800,00 per gelas besar. saya mengambil tempat duduk di luar. dari situ kita bisa melihat ujung jalan juanda penuh dengan angkot 02 yang sedang ngetem untuk membawa penumpang ke terminal laladon. sembari minum rootbeer, dengan nakal saya keluarkan cakwe yang tadi dibeli. kombinasi cakwe dan rootbeer ternyata tidak buruk. beruntung tidak ada pegawai A&W yang menegur karena saya membawa makanan dari luar.
waktu menunjukkan 20.27 wib, sudah cukup malam, maka saya memutuskan untuk beranjak dari tempat itu dan pulang. walaupun batal menonton film lokal yang sedang booming saat ini, saya tidak menyesal. malam tadi memberikan saya pengalaman lain setelah lebih dari setengah dasawarsa saya tinggal di bogor.




