Persija, Persib, lalu Bogor

2010 January 31
by Kebon jahe

Rivalitas kental antara Persija Jakarta dan Persib Bandung membuat warga Bogor terjepit di tengah-tengahnya. Sementara prestasi PSB Bogor dan Persikabo belum bisa terlalu dibanggakan, sebagian warga Bogor memilih untuk mendua. Sebagian mendukung Persija sementara sisanya Persib.

Secara geografis Bogor memang lebih dekat dengan Jakarta, namun secara historis, Bogor lebih dekat dengan Bandung. Jadilah warna oranye dan biru berdampingan di kota ini tanpa perlu bermusuhan. Di mana lagi bisa menemukan Viking dan The Jak berjalan sambil berangkulan seperti ini, kecuali di film Romeo Juliet?

The Jak - Viking

The Jak - Viking

Fresh Brewing Menyelusup Bogor

2010 January 29
tags:
by Iqbal

Makin tingginya pendapatan masyarakat (walaupun data ini masih banyak didebatkan) juga ikut meningkatkan konsumsi teh. Dari dulu orang Sunda memang gemar sekali minum teh, tapi sayangnya kebanyakan minum teh kualitas rendah dengan cara penyeduhan yang salah pula. Bertambahnya pendapatan memberikan kesempatan masyarakat mendapatkan teh yang lebih bagus.

Fresh Brewing adalah tipe penjualan teh dengan gerobak kecil atau kios kecil. Teh dingin dalam gelas sungguh menggoda masyarakat. Stasiun Bogor menjadi target pasar yang cukup menggiurkan. Dua buah merk menawarkan fresh brewing. Ke luar stasiun juga ada sebuah lagi. Masuk taman topi kedapatan lagi. Teh menjadi favorit karena menyegarkan dan menenangkan…=)

Satu dari dua penjual fresh brewing di Stasiun Bogor. Dok: Iqbal

BHI Incar Segmen “Stasiun”

2010 January 17
tags: , ,
by Iqbal

Iklan BHI (atas) di stasiun Bogor. Dok: Iqbal

Kenapa ya iklah Bogor Hotel Institute selalu terlihatnya di stasiun-stasiun, terutama sepanjang Bogor-Kota? Apa mungkin memang target pasarnya menengah ke bawah? hehe.

Pustaka Tak Menarik ?

2010 January 13
by Iqbal

Bangunan lumayan megah berdiri kokoh di samping SMA 1 Bogor, Pustaka namanya. Di dalamnya banyak koleksi buku-buku khususnya di bidang pertanian. Sepertinya memang garis koordinasinya berpangkal pada Departemen Pertanian.

Akhir 2009 kemarin, saya masuk ke dalamnya. Gedungnya bersih, rapi. Ruangannya nyaman dengan pencahayaan yang baik sekali. Katalog online langsung menyapa di depan ruangan. Mencari buku kian mudahnya. Setelah mencatat beberapa hal seperti kode buku, pengarang, dan judul, catatan diserahkan ke petugas untuk kemudian dicarikan. Tidak lama kemudian buku datang.

Ketika itu, saya mencari semua informasi yang berbau komoditas teh. Ada sekitar 10 buku yang cukup menarik. Ketika sedang mendalami semua bacaan itu, petugas menghampiri saya, memberikan buku tentang teh yang ditemukannya, lagi, dan lagi. Baru kali ini saya mendapat petugas perpus yang benar-benar proaktif melayani pengunjungnya.

Pustaka juga menjual jurnal-jurnal dari bermacam sumber, sebut saja yang terkenal science direct. Intinya, perpustakaan ini cukup tepat dikatakan sebagai sumber informasi.

Namun, satu hal aneh. Perpustakaan sepi. Saya satu-satunya pengunjung hari itu. Berjam-jam saya di dalam perpustakaan, Cuma satu rombongan pengunjung yang datang. Mereka memakai rok merah, siswa SD ternyata. Namun mereka melintasi ruang perpus begitu saja, menuju sebuah ruangan lagi di dalam. Ada warnet rupanya di dalam.

Ada apa ya? Kenapa warga Bogor enggan untuk berkunjung? Padahal pelayanan manis sekali, buku-buku tentang pertanian juga lumayan banyak. Apa karena subjek pertanian dirasa terlalu menjemukan?

Bermain dengan Maut

2010 January 10
by Iqbal

Seorang balita bermain di pinggir rel kereta api Stasiun Bogor

petak-petak yang terlipat

2009 December 23
tags: , ,
by Kebon jahe

saya sempat tinggal di perumahan IPB II yang jalan masuknya terletak di pertigaan bubulak-laladon. meskipun gerbang masuknya adalah salah satu pusat kemacetan yang paling parah di kota bogor bagian barat. meskipun bagian depan perumahan ini pikuk dengan kendaraan, saya tetap dapat merasa tenang dan damai. rumah yang saya diami berada di bagian belakang kompleks. di seberang rumah, setelah jalan aspal, ada sebuah kolam ikan dan setelahnya menghampar sawah luas dengan latar gunung salak. ketika terbangun di pagi hari, saya biasa mengambil beberapa detik untuk menikmati semua keindahan tadi melalui jendela kamar.

saya selalu menikmati saat-saat ketika saya harus menyusuri pematang sawah sebagai jalan pintas menuju terminal laladon. jika sedang musim menanam, akan terdengar suara melenguh kerbau yang menarik bajak. di saat panen, samar-samar terdengar petani memukul-mukulkan tangkai padi untuk merontokkan bulir-bulirnya. sebenarnya agak takjub juga karena masih bisa menikmati pemandangan rural seperti itu tepat di balik beton-beton kota. tidak banyak yang menyadarinya.

satu atau dua dasawarsa yang lalu mungkin di daerah ini dan sepanjang jalan raya darmaga adalah daerah persawahan. tapi satu per satu, sawah-sawah itu terkonversi menjadi bangunan-bangunan beton. berubah menjadi pabrik dan tempat makan. beberapa yang lain menjadi rumah dan perumahanan. setidaknya saat ini ada dua perumahan baru yang sedang dibangun di daerah darmaga. lahan yang disulap menjadi rumah itu pun rasanya tadinya sebagian besar adalah wilayah persawahan. daerah ini pun kemudian mulai kehilangan cita rasanya sebagai daerah pedesaan, namun belum pantas juga menyandang daerah perkotaan. yang pasti, perubahan sedang terjadi di daerah ini dan persawahan tidak lagi menjadi pemeran utama.

kebutuhan manusia memang bukan hanya pangan. tidak mungkin semua tanah hanya diperuntukkan menjadi sawah dan ladang. seperti halnya pangan, manusia juga masih menempatkan papan sebagai kebutuhan primer. pun sama seperti perumahan-perumahan yang sedang dibangun itu, rumah yang saya huni di perumahan IPB II itu, mungkin sebelumnya adalah sawah. rumah yang dibangun dengan menekuk petakan sawah.

Dilematis…

2009 December 16
by Iqbal

Ubi Madu Cilembu Semakin Menjamur

2009 December 7
by Iqbal

Mungkin memang pemberian dari Tuhan sehingga ubi yang ditanam di tanah Cilembu, Sumedang, menjadi manis seperti madu. Banyak orang yang mencoba menanamnya di luar Cilembu, ternyata hasilnya jauh berbeda dengan ubi Cilembu asli. Para ahli berpendapat bahwa perbedaan ini dikarenakan perbedaan unsur hara di tiap daerah. Cilembu mempunyai kandungan hara yang khas, tidak dimiliki daerah lain.

Saat ini sudah banyak orang yang berjualan ubi Cilembu di sepanjang jalan raya Puncak. ”Padahal waktu itu, sekitar lima tahun yang lalu, belum ada satupun yang berjualan di daerah puncak. Saya yang pertama berjualan di sini,” aku Anto, seorang pedagang ubi Cilembu.

Sebagian ubi yang dia beli langsung dibersihkan lalu dioven selama sekitar dua jam agar siap makan, sebagian lagi dipajang di depan kios. Semakin lama ubi ini didiamkan maka akan semakin manis rasanya. Ubi siap makan dijual dengan harga Rp14.000/kg sedangkan yang belum siap makan dijual Rp8.000/kg. Pembelian minimal sebanyak setengah kilogram. Ia mengaku dapat menjual sampai 5 kuintal dalam 1 minggu. Omzetnya tiap bulan sekitar 20juta. Mungkin nilai menggiurkan ini yang membuat jumlah pedagang ubi Cilembu semakin menjamur. Namun, minyak tanah yang sulit didapat menjadi kendala bagi para penjual ubi Cilembu. Usaha mereka masih sangat bergantung dari minyak tanah untuk memanaskan oven.

Setiap minggu, Anto mendapat supply ubi langsung dari Cilembu. Suppliernya tidak hanya mendistribusikan ubi Cilembu ke daerah puncak dan cikampek saja, tapi sudah banyak juga yang diekspor ke Malaysia dan Cina.

penyelewengan sungai 3: komunitas peduli ciliwung

2009 December 6
by Kebon jahe

ada satu komunitas yang peduli dengan nasib ciliwung. bosan dengan diskusi yang tak kunjung selesai mengenai bagaimana mengatasi ciliwung yang kotor, akhirnya sekumpulan orang ini berinisiatif melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berkata-kata. mereka turun langsung ke ciliwung, memulung.

yah, mereka memulung sampah yang ada di ciliwung dan bantarannya. kegiatan ini rutin dilakukan sekali dalam sepekan. kelompok yang menamakan komunitas peduli ciliwung ini sudah melakukan aksi ini semenjak maret 2009. kegiatannya sederhana saja, mereka mengumpulkan sampah-sampah yang ada, dimasukkan ke dalam karung-karung, kemudian diangkut dengan mobil bak terbuka untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah yang sebenarnya.

saya sendiri sempat ikut memulung di belakang mall jambu dua pada medio april lalu. ternyata tantangannya berat juga. mulai dari rasa jijik sampai bau yang menyengat dipastikan akan menemani prosesi pemulungan. sampah yang dikumpulkan sangat beragam, mulai dari plastik pembungkus makanan sampai bangkai binatang.

iseng saya bertanya pada salah satu relawan yang ikut memulung, “apakah cara ini efektif?” terus terang saya merasa sia-sia saja memulung, karena sampah yang berserakan di bantarannya saja jika diangkut semua pasti lebih dari satu truk sampah besar. ternyata sebenarnya tujuan utama aksi ini memang bukan untuk membersihkan sungai dengan cara singkat, namun untuk menumbuhkan rasa malu kepada warga bantaran sungai untuk membuang sampah ke sungai sementara ada orang entah dari mana rela berjibaku memungut sampah di sungai.

dalam satu hari, biasanya dari pagi sampai siang, bisa terkumpul belasan karung sampah. relawan yang terjun tiap pekannya pun tidak tentu. mulai dari kelompok pecinta alam regina pacis sampai karyawan van melle pernah tercatat berpartisipasi di dalam aksi ini. ada juga relawan perorangan, seperti saya ketika itu.

tertarik untuk berpartisipasi? coba tengok jurnal kegiatan di blog komunitas peduli ciliwung. di sana anda dapat menemukan jadwal kegiatan mulung mereka dan contact person yang dapat dihubungi.

gambar diambil dari http://farm4.static.flickr.com/3430/3369409863_1497642413.jpg

foto diambil dari http://www.flickr.com/photos/37293495@N03/3436995659/in/pool-tjiliwoeng_dreams

Bendera Partai, Nasibmu Kini

2009 December 6
by nonadita

Bendera Partai Siapa Peduli?

Pada masa pemilu lalu, bukan hal yang aneh bila bendera partai-partai mewarnai lingkungan kita. Di pinggir jalan kota sampai ke pelosok-pelosok desa, bendera tertancap di mana-mana. Di atas pohon sampai billboard-billboard besar, di tempat tinggi bendera-bendera terpasang. Seakan sedang berlomba, semakin banyak dan/atau semakin tinggi, semakin puas pendukungnya.

Hari berganti, tapi bendera tak pernah turun lagi. Helaiannya melambai di atas kota, tak kuasa melawan gempuran cuaca. Tak terjangkau dan sendirian. Compang camping dan terlupakan.

Bisa jadi karena kebanggaan pendukungnya melihat sang simbol tetap melambai di ketinggian. Atau memang para pemanjat dibayar sebatas untuk memasang? Tak ada uang, siapa yang rela berepot2 menurunkan? (nonadita)

read more…