

Mungkin memang pemberian dari Tuhan sehingga ubi yang ditanam di tanah Cilembu, Sumedang, menjadi manis seperti madu. Banyak orang yang mencoba menanamnya di luar Cilembu, ternyata hasilnya jauh berbeda dengan ubi Cilembu asli. Para ahli berpendapat bahwa perbedaan ini dikarenakan perbedaan unsur hara di tiap daerah. Cilembu mempunyai kandungan hara yang khas, tidak dimiliki daerah lain.
Saat ini sudah banyak orang yang berjualan ubi Cilembu di sepanjang jalan raya Puncak. ”Padahal waktu itu, sekitar lima tahun yang lalu, belum ada satupun yang berjualan di daerah puncak. Saya yang pertama berjualan di sini,” aku Anto, seorang pedagang ubi Cilembu.
Sebagian ubi yang dia beli langsung dibersihkan lalu dioven selama sekitar dua jam agar siap makan, sebagian lagi dipajang di depan kios. Semakin lama ubi ini didiamkan maka akan semakin manis rasanya. Ubi siap makan dijual dengan harga Rp14.000/kg sedangkan yang belum siap makan dijual Rp8.000/kg. Pembelian minimal sebanyak setengah kilogram. Ia mengaku dapat menjual sampai 5 kuintal dalam 1 minggu. Omzetnya tiap bulan sekitar 20juta. Mungkin nilai menggiurkan ini yang membuat jumlah pedagang ubi Cilembu semakin menjamur. Namun, minyak tanah yang sulit didapat menjadi kendala bagi para penjual ubi Cilembu. Usaha mereka masih sangat bergantung dari minyak tanah untuk memanaskan oven.
Setiap minggu, Anto mendapat supply ubi langsung dari Cilembu. Suppliernya tidak hanya mendistribusikan ubi Cilembu ke daerah puncak dan cikampek saja, tapi sudah banyak juga yang diekspor ke Malaysia dan Cina.
ada satu komunitas yang peduli dengan nasib ciliwung. bosan dengan diskusi yang tak kunjung selesai mengenai bagaimana mengatasi ciliwung yang kotor, akhirnya sekumpulan orang ini berinisiatif melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berkata-kata. mereka turun langsung ke ciliwung, memulung.
yah, mereka memulung sampah yang ada di ciliwung dan bantarannya. kegiatan ini rutin dilakukan sekali dalam sepekan. kelompok yang menamakan komunitas peduli ciliwung ini sudah melakukan aksi ini semenjak maret 2009. kegiatannya sederhana saja, mereka mengumpulkan sampah-sampah yang ada, dimasukkan ke dalam karung-karung, kemudian diangkut dengan mobil bak terbuka untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah yang sebenarnya.
saya sendiri sempat ikut memulung di belakang mall jambu dua pada medio april lalu. ternyata tantangannya berat juga. mulai dari rasa jijik sampai bau yang menyengat dipastikan akan menemani prosesi pemulungan. sampah yang dikumpulkan sangat beragam, mulai dari plastik pembungkus makanan sampai bangkai binatang.
iseng saya bertanya pada salah satu relawan yang ikut memulung, “apakah cara ini efektif?” terus terang saya merasa sia-sia saja memulung, karena sampah yang berserakan di bantarannya saja jika diangkut semua pasti lebih dari satu truk sampah besar. ternyata sebenarnya tujuan utama aksi ini memang bukan untuk membersihkan sungai dengan cara singkat, namun untuk menumbuhkan rasa malu kepada warga bantaran sungai untuk membuang sampah ke sungai sementara ada orang entah dari mana rela berjibaku memungut sampah di sungai.
dalam satu hari, biasanya dari pagi sampai siang, bisa terkumpul belasan karung sampah. relawan yang terjun tiap pekannya pun tidak tentu. mulai dari kelompok pecinta alam regina pacis sampai karyawan van melle pernah tercatat berpartisipasi di dalam aksi ini. ada juga relawan perorangan, seperti saya ketika itu.

tertarik untuk berpartisipasi? coba tengok jurnal kegiatan di blog komunitas peduli ciliwung. di sana anda dapat menemukan jadwal kegiatan mulung mereka dan contact person yang dapat dihubungi.
gambar diambil dari http://farm4.static.flickr.com/3430/3369409863_1497642413.jpg
foto diambil dari http://www.flickr.com/photos/37293495@N03/3436995659/in/pool-tjiliwoeng_dreams
Pada masa pemilu lalu, bukan hal yang aneh bila bendera partai-partai mewarnai lingkungan kita. Di pinggir jalan kota sampai ke pelosok-pelosok desa, bendera tertancap di mana-mana. Di atas pohon sampai billboard-billboard besar, di tempat tinggi bendera-bendera terpasang. Seakan sedang berlomba, semakin banyak dan/atau semakin tinggi, semakin puas pendukungnya.
Hari berganti, tapi bendera tak pernah turun lagi. Helaiannya melambai di atas kota, tak kuasa melawan gempuran cuaca. Tak terjangkau dan sendirian. Compang camping dan terlupakan.
Bisa jadi karena kebanggaan pendukungnya melihat sang simbol tetap melambai di ketinggian. Atau memang para pemanjat dibayar sebatas untuk memasang? Tak ada uang, siapa yang rela berepot2 menurunkan? (nonadita)
Saya sempat tinggal di Asrama Leuser (dekat BBS, Dramaga) selama 2 tahun. Hampir setiap hari, saya melewati kampung/perumahan (entah apa namanya) yang ada di belakang SD Al Ihya untuk kemudian menuju terminal Bubulak.
Jalur tersebut melalui dua sungai. Sugai pertama cukup besar dan dalam. Sungai kedua jauh lebih landai dan dekat dari jalan, lebih mirip got yang lebar. Di sungai kedua ini, kalau masih pagi (sekitar jam 7) sering terlihat Ibu-Ibu yang mencuci baju. Di dekatnya kadang ada anak kecil (mungkin anaknya sendiri) yang buang air besar/kecil ke sungai. Agak menjijikan ya. Tapi ya itu yang saya lihat.
Kalau berangkat agak siang, kadang masih ada Ibu-Ibu yang mencuci baju. Anak-anaknya berubah aktivitas. Mereka berenang di sungai itu sambil tertawa riang bersama kawan-kawannya. Seru sepertinya, tapi kalau ingat paginya digunakan untuk apa sungai itu, hiiii…..
Memang, aliran sungai cukup deras. Saya tidak pernah melihatnya berhenti, apalagi sampai kering. Jadi memang cukup memudahkan untuk mencuci baju. Tapi kan, limbah deterjennya itu loh. Juga kebersihan airnya yang sangat tidak terjamin, apa tidak kuatir dengan kesehatannya? Akan riskan sekali terkena penyakit kulit.
Saya masih bingung apakah kegiatan tersebut sah untuk dilakukan warga, artinya tidak melanggar aturan, baik aturan kesehatan maupun aturan penggunaan sungai. Mungkin agak berlebihan kalau judul yang saya buat menggunakan diksi “penyelewengan”. Tapi bagi saya, sungai tidak untuk mencuci baju, maka paling tidak itu merupakan penyelewengan buat saya, hehe. Yah, tapi kalau alasannya lagi-lagi ketidakmampuan mengakses air bersih, mau bilang apa?
kata orang, akhir tahun adalah saat bagi instansi pemerintahan menghabiskan anggaran. sebab jika tidak habis, kemungkinan besar anggaran untuk instansi tersebut di tahun mendatang akan dipotong. karena proyek yang dibuat kemudian tujuan utamanya hanya untuk menghabiskan anggaran, maka terkadang proyek yang dijalankan terkesan mubazir dan tidak tepat sasaran.
apakah proyek peremajaan pembatas jalan di sepanjang jalan padjadjaran ini termasuk kategori tersebut? sepanjang pengamatan, pembatas jalan yang ada masih baik-baik saja untuk dipertahankan. lantas mengapa harus diganti?
Kota Bogor termasuk kota yang padat, tidak kalah dengan Jakarta. Namun demikian, ada perbedaan besar. Kota Bogor punya sirkulasi air yang jauh lebih baik dari Jakarta. Sungai mengalir lancar. got-got besar dan dalam siap sedia menampung kelebihan air waktu hujan. Walau terkenal sebagai kota hujan, Kota Bogor pada umunya tetap aman dari banjir.
Tapi ada satu hal yang mengganggu saya dengan masalah sirkulasi air itu. Sungai Ciliwung yang ikut membelah Kota Bogor bercabang ke beberapa anak sungai. Salah satu anak sungai tersebut memotong desa babakan yang melintang di belakang kampus Pasca Sarjana IPB Baranang Siang.
Saya pernah tinggal di daerah ini waktu kuliah dulu. Setiap pagi ketika mau berangkat kuliah, saya melewati jembatan kecil untuk menyeberangi salah satu anak sungai. Nah, di situ saya sering mendapatkan pemandangan tak sedap. Banyak sekali warga di bantaran sungai yang membuang sampahnya ke sungai. Mereka membungkus sampahnya dengan kresek lalu membuangnya ke sungai. Tinggal membuka jendela rumahnya, lalu sampah dilemparkan begitu saja.
Beberapa kali juga saya melihat warga sengaja berjalan menuju jembatan untuk membuang sampahnya ke sungai. Sepertinya warga jenis ini punya tempat tinggal yang berjarak dengan sungai sehingga harus berjalan sedikit untuk membuang sampahnya ke sungai.
Kosan yang saya tempati letaknya agak jauh dari sungai. Kami selalu membakar sampah kami lalu menimbunnya dalam tanah. Itu sudah menjadi kebiasaan sebagian warga. Saya pikir tidak masaah kalau seperti itu. Kawan saya yang kosannya pas di bantaran sungai, mengaku selalu membuang sampahnya ke sungai lewat jendela kamarnya.
Entah karena kebiasaan itu atau ada alasan lain, sungai itu mengeluarkan bau yang khas. Bau yang tidak pernah saya cium sebelumnya. Mirip bau tanah ketika hujan tapi ada hawa-hawa anyirnya sedikit.
Sampai sekarang saya tidak tahu persis alasannya. Apakah tidak ada tim kebersihan yang dibentuk untuk menyambangi satu-persatu rumah untuk mengumpulkan sampah lalu dibuang di tempat yang semestinya? Atau jangan-jangan, membuang sampah lewat sungai adalah cara warga babakan untuk mengumpulkan sampah? Jadi, Dinas Kebersihan tinggal menunggu di hilir sungai, mengumpulkan sampah-sampah yang ikut bersama aliran air. Hmm…
Dalam waktu kurang dari sebulan, blog BogorWatch menerima dua penghargaan. Belum lama rasanya dua dari kami maju berada di panggung Pesta Blogger 2009 untuk menerima penghargaan dari XL Blog Award. Penghargaan kedua diterima dari Tim Internet Sehat, blog BogorWatch menerima penghargaan mingguan untuk kategori blog Citizen Journalist.
Dua penghargaan dalam sebulan, ada yang bilang ini pujian. Pujian atas semangat yang kami miliki untuk selalu berbagi, pujian untuk sebuah konsistensi. Orang lain lagi bilang ini ujian. Ujian atas niat kami, ujian untuk kualitas tulisan-tulisan di blog ini.
Pujian dan ujian, keduanya memang terpaut hanya satu huruf. Pun begitu keduanya memiliki makna sungguh berbeda. Kami menerima keduanya, baik pujian, ujian serta tantangan untuk terus berkarya.
Terima kasih (lagi)!
(nonadita, iqbal dan kebon jahe)
Lain ladang memang selalu lain pula belalangnya. Di Boyolali, susu menjadi minuman yang cukup terjangkau dan bukan menjadi barang yang jarang dibeli oleh penduduk desanya. Tapi di Jakarta sebaliknya, harga susu sudah 3 kali lipat karena sudah dikemas dan diberi macam-macam, sehingga lebih sulit dijangkau bagi orang yang sama status ekonominya dengan peminum susu di Boyolali.
McD di Indonesia menjadi tempat kumpul-kumpul bagi kalangan menengah ke atas. Berbalik dengan cerita kawanku di Aussy yang mengatakan hanya orang yang tidak punya uang saja yang makan produk McD.
Minuman teh pun demikian. Di Jawa Barat, teh nyaris sama harganya dengan air putih, jauh lebih rendah stratanya dari susu. Bahkan kalau menjadi tamu di Jawa Barat, hal yang biasa kalau pemilik rumah berkata, “Maaf, Cuma ada teh….” Keadaan jauh berbalik dengan di Inggris. Penduduk Inggris menempatkan minuman teh sebagai minuman yang paling mewah. Bahkan ada beberapa pesta teh yang mereka buat, saking terhormatnya minuman teh. Nilai teh di sana lebih tinggi dari nilai susu. Juga dengan negara-negara pengimpor teh pada umumnya. Jepang dan Cina juga punya ritual khusus untuk minum teh, dengan keramik khusus dan pakaian khusus.
Andai ada bule Inggris yang mampir ke salah satu rumah di pedalaman Bogor, lalu si pemilik rumah dengan malu-malu berkata, “Maaf, Cuma Teh….” Mungkin anggapan mereka akan sama dengan, “Maaf, saya Cuma bisa menyewakan kamar di hotel Salak.”
pemerintah akhirnya mencoba memberi solusi atas kemacetan yang jamak terjadi di sepanjang jalan raya darmaga. sebuah proyek yang dilakukan semenjak medio ramadhan yang lalu akhirnya setengah rampung. proyek tersebut adalah pelebaran ruas jalan raya darmaga.
pelebaran jalan ini bisa dilihat mulai dari depan kawasan IPB Darmaga sampai depan hotel duta berlian yang memang sering menjadi titik kemacetan pada pagi dan petang. meskipun telah dilebarkan, ternyata macet tetap saja hadir. rasanya lebarnya ruas jalan bukanlah permasalahan utama. kedisiplinan sopir, terutama sopir angkot, yang menjadi pangkal masalah kemacetan di jalan raya darmaga.
selain tidak bisa menjawab kemacetan yang acap terjadi, pelebaran jalan juga memakan hak pejalan kaki. ruas tanah kosong yang sedianya untuk pejalan kaki harus terampas untuk disulap menjadi hamparan aspal.

- pejalan kaki: di mana kami harus melangkah?
mungkin sampai kapanpun nanti, pejalan kaki akan selalu menjadi warga negara kelas akhir. setelah harus rela berbagi trotoar dengan pedagang makanan kaki lima dengan tenda yang menyita ruang trotoar, kemudian juga penjajahan trotoar oleh kendaraan bermotor di saat macet, kini mereka harus kehilangan sepenuhnya hak atas trotoar. di mana lagi pejalan kaki harus melangkah? di atas kubangan selokankah? read more…



