BogorWatch

April 24, 2008

Competitiveness (IPB) Dialogue

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 7:36 am

Arrbey, suatu perusahaan yang kerjaannya nge-branding segala macam merk baru, 17 April 2008 kemarin bikin Competitiveness Dialogue, dialog untuk meningkatkan kompetensi UKM2 Indonesia. Ada sekitar 50 orang yang hadir. Tempatnya cukup eksklusif. Kalau tidak salah, nama gedungnya SIC, dekat Go Kart Gatot Subroto. Nara sumbernya ada empat: ketua UKM, Direktur Arrbey, Rektor IPB, satu lagi lupa. Moderatornya Andy Noya.

Setelah masing2 narasumber ngomong, ada sesi tanya jawab. Seorang penanya yang ngaku menjadi dosen IPB ngomong tentang harmonisasi pertanian. Kemudian penanya kedua, komisaris BRI yang ngaku dari angkatan 17 IPB menambahkan bahwa harmonisasi itu harus ada dirijennya. Saya mulai berpikir, buat apa dia bawa2 angkatan? Bawa2 universitas saja saya rasa sudah aneh. Yang lebih gilanya lagi, penanya ketiga, ngaku dari angkatan 15 sambil menyebutkan NRP. Oh my… Sepertinya satu ruangan itu isinya alumni IPB semua.

Menurut saya dan rekan seprofesi, setiap orang membawa masalah baru. Terkesan setiap penanya ingin pamer ilmu yang mereka punya. Jadi, bukan berdialog untuk meningkatkan kompetensi UKM2 Indonesia tapi malah berkompetisi dengan sesama peserta seminar untuk mengangkat angkatannya masing2 (bukan universitas lagi, tapi angkatan). Dan yang lebih disayangkan, tidak ada solusi konkret yang akan dilakukan bersama2 untuk ke depannya. Sepertinya, dialog hari itu hanya sekedar ajang kumpul2 alumni IPB. (IQB)

April 21, 2008

Percayakah Engkau, Kawan?

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 8:42 am
kurang lebih, beginilah keadaan angkot yang ada di Bogor

kurang lebih, beginilah keadaan angkot yang ada di Bogor

Percayakah engkau kawan kalau jumlah angkot 03 (Br.Siang-Bubulak) ada 400? Percayakah engkau kawan kalau jumlah angkot 02 (Sukasari-Bubulak) ada 600? Percayakah engkau kawan kalau jumlah angkot se-Kotamadya Bogor ada 11.400? Gak usah dibayangkan gimana jumlah angkot se-Kabupaten…

Angka2 itu saya dapat dari salah satu supir 03. Awalnya msaih setengah percaya. Tapi setelah dipikir2, buat apa dia bohong?

Sepertinya, supir yang saya tanya2 itu sudah lam mengikuti dunia perangkotan Bogor. Dia juga bercerita tentng anggota DPRD Bogor dulu yang pulang pergi naik motor butut tapi sekarang sudah pakai mobil semua. Menurutnya, itu gara2 duit ”lisensi” angkot. Yaaa…gak bisa langsung dinilai gitu juga sih Pak, kan emang dulu gak ada mobil. Tapi, memang sedikit banyak, duit itu masuk ke legislatif juga.

Sang supir juga sebetulnya sudah merasa jumlah pesaingnya terlalu banyak yang mengakibatkan penurunan pendapatan. Kalau keran lisensi angkot tetap dibuka, mungkin supir ini akan pindah nyupir ke Jakarta. Kejadian ini pernah terjadi. Waktu itu saya ngobrol dengan supir angkot Pejaten, Pasar Minggu. Ternyata dia dulu nyupir di Lw.Liang, Bogor. Dia merasa penghasilannya terus turun akibat terlalu banyak pesaing. Walaupun tiap hari harus bolak-balik Ciawi-Ps.Minggu, tapi dia merasa penghasilannya membaik. Keputusan untuk nyupir di Jakarta membuat penghasilannya naik drastis.

Kalau Bapak2 supir ada yang jenuh nyupir di Bogor, dengan senang hati saya sarankan untuk pindah ke Irian. Di sana angkutan darat sangat kurang. Tapi sebelum nyupir di Irian, kerja rodi bikin jalannya dulu ya Pak. Hehe..Piss Pak…(IQB)

April 17, 2008

Penjatahan Bahan Bakar Minyak Bisa Berhasil di BOGOR

Filed under: kebijakan — Kebon jahe @ 10:35 am
Tags: , , ,

Pemerintah dapat menangkap permasalahan utama yang ada di masyarakat indonesia terkait dengan semakin tingginya harga minyak dunia.Permasalahan kita adalah KITA TERLALU BOROS.

Sebuah solusi kemudian digulirkan oleh pemerintah, yaitu penjatahan penggunaan bahan bakar minyak oleh kendaraan pribadi. Pro dan kontra adalah suatu hal yang biasa ketika sebuah wacana digulirkan. Pers pun meminta pendapat masyarakat umum pengguna kendaraan pribadi. Umumnya masyarakat merasa keberatan dengan solusi macam ini, karena mereka hanya dijatah sebanyak lima liter/hari yang tidak sebanding dengan kebutuhan mereka.

Sebenarnya solusi seperti ini memiliki sisi positif, yaitu dapat membuat masyarakat umum lebih tertarik menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. Tetapi keluhan kemudian muncul lagi. Kendaraan umum yang ada saat ini tidaklah memadai dan tidak cukup nyaman.

Alasan terakhir muncul ke permukaan karena yang dimintai pendapat kebanyakan hanyalah orang-orang di Jakarta yang notabene akses mereka untuk disuarakan pendapatnya amat besar.

Model solusi pemerintah ini sebenernya sangat mungkin diterapkan di BOGOR. Kemacetan kota BOGOR yang sedianya menyalahkan angkutan umum justru dapat dijadikan solusi. Penjatahan bahan bakar minyak pada kendaraan pribadi dapat membuat sebagian orang BOGOR mulai berpikir untuk menggunakan angkutan umum tanpa ada alasan mengeluhkan ketidaknyamanan dan keterbatasan angkutan umum yang ada.

Secara kasar, jika model ini dapat berhasil, maka BOGOR dapat mengambil beberapa keuntungan:

  1. Penggunaan bahan bakar minyak (bensin dan solar) menjadi lebih hemat.
  2. Kendaraan yang berseliweran di jalanan berkurang (terutama kendaraan pribadi), sehingga mengurangi beban jalan.
  3. Semakin sedikit kendaraan di jalan, maka semakin sedikit polusi yang bertebaran di udara BOGOR.
  4. Dapat meningkatkan pendapatan sopir-sopir angkot yang ada di BOGOR.

Gak perlu selalu resist dengan solusi yang dateng dari mulut pemerintah kan? (ara)

April 14, 2008

Gay di Elos

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 8:18 am

28 Feb 08, berniat refreshing, gw mau nonton Jumper di Elos, sekalian mau ngeliat 21 di sini yang baru buka beberapa waktu lalu…

Gw bertiga sama teman satu Asrama. Karena kebelet Buang Air Kecil (BAK), ya ke toilet donk. Toilet yang letaknya dekat mushola Elos. Dua teman gw itu langsung ke mushola buat sholat Magrib. So, sialnya, gw sendirian ke toilet jahanam itu.

Karena emang kebelet, proses BAK itu relatif lama. Tiga detik sebelum proses berjalan, masuk seorang pemuda Cina, tubuh proporsional, umur sekitar 28an. Dia cuma mau ngambil tisu yang ada di sebelah kanan gw, dekat kaca. Itu yang terpikir awalnya. Waktu itu, gw BAK di tempat BAK berdiri di paling ujung kanan. So, dia tepat berdiri di sebelah gw. Gak ada orang lain di toilet itu kecuali gw dan dia.

Sepuluh detik gw rasa bukan waktu yang wajar kalau cuma mau ngambil tisu, apalagi ternyata dia gak make tisu itu. Setelah dia ambil, dia sobek-sobek, terus langsung dibuang. Semakin curiga, muka gw berpaling ke muka dia, tapi muka dia gak menghadap ke tempat tisu, gak menghadap ke muka gw juga. Dia ngeliatin proses BAK gw dari tadi.

Reflek gw nanya sinis, ”Kenapa Mas?” Dia pun menjawab dengan tenang, ”Anj***…macaaaannnnnn…” Sedetik kemudian gw sadar karena dia gay.

Rasa panik melanda, apalagi ditambah dengan proses BAK yang gak beres2. Setelah itu, gw langsung keluar toilet tanpa berani ngeliat ke belakang.

So, berhati-hatilah kalian jejaka2 Bogor yang hendak menuju toilet Elos. Setau gw, orang2 kyk gini kadang2 sampe ngejar2 kita ke rumah. Oh nooo….gak lagi2 deh ke toilet sepi sendirian. (IQB)

April 10, 2008

Komunitas Pekerja Seni feat. Agramas

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 2:29 pm

Bukan suatu hal yg luar biasa kalau penumpang bis antarkota dihibur sama pengamen selama perjalanannya, bukan hal yg luar biasa juga kalo tu pengamen nyindir2 kalo penumpang gak ngasi duit di akhir acara dengan kata2: “Pake pura2 tidur lagi…”, “Gak usah liat jalan Pak, bilang aja gak mo ngasih…”, or “Uda lewat om tukang ngamennya…”, dan kata2 lain yg bikin lo pengen motong kepala si tukang ngamen kalo gak ngasi duit…

Tapi malem itu beda, orang yg menghibur kami2, sang penumpang bis, gak bawa gitar, dia cuma bawa buku lapuk yg cokelat, bukan karena warna kertasnya cokelat, tapi karena kemakan umur…dandanannya gak beda jauh dari pengamen yg biasa manggung di bis: jaket berbahan jins belel, gondrong, kacamata item agak transparan…

Dia ngakunya dari komunitas pekerja seni…awalnya dia minta maaf kalo selama ini pengamen2 or pekerja2 seni udah bikin image negatif ke kita2 semua…abis itu, dia bilang terima kasih ke supir cz udah ngasi kesempatan manggung…yaaahh…standar basa-basi pengamenlah…

Gw masih bingung, atraksi apa yg bakal dia tampilin tanpa gitar…apa dia bakal nyanyi dengan diiringi tepukan tangannya sendiri? Atau baca puisi? Gak sama sekali! Dengan lantangnya dia ngedongeng, sekali lagi…ngedongeng…biar lebih dramatis…NGEDONGENG…gak kepikir sama sekali ada yg ngedongeng di bis antarkota…

Judulnya: Robohnya Surau Kami, karya seorang sastrawan terkenal yg dipublikasikan tahun 50an…samar2 gw inget kalo cerpen ini pernah diwajibin baca waktu SD…inti ceritanya, ada seorang kakek yang bertahun-tahun ngurusin mesjid, do’a+ibadah gila2an tiap hari…trus sang kakek dinasihatin sama seseorang yg bilang kalo orang yg ibadah mulu tapi gak peduli sama kesejahteraan keluarganya bakal dimasukin neraka, ujung2nya si kakek bunuh diri…

Pastinya cerita dari sang pekerja seni gak sesimpel itu, dia berganti2 suara dengan sangat baik, mimik mukanya waktu mengekspresikan sedih+marah juga oke berat, tangannya juga main, suaranya gak sampe teriak tapi bisa kedengeran jelas sampe penumpang di ujung belakang…

Setelah bertahun2 gw naik bis, gak ada atraksi bis sekeren ini…gak berlebihan kalo gw bilang lebih bagus dari pengamen2 Dago yg katanya nyeni abis atau pengamen2 rawa mangun yg suka nampilin musikalisasi puisi di bis kota…

Di akhir atraksi, dengan sopan dia minta maaf kalo udah ngeganggu waktu penumpang trus dia nyodorin topi kupluk (minta duit) ke penumpang mulai dari depan sambil bilang dengan senyum yg lebar, “Yang gak ada gak usah, yang pas2an gak usah dipaksain…” berkali2 sampe ujung belakang…

Penumpang sebelah gw nanya, “Mas, kenapa milih baca cerpen?”

Sang pekerja seni jawab dengan santai, “Karena saya MAHASISWA sastra Pak…” sambil ngebuka lagi senyumannya yg lebar…

Hohoho…trnyata dia mahasiswa, mungkin Pakuan…yg jelas, dia uda cukup naikin image pekerja seni, dengan atraksi yg unik, menghibur, dan sopan, paling nggak di mata gw, atau mungkin di mata2 pembaca sekalian…(IQB)

Rp 200/6″

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 2:22 pm

Bukan…bukan tarif nelfon provider baru…Tapi itu jumlah yg didapet DLLAJ dari retribusi terminal di Baranang Siang (BS)…200 perak tiap 6 detik…

Daripada bengong2 ngeliatin orang2 yg seliweran di terminal, mending gw ngitingin orang yg masuk terminal (sebetulnya dua duanya gak penting sih, hehe)…jadi, setahun belakangan ini semua orang yg masuk terminal BS ditarikin 200 perak, padahal dulu (4 tahun y.l.) waktu gw nginjek Bogor pertama kalinya gak ada tuh retribusi gini…entah maksudnya apa, masih belum tauk…ada yg tauk??

Mungkin awalnya lo berpikir sama kyk gw: buat Negara, buat pembangunan, or…buat benerin jalan…Tapi coba lo ikutin itung2an gw…Angka 200 perak tiap 6 detik gw dapet dari pengamatan langsung…tiap naik bis gw selalu cari posisi yg bisa ngeliat aktivitas orang2 DLLAJ yg narikin retribusi itu, gw nyalain stopwatch HP terus mulai ngitung berapa orang yg nyetor retribusi…pengamatan kecil2an ini berlangsung sampe bis jalan or sampe gw ngantuk, biasanya sampe belasan menit…trus, hasilnya tinggal dibagi deh, jumlah orang yg masuk (@bayar 200) dibagi waktu…nahh, dari beberapa kali pngamatan, diambil rata2, dapetlah angka 200 per 6 detik…

Sabtu-minggu mereka tetep nagih, kalo diitung mereka narikin 10 jam sehari, income per bulan: 36juta…Tapiiii…gak semua orang yg bayar 200 itu minta karcis retribusi, pengamatan gw, kurang dari setengahnya yg minta karcis, kalo gak minta gak akan dikasih…asumsi gw, yg disetor ke bosnya ya sejumlah karcis yg abis aja…so, setoran ke bos tinggal 18juta…

Trus, orang2 DLLAJ yg ngejagain loket + yg ngejagain orang2 biar masuk loket totalnya ada 10 orang…kalo masing2 gajinya 1,5juta, uda abis 15juta…tinggal 3juta dehh…

Sungguh tidak efisien, 10 orang cuma ngasilin 3juta sebulan…(IQB)

April 4, 2008

Dibalik Keindahan Gunung Mas

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 2:49 pm

Beberapa waktu lalu, gw dapet tugas wawancarain pemetik daun teh di Gunung Mas, Puncak, dari majalah tempat gw kerja. Dari Dramaga brangkat jam5, nyampe 7.15. Sulit sekali mencari pemetik daun teh coz ternyata mereka setiap hari ditugasin di kebun yang berbeda2 (Gn.mas luas banget dan punya kavling2 kebun yang banyak banget juga). Satu setengah jam gw jalan gak brenti2 buat nyari mereka. Setelah dapet, gw gak langsung wawancara, tapi foto2 dulu buat dokumentasi. Satu jepretan pertama membuat gw jadi pusat perhatian, mereka minta difoto lagi dan lagi. Sepertinya kamera menjadi barang yang sangat mewah untuk mereka. Sepertinya mereka bangga kalau bisa masuk dalam bidikan kamera gw.

Wawancara dilakukan. Iyam lah yang gw pilih jadi nara sumber. Dia udah 30 tahun kerja di sini, gak ada pilihan kerjaan lain yang dia punya. Umurnya baru 45 tahun tapi udah punya enam cucu, gw ulangi, ENAM CUCU. Hal ini udah biasa banget di sana. Mungkin BKKBN bakal nangis darah kalo main2 ke Gn.mas. Iyam dan semua anaknya cuma mampu sekolah sampai SMP, lulus SMA hanya impian dan duduk di bangku kuliah tidak berani mereka impikan.

Tiap hari, Iyam kerja dari jam 7 sampai jam 3. Dia dan suaminya bisa dapet rata2 25 kg daun teh/hari. Satu kg dihargai 540. So, sehari Iyam dan suaminya dapat 13.500. Kalo hari Minggu, suami Iyam suka jualan mainan anak2 di lapangan deket situ. Bisa dapet 20rb sekali jualan. Jadi kalo ditotal, pendapatan keluarga Iyam gak lebih dari 500rb sebulan. Buat perbandingan aja, pernah ada survey Koran Kampus IPB yang hasilnya adalah rata2 mahasiswa IPB ngabisin 500-600rb sebulan. Itu untuk satu orang loh. Jadi…yaa…pembaca yang budiman bisa ngebayanginlah kehidupan bu Iyam dan 600 pemetik teh lainnya.

Abis beres wawancara, gw makan bubur di kios kecil deket pintu masuk Gn.mas. Sambil makan, gw ajak ngobrol si ibu yang punya warung. Ternyata dia istrinya mantan mandor besar di Gn.mas (bosnya pemetik daun teh disebut mandor, bosnya mandor disebut mandor besar). Dia bilang, gaji mandor besar sekarang 800ribuan sebulan. Jabatan setinggi itu aja gajinya cuma 800rb. Sulit sekali bagi mereka untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Jalan utama keluar dari lingkaran itu adalah lewat pendidikan, tapi akses pendidikan tinggi butuh uang banyak. Mau gak mau mereka balik lagi ke lingkaran setan kemiskinan. Ada yang punya solusi? (IQB)

Blog at WordPress.com.