tanggal 19 sampai 29 mei kemarin, Istana Bogor ngebuka gerbangnya untuk warga Bogor. selama lima tahun saya tinggal di Bogor, terus terang Istana Bogor lebih mirip sesuatu yang gak kesentuh oleh saya, mirip seperti hologram yang berpendar di pusat kota Bogor. tapi persepsi itu tentunya berubah ketika kemudian Istana membuka diri.
saya sebagai salah seorang warga Bogor, agak tergelitik juga untuk ingin tahu apa sebenarnya yang ada di dalam Istana yang megah itu. kunjungan saya lakukan pada tanggal 26 Mei dengan tiket berjadwal 09.30 WIB. tiketnya gratis!!!
peserta kunjungan terlebih dahulu dikumpulkan di halaman parkir DPRD kota Bogor sekitar setengah jam sebelum waktu pemberangkatan. ketika saya sampai di halaman parkir DPRD kota Bogor, alangkah kagetnya saya ketika tahu bahwa ternyata keadaan yang ada lebih mirip Pasar Bogor jam empat pagi! orang berkelompok-kelompok nggak karuan, sampah berserakan enggak karuan, ribut orang-orang yang ngoceh nggak karuan, dan sama sekali nggak ada komando yang jelas untuk pemberangkatan. ampun deh…
apa yang terjadi berikutnya buat saya lebih mirip gerombolan semut. ketika ada satu rombongan yang terlihat bergerak, yang saya lakuin adalah ngikutin langkah mereka tanpa tau instruksi mana yang memberi aba-aba. ternyata, dari halaman parkir ke Istana Bogor ditempuh dengan jalan kaki. kasian juga buat mbah-mbah yang ikutan pengen ngeliat istana, karena dari yang gue liat, lumayan banyak mbah-mbah yang untuk jalan aja udah susah.
peraturan yang ditetapin untuk masuk istana juga agak-agak rese’ buat saya. gak boleh pake kaos, gak boleh pake celana jeans, gak boleh bawa kamera, gak boleh bawa tas. padahal di dalem istana gak ada pejabat siapapun yang nyambut. ngapain juga kudu super duper rapih jali…
semua keluhan itu saya kesampingkan, karena saya berharap dapat menikmati istana, itu ekspektasi utama saya. tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih… gue harus gondok banget dengan tur yang diadain.
istana bogor dibagi ke dalem tiga bagian, sayap kiri, sayap kanan, dan bagian tengah. di masing-masing bagian ada satu guide yang menerangkan beberapa hal mengenai bagian tersebut. sayangnya, penjelasan dari guide ini gak bisa gue nikmatin dengan optimal karena pengunjung yang tiap kloternya nyampe 200 orang lebih (dan kebanyakan adalah anak SMA) ribut banget gak karuan. penjelasan yang dikasih sama guide juga terlampau singkat, cuma berkisar antara 2 sampe 7 menit, dan pengunjung gak bisa masuk ke dalem sayap kanan dan sayap kiri yang merupakan tempat beristirahat untuk tamu yang setingkat presiden dan menteri. pengunjung cuma diperbolehin clingak-clinguk ngeliat dari pintu-pintu besar yang dikasih pager-pageran dan dijaga sama paskibra. bagian gedung yang bisa dimasukin cuma di bagian tengah yang merupakan tempat pertemuan dan konferensi pers kepresidenan.
selain informasi fungsi masing-masing ruangan, informasi laen yang dapat saya cerna cuma bahwa istana bogor pernah direnovasi karena gempa, lantainya marmer dari italia, lampu-lampu dari ceko, dan kursi-kursi dari Jepara. seharusnya bisa lebih banyak informasi yang disampaikan mengenai cerita di balik masing-masing lukisanbasuki abdullah dan patung yang menghiasi tiap sudut Istana. seharusnya juga masih banyak informasi yang bisa saya endapkan di otak seandainya suasana pengunjung tidak seramai dan sepadat itu. suasana kunjungan saya itu lebih mirip demonstrasi anak SMA yang bisa nembus ring I pertahanan Istana Bogor.
terlepas dari segala kekurangan yang terjadi, saya udah cukup puas karena bisa masuk ke Istana Bogor. (Rae Arani)