BogorWatch

May 31, 2008

Masyarakat Bogor Mengalami Kegagalan Berbudaya (Bag. 2: Macet)

Filed under: budaya — bogorwatch @ 11:59 am
Tags: , , ,

macet adalah salah satu masalah yang sering dikeluhkan oleh orang-orang di bogor. saya melihat ada tiga penyebab utama kemacetan di banyak titik kota bogor.

masalah pertama adalah jumlah pertambahan jalan yang tidak sebanding dengan pertambahan kendaraan bermotor. tentunya hal ini akan mengakibatkan kepadatan jalan semakin bertambah dari hari ke hari.

masalah kedua adalah angkutan umum yang terlalu banyak. entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang di PEMDA kota bogor dengan memberi izin trayek begitu banyaknya, tapi yang jelas siapapun paham bahwa angkutan umum di kota bogor memang terlalu banyak. kalau kita lihat di jalanan, akan banyak kita temui angkutan umum yang hanya memiliki dua atau tiga penumpang.

masalah ketiga adalah masalah yang paling utama menurut saya, yaitu kedisiplinan. umumnya kemacetan disebabkan karena saling serobot, memakai badan jalan dari jalur yang berlawanan, memakai bahu jalan, dan angkutan umum yang ngetem seenaknya. sebagian besar biang keladi kemacetan memang sopir angkot, walaupun sebenernya ini juga mendapat katalis berupa masalah kedua yang tadi telah dipaparkan. sopir-sopir angkot ini tau bahwa mereka biang keladi kemacetan adalah mereka sendiri, tapi seperti tidak ada keinginan untuk berubah ke budaya yang lebih baik lagi. sekali lagi kegagalan masyarakat bogor dalam berbudaya. (Rae Arani)

Masyarakat Bogor Mengalami Kegagalan Berbudaya (Bag. 1: Sampah)

Filed under: budaya — Kebon jahe @ 11:57 am
Tags: , , ,

secara fisik, bogor telah berkembang dengan pesat. banyaknya bangunan-bangunan baru yang megah menunjukkan hal tersebut. akan tetapi, hal ini tidak dibarengi dengan pembangunan mental dan budaya orang-orang bogor itu sendiri. beberapa tahun yang lalu, bogor mendapat predikat kota besar terkotor di indonesia. predikat itu emang mengejutkan buat saya, karena faktanya bogor memang jorok. tepat di sebelah pusat perbelanjaan yang megah, modern, dan bersih, seketika itu juga kita dapat melihat pemandangan kontras yang jorok, seolah-olah diantara kedua tempat itu adalah perbatasan dari dua daerah yang sama sekali berbeda peraturan dan gaya hidupnya.

masalah sampah juga telah menjadi beban bagi sungai-sungai yang ada di bogor. kalau kita naik angkot 03 dan melintasi jalan antara lapangan sempur dan kebun raya bogor, kita akan melihat betapa banyaknya sampah yang tersangkut di saringan sampah beton yang dibangun di kali ciliwung yang membelah kebun raya. sekali waktu teman saya pernah iseng bertanya kepada seorang ibu rumah tangga di daerah bogor selatan yang membuang samah ke sungai cisadane. jawaban itu itu sederhana aja,”alah, aernya deres koq. nggak bakal banjir kalo deres begini mah.” saya nggak tau pengetahuan macem apa yang ibu itu anut, tapi hal itu udah ngebuktiin kalo banyak masyarakat bogor yang telah gagal berbudaya.

kalo anda punya waktu senggang, coba perhatiin tingkah laku penumpang-penumpang kendaraan yang bergerak lamban di sekitar jembatan merah. selalu aja ada orang yang nyangka bahwa jalanan adalah tempat sampah yang membentang dan tak berujung. yang ngebuang sampah bukan cuma mbok-mbok yang pulang dari pasar anyar sambil asik makan rambutan, atau anak-anak SMP yang udah selesai makan chiki-chikiannya, tapi juga dari mobil-mobil pribadi yang nyalain AC. ada dua alesan kenapa mobil-mobil ber-AC itu ngebuka sedikit jendelanya. alesan pertama adalah untuk ngacih recehan ke pengemis dan pengamen dan alesan kedua adalah untuk ngebuang sampah. rendahnya kesadaran untuk lingkungan yang bersih bukan cuma penyakit buat orang yang pendidikannya rendah atau yang kualitas ekonominya menengah ke bawah, tapi juga jadi masalah untuk mereka yang udah mapan dan terdidik. (Rae Arani)

Open House Istana Bogor 2008

Filed under: pariwisata — Kebon jahe @ 11:41 am
Tags: , ,

tanggal 19 sampai 29 mei kemarin, Istana Bogor ngebuka gerbangnya untuk warga Bogor. selama lima tahun saya tinggal di Bogor, terus terang Istana Bogor lebih mirip sesuatu yang gak kesentuh oleh saya, mirip seperti hologram yang berpendar di pusat kota Bogor. tapi persepsi itu tentunya berubah ketika kemudian Istana membuka diri.

saya sebagai salah seorang warga Bogor, agak tergelitik juga untuk ingin tahu apa sebenarnya yang ada di dalam Istana yang megah itu. kunjungan saya lakukan pada tanggal 26 Mei dengan tiket berjadwal 09.30 WIB. tiketnya gratis!!!

peserta kunjungan terlebih dahulu dikumpulkan di halaman parkir DPRD kota Bogor sekitar setengah jam sebelum waktu pemberangkatan. ketika saya sampai di halaman parkir DPRD kota Bogor, alangkah kagetnya saya ketika tahu bahwa ternyata keadaan yang ada lebih mirip Pasar Bogor jam empat pagi! orang berkelompok-kelompok nggak karuan, sampah berserakan enggak karuan, ribut orang-orang yang ngoceh nggak karuan, dan sama sekali nggak ada komando yang jelas untuk pemberangkatan. ampun deh…

apa yang terjadi berikutnya buat saya lebih mirip gerombolan semut. ketika ada satu rombongan yang terlihat bergerak, yang saya lakuin adalah ngikutin langkah mereka tanpa tau instruksi mana yang memberi aba-aba. ternyata, dari halaman parkir ke Istana Bogor ditempuh dengan jalan kaki. kasian juga buat mbah-mbah yang ikutan pengen ngeliat istana, karena dari yang gue liat, lumayan banyak mbah-mbah yang untuk jalan aja udah susah.

peraturan yang ditetapin untuk masuk istana juga agak-agak rese’ buat saya. gak boleh pake kaos, gak boleh pake celana jeans, gak boleh bawa kamera, gak boleh bawa tas. padahal di dalem istana gak ada pejabat siapapun yang nyambut. ngapain juga kudu super duper rapih jali…

semua keluhan itu saya kesampingkan, karena saya berharap dapat menikmati istana, itu ekspektasi utama saya. tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih… gue harus gondok banget dengan tur yang diadain.

istana bogor dibagi ke dalem tiga bagian, sayap kiri, sayap kanan, dan bagian tengah. di masing-masing bagian ada satu guide yang menerangkan beberapa hal mengenai bagian tersebut. sayangnya, penjelasan dari guide ini gak bisa gue nikmatin dengan optimal karena pengunjung yang tiap kloternya nyampe 200 orang lebih (dan kebanyakan adalah anak SMA) ribut banget gak karuan. penjelasan yang dikasih sama guide juga terlampau singkat, cuma berkisar antara 2 sampe 7 menit, dan pengunjung gak bisa masuk ke dalem sayap kanan dan sayap kiri yang merupakan tempat beristirahat untuk tamu yang setingkat presiden dan menteri. pengunjung cuma diperbolehin clingak-clinguk ngeliat dari pintu-pintu besar yang dikasih pager-pageran dan dijaga sama paskibra. bagian gedung yang bisa dimasukin cuma di bagian tengah yang merupakan tempat pertemuan dan konferensi pers kepresidenan.

selain informasi fungsi masing-masing ruangan, informasi laen yang dapat saya cerna cuma bahwa istana bogor pernah direnovasi karena gempa, lantainya marmer dari italia, lampu-lampu dari ceko, dan kursi-kursi dari Jepara. seharusnya bisa lebih banyak informasi yang disampaikan mengenai cerita di balik masing-masing lukisanbasuki abdullah dan patung yang menghiasi tiap sudut Istana. seharusnya juga masih banyak informasi yang bisa saya endapkan di otak seandainya suasana pengunjung tidak seramai dan sepadat itu. suasana kunjungan saya itu lebih mirip demonstrasi anak SMA yang bisa nembus ring I pertahanan Istana Bogor.

terlepas dari segala kekurangan yang terjadi, saya udah cukup puas karena bisa masuk ke Istana Bogor. (Rae Arani)

May 15, 2008

Seragam SMA Jaman Sekarang

Filed under: Uncategorized — nonadita @ 9:43 am

Beginilah bila sekolah tidak tegas dalam hal penggunaan seragam sekolah murid-muridnya. Murid-murid mendapat kebebasan memodifikasi seragam sedemikian rupa sehingga muncullah anak-anak SMA dengan baju ngetat di sana-sini, udel yang melambai kemana-mana, hingga celana sekolah yang sedemikian sempit bawahnya sehingga (pastinya) menyulitkan pengguna ketika sakit perut dan ingin segera nongkrong di toilet.

Pernahkah hal terakhir ini terpikirkan oleh pemakai seragam sekolah ini? D’oohhh!! (nonadita)

Blog at WordPress.com.