“Punteeen Bapak Ibuuu…Saya seorang tuna netra, mohon sedekahnya…”
Itu kalimat yang terus-menerus dikatakan seorang Bapak umuran 50 tahun sepanjang jalannya dari bagian depan bus sampai belakang. Bapak ini berjalan dengan tergopoh-gopoh, menggunakan tongkat. Beberapa kali saya melihat dia bersama anaknya yang baru berumur sekitar 10 tahun.
Bapak ini selalu stand by di terminal Baranang Siang. Kalau bis sudah hampir penuh, dia bersiap untuk melakukan pekerjaannya: “Punteeen Bapak Ibuuu…Saya seorang tuna netra, mohon sedekahnya…”
Memang tidak ada yang aneh dengan itu. Banyak peminta-minta yang seperti itu. Tapi yang cukup aneh, suatu pagi saya ingat betul Bapak ini berubah profesi menjadi calo yang dengan lantangnya berteriak, “UKI Cawang UKI Cawang….” Lah, sehat betul Bapak itu, pikir saya. Tidak ada yang berbeda dari orang normal kecuali matanya yang memang terlihat kurang berfungsi dengan baik. Tapi beberapa hari kemudian Bapak ini bekerja sebagai peminta-minta lagi. Besok dan besoknya lagi.
Saya jadi ingat tentang salah satu tamu di Kick Andy yang sudah tidak mempunyai kaki lagi (Sugeng Siswoyudono). Sugeng pernah katakan bahwa dia sangat kesal dengan peminta-minta di jalanan itu. Dia yakin bahwa pasti ada jalan kalau mau bekerja. Ya, mungkin memang kita sebagai manusia normal yang tidak terlahir dalam kondisi cacat mudah saja berpikir seperti itu. Belum tentu ketika kita dihadapkan dalam posisi yang sama akan berhasil tidak menjadi peminta-minta.
Saya juga tidak tahu arah tulisan saya ke mana. Tapi balik ke cerita tadi. Saya cuma ingin berbagi cerita saja bahwa tidak semua pengemis itu perlu dikasihani (IQB).