BogorWatch

August 21, 2008

“Kita juga belum makan..”

Filed under: Kemiskinan — nonadita @ 11:29 am
Tags: , , , ,
Anak Kecil di Pasar De Vries Bogor

Anak Kecil di Pasar De Vries Bogor

Pada suatu sore di Pasar De Vries, Jembatan Merah, Bogor. Dua orang anak bermain sepeda roda tiga. Seekor kucing kecil terdiam lemas di keranjang belakang sepeda mereka.

Saya     : Kucing siapa itu, dik?
Dia       : Kucing kita, kucing piaraan.
Saya     : Duh, lemes amat itu kucingnya. Udah dikasih makan belum?
Dia       : Belum. Kita juga belum makan dari pagi. Kalo makan, kucingnya kita kasih juga…
(………….) speechless

(nonadita)

August 6, 2008

Demi 500 Perak

Filed under: Fasilitas Umum — Kebon jahe @ 7:54 pm
Tags: , , ,

Kenapa kita kadang begitu kejam dengan sopir angkot? Dari Taman Topi ke BTM cuma bayar 2000, jarak pendek di sekitar kampus IPB Darmaga cuma bayar 1000, dari depan Hotel Salak ke Taman Kencana cuma bayar 1500. Padahal dengan keadaan harga BBM saat ini, tarif segitu bener-bener ngebuat posisi sopir terjepit.

Desakan ekonomi gak cuma dirasain sama kita. Sadar nggak sih kita kalo sopir-sopir angkot itu juga ngerasain penderitaan yang sama dengan kita. Harga BBM yang naek, diikutin dengan harga barang-barang yang laen. Sadar gak sih kalo sopir-sopir itu kebanyakan adalah bukan orang yang berkecukupan. terus kenapa untuk sekedar nambahin 500 rupiah aja susahnya minta ampun?

Kadang-kadang untuk ngasih 500 rupiah ke anak kecil tukang ngamen yang cuma modal tepok tangan dan suara ngegumam aja kita gak pake pikir panjang, tapi untuk sopir angkot yang minta harga sesuai tarif kenapa kita harus ngotot-ngtotan? Kenapa untuk mereka yang mau bekerja keras demi ngedapetin nafkah yang halal kita harus jadi pelit banget? (Rae Arani)

August 4, 2008

Tidak Semua Pengemis Perlu Dikasihani

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 5:06 am

“Punteeen Bapak Ibuuu…Saya seorang tuna netra, mohon sedekahnya…”

Itu kalimat yang terus-menerus dikatakan seorang Bapak umuran 50 tahun sepanjang jalannya dari bagian depan bus sampai belakang. Bapak ini berjalan dengan tergopoh-gopoh, menggunakan tongkat. Beberapa kali saya melihat dia bersama anaknya yang baru berumur sekitar 10 tahun.

Bapak ini selalu stand by di terminal Baranang Siang. Kalau bis sudah hampir penuh, dia bersiap untuk melakukan pekerjaannya: “Punteeen Bapak Ibuuu…Saya seorang tuna netra, mohon sedekahnya…”

Memang tidak ada yang aneh dengan itu. Banyak peminta-minta yang seperti itu. Tapi yang cukup aneh, suatu pagi saya ingat betul Bapak ini berubah profesi menjadi calo yang dengan lantangnya berteriak, “UKI Cawang UKI Cawang….” Lah, sehat betul Bapak itu, pikir saya. Tidak ada yang berbeda dari orang normal kecuali matanya yang memang terlihat kurang berfungsi dengan baik. Tapi beberapa hari kemudian Bapak ini bekerja sebagai peminta-minta lagi. Besok dan besoknya lagi.

Saya jadi ingat tentang salah satu tamu di Kick Andy yang sudah tidak mempunyai kaki lagi (Sugeng Siswoyudono). Sugeng pernah katakan bahwa dia sangat kesal dengan peminta-minta di jalanan itu. Dia yakin bahwa pasti ada jalan kalau mau bekerja. Ya, mungkin memang kita sebagai manusia normal yang tidak terlahir dalam kondisi cacat mudah saja berpikir seperti itu. Belum tentu ketika kita dihadapkan dalam posisi yang sama akan berhasil tidak menjadi peminta-minta.

Saya juga tidak tahu arah tulisan saya ke mana. Tapi balik ke cerita tadi. Saya cuma ingin berbagi cerita saja bahwa tidak semua pengemis itu perlu dikasihani (IQB).

August 1, 2008

Pernah Dengar Front Pribumi?

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 5:49 pm
spanduk yang ditempel front pribumi selalu mengarah ke tugu kujang

spanduk yang ditempel front pribumi selalu mengarah ke tugu kujang

Tengkorak hitam dengan latar belakang dua buah tulang yang saling bersilangan dan sayap berwarna merah. Itulah lambang perkumpulan yang menamakan dirinya Front Pribumi di Bogor. Awalnya saya pikir ini memang gerakan pure dari orang-orang bawah (tukang becak, preman, pengamen, dll). Itu karena sekitar dua tahun yang lalu saya melihat orang-orang bawah tersebut banyak yang memakai kaos Front Pribumi. Bahkan dulu sempat terpikir untuk ikut gerakan ini karena kelihatannya memang bagus, pergerakan akar rumput.

Tetapi, beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang penjaga bengkel di Malabar. Dia katakan bahwa Front Pribumi itu kerjaannya Ki Gendeng pamungkas, seorang warga biasa yang rumahnya terletak di daerah babakan. Menurut cerita dari sang penjaga bengkel, Pak Gendeng orang yang kaya dan royal dalam memberikan uangnya kepada rakyat bawah. “Kalau parkir dekat sini, dia sering ngasih 10 ribu untuk uang parkir,” aku sang penjaga bengkel. “Beliau sering membuat acara di daerah rumahnya. Nggak jarang kami dapat ini itu: TV, kulkas, malah motor,” katanya. Apa kira-kira tujuannya ya?

Front Pribumi tidak pernah absen dalam mengisi tembok depan kampus IPB Baranang Siang dengan spanduk yang bertuliskan kata-kata yang bisa dibilang cukup frontal. Intinya, yang saya tangkap, mereka putus asa dengan demokrasi di Indonesia. Mereka mengajak untuk tidak percaya pada parpol apapun. Tapi, bergerak tanpa parpol di Indonesia? Apa bisa? (IQB)

Blog at WordPress.com.