BogorWatch

September 22, 2008

Under Pass Soleh Iskandar(?)

Filed under: Fasilitas Umum — bogorwatch @ 5:22 pm
ini bukan under pass soleh iskandar...ngarep!

ini bukan under pass soleh iskandar...ngarep!

Gimana ya kabarnya underpass yg di bawah rel kereta api itu ya?

Sudah beberapa bulan ini saya lewat situ tapi kalo diliat2 itu belum jadi 100% tapi udah boleh lewat, ada yang tau?

Sedikit komentar tentang underpass itu: iya sih emang ngurangin macet di daerah rel situ, tapi kalo diitung2 lg, waktu yang dihabiskan untuk menempuh bulak-br.siang sebelum dan sesudah adanya underpass itu sama aja tuh…macetnya jadi pindah dari pertigaan parung sampe bina insani, macet gak separah di rel dulu tp jarak macetnya lebih panjang…

Sedikit Cerita Tentang Pengamen Stasiun

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 9:11 am
copet di stasiun takut sama pengamen lohh...

copet di stasiun takut sama pengamen lohh...

Pemandangan yang sudah biasa ketika alunan-alunan berbagai genre music bertalu-talu di dalam kereta, di pinggiran rel, di pojokan stasiun, dan tempat-tempat lain di sekitar stasiun. Ya, mereka adalah seniman-seniman jalanan yang biasa menghibur kita di stasiun. Ada yang menggunakan gitar sebagai instrument, keyboard, cello (bentuknya seperti gitar, jauh lebih besar, disender ke lantai), ada juga yang bermodalkan accu sebagai sumber energy gitar dan bass listriknya.

Di satu waktu, saya mendapat kesempatan berbincang dengan salah seorang dari mereka, remaja seumuran SMA, dengan gitar yang selalu dibangga-banggakannya. Dia bercerita tentang keanggotaan dan gap antar pengamen. Ternyata tidak sembarang orang boleh mengamen di stasiun, ada mekanisme registrasi dari manajemen AKA yang harus diikuti. Setelah registrasi, mereka baru boleh keluar masuk stasiun dengan bebas.

Di antara para pengamen, ada semacam strata dan aturan tak tertulis. Ada istilah pengamen senior dan pengamen junior, tentunya ditentukan dari berapa lama ia sudah mengamen dan seberapa bagus permainannya. Aturan tak tertulisnya adalah: sesame pengamen dilarang mendahului, kalau di satu gerbong sedang ada yang mengamen, maka pengamen lain dilarang masuk. Mungkin ini yang menyebabkan tidak pernah terlihat adanya keributan antarpengamen. Mereka solid. Senior dan junior saling hormat. Persaingan mereka sehat.

Ada satu hal yang signifikan berubah ketika banyak pengamen di dalam stasiun, yaitu tidak adanya copet yang berani beraksi. Kalau keadaan di dalam kereta ketika sedang berjalan, itu karena tidak ada pengamen saja. Copet takut dengan pengamen. Mungkin copet dan pengamen sama-sama dari daerah urban, tapi mereka berbeda.

September 19, 2008

Bioskop Menjamur di Bogor

Filed under: budaya — bogorwatch @ 1:41 pm
semakin tampak saja cengkraman kapitalis

semakin tampak saja cengkraman kapitalis

Tahun 2004, ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di Bogor, saya Cuma diberi dua pilihan tempat untuk menonton bioskop: Galaxy dan Dewi Sartika.

Seiring berjalannya waktu, berdirilah BTM dan Botani Square. BTM mengambil keputusan menjual 21, kemudian disusul Ekalos, dan baru-baru ini, Botani juga muncul dengan XXI nya. Jadi, saat ini ada lima pilihan tempat untuk nonton bioskop.

Ada cerita lucu di XXI Botani. Beberapa hari setelah dibukanya XXI, saya dan teman nonton bareng di Botani, sepi sekali, mungkin karena hari kerja. Dari 180 seat, tidak lebih dari 30 seat saja yang terisi. Ketika sedang asik-asiknya nonton, ada bunyi-bunyian aneh, entah apa itu, tapi sepertinya pembangunan Botani bagian belakang. Haha. Baru kali ini saya nonton bioskop dengan gangguan suara dari luar gedung. Turun sudah harkat dan martabat XXI Botani.

Pak Ogah Impor

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 1:40 pm
loh, mana pak ogahnya?

loh, mana pak ogahnya?

Kalau kita berjalan dari arah kampus IPB Dramaga ke arah Bubulak, lewat jalan Raya Dramaga, tentunya kita akan melewati pertigaan Caringin. Tepat di pertigaan itu, selalu ada Pak Ogah yang mengatur kendaraan yang lewat. Salah satu dari Pak Ogah itu ada yang sangat saya kenali karena kekhasannya.

Secara fisik, dia tinggi, hitam, gondrong, perawakannya mirip orang India-Bangladesh. Selain unik secara fisik, dia bekerja mengatur jalan dengan cara yang unik juga. Saya sulit menggambarkannya, tapi yang jelas gerakan-gerakannya beda dari yang lain, bisa dibilang mirip penari balet. Mungkin satu waktu nanti saya bisa mengambil gambarnya dan berbincang dengannya.

September 16, 2008

Bulan Puasa Pengemis Meningkat

Filed under: Kemiskinan — bogorwatch @ 12:27 pm
bulan puasa merupakan ladang emas bagi pengemis

bulan puasa merupakan ladang emas bagi pengemis

12 September 2008, pukul 16.00, saya berjalan melintasi jembatan penyeberangan yang menghubungkan gedung Himpunan Alumni IPB dengan Ngesti, banyak sekali pengemis yang ada sepanjang jembatan. Setelah melintasi jembatan, saya berhenti sejenak. Saya hitung berapa jumlah mereka, TIGA BELAS! Jadi, dari naik tangga, melintasi jembatan, sampai turun tangga, ada 13 pengemis. Itupun belum menghitung anak-anak mereka.

Yang lebih disayangkan, hamper semuanya adalah wanita sehat. Sebetulnya mereka bisa bekerja, tapi entah mengapa mereka mengemis. Apa mereka ini yang disebut pengemis musiman? Pengemis yang hanya ada ketika puasa? Karena biasanya, hanya ada sekitar 5 orang saja mengemis.

Seorang teman pernah mengirim sebuah tulisan tentang pendapatan pengemis. Mereka bisa mengumpulkan 1,5 juta/bulan, tidak jarang lebih dari itu. Mungkin angka itu yang menimbulkan pengemis musiman semakin menjamur, apalagi momennya tepat sekali, ramadhan, momen di mana muslim lebih banyak bersedekah dari biasanya.

Blog at WordPress.com.