BogorWatch

November 19, 2008

Bogor menurut Sopir Taksi

Filed under: Fasilitas Umum — Admin @ 9:30 am
Tags: , , , ,

Minggu ini, saya kebagian masuk kerja sore. Berangkat dari Bogor menggunakan KRL sekitar jam 13.45. Mulai masuk kerja jam 15.30-24.00 *ndak penting*

Pulangnya, karena kantor menganggap kami adalah makhluk langka dan aset yang berharga, kami diberi fasilitas taksi BB grup. Diantar sampai rumah? Pasti donk.

Nah, kebetulan rekan setaksi saya tinggal di daerah Jakarta, jadilah saya ke Bogor berduaan doank (ya sama pak sopirnya). Selanjutnya pak sopir = PS.

Selama perjalanan yang kira-kira 1 jam itu (jam 00-01) saya dan PS ngobrol kesana kemari. Ujung-ujungnya, biasanya, PS selalu nanya, koq masih tinggal di Bogor … padahal gak punya rumah di Bogor. Saya jawab aja karena nyaman.

PS rupanya punya persepsi tentang Bogor. Karena PS-nya tiap malem beda-beda, rata-rata mereka bilang gini : Bogor = adem, gak panas, sering hujan, murah, suasananya enak .. dst …

Wah, kalo saya pikir … dah jauh banget. Bogor adem cuman di daerah tertentu saja. Gimana menurut teman-teman? (Luthfi)

November 7, 2008

Dia HANYA Ingin Uang !

Filed under: Kemiskinan — bogorwatch @ 11:07 am
Tags: ,

Ketika sedang berjalan dari Pakuan ke arah Botani, sayup-sayup saya mendengar ada panggilan dari belakang. Saya sengaja cuek sampai panggilan itu datang lagi. Saya menengok ke belakang. Sosok Bapak menjelang tua berpakaian compang-camping. Dia membawa semacam karung, entah apa isinya. Perawakannya persis seperti buruh petani yang habis bertani.

Dia meminta uang kepada saya. “Saya lapar….” katanya dengan sopan. Berdasarkan pengalaman2 sebelumnya, saya menghindari orang-orang bermental pengemis. Makanya saya langsung tanggap mengajaknya makan di salah satu kios soto di sebelah Damri. Awalnya dia menolak dengan berkilah,”Tapi saya juga kehabisan ongkos.” Saya jawab, “Tadi katanya bapak lapar?”

Akhirnya dia ikut juga. Setelah soto dipesan dan sudah dihidangkan di meja, saya pamit ke Bapak ini karena ada hal mendesak lain. Dia merokok tanpa terlalu mempedulikan saya. Semangkuk soto dan sepiring nasi masih indah tersaji di meja.

Beberapa hari kemudian, saya mampir ke kios soto itu lagi. Pesan soto ayam, persis seperti yang saya pesan ke Bapak itu. Ketika ingin bayar, sang Ibu pemilik kios menolak. Dia bercerita tentang soto yang saya belikan untuk Bapak itu. “Soto itu dibuangnya. Setelah saya ambil dan saya sajikan lagi tetap dibuangnya,” katanya. Ibu kios ini menolak saya bayar karena dia pikir soto yang saya berikan ke Bapak itu tidak dimakannya padahal saya sudah membayarnya waktu itu. Agar impas mungkin pikirnya.

Geram sekali saya mendengar cerita seperti itu. Berarti Bapak itu hanya ingin uang! Lapar hanya dijadikannya dalih semata. Mungkin satu saat nanti kalau ada kejadian seperti ini lagi, saya akan temani orang itu sampai dia selesai menyantap makanan yang dia minta. (IQBAL)

Blog at WordPress.com.