BogorWatch

January 27, 2009

Preman di Pintu Masuk Gunung Bunder

Filed under: Fasilitas Umum, budaya, pariwisata — Iqbal @ 1:15 pm
Tags: , ,

Gunung Bunder adalah salah satu target wisata di Bogor yang cukup digandrungi. Hawanya sejuk, lebih sejuk dari Puncak, apalagi ketika kabut sedang turun. Selain rimbunnya hutan, kita juga dapat menikmati air terjun. Ada beberapa air terjun di Gunung Bunder. Tidak sulit menemukan vila di kawasan ini jika kita ingin bermalam.

Butuh waktu hampir dua jam dengan motor untuk mencapai Gunung Bunder dari Bubulak. Sebelum masuk kawasan, kita akan melewati pintu gerbang yang cukup gagah. Beberapa orang akan menghampiri kita dan meminta uang untuk karcis masuk.

Ketika itu, saya dengan teman saya berempat dengan dua motor. Seseorang menghampiri kami, lalu menghitung jumlah kami dan kendaraan kami. Dia langsung meminta uang sebesar 20 ribu untuk dua motor dan empat orang. Orang yang meminta itu berpakaian seperti penduduk biasa saja. Tidak berseragam.

Saya sudah siap memberikan uang tersebut, tapi saya memintanya untuk memberikan karcis sebagai tanda bukti bahwa kami telah membayarnya. Bukan karcis yang saya dapat, malah nada bicara dari orang itu yang menjadi ketus. “Udah bayar aja 20 ribu, daripada harus muter lagi (lewat pintu yang satu lagi, jauh sekali jaraknya),” katanya. Tidak nyaman dengan kalimat tersebut, saya tetap bertahan untuk meminta karcis. Ia semakin ketus sambil memegang motor yang kami kendarai. Ketka itu, ada beberapa orang tak berseragam yang ada di tempat itu dan memperhatikan kejadian itu, tapi semua diam seribu bahasa. Sepertinya mereka adalah penduduk sekitar.

Melihat suasana memanas, dua orang yang sudah sejak tadi ada di tempat itu dengan sigap mengenakan seragam lalu menghampiri kami dengan membawa karcis yang saya minta. Kami menang. Ternyata biaya untuk 4 orang dan 2 motor hanya 14 ribu. Kami bayar lalu dengan cepat kami melaju masuk kawasan wisata itu. Orang yang ketus tadi menatap kami tidak senang.

Dua orang berseragam tadi sepertinya memang orang yang berwenang di kawasan itu. Hanya berwenang, tidak berkuasa. Sepertinya yang berkuasa adalah orang ketus dan teman-temannya itu. Mirip preman bagi saya. Preman masih berkuasa di pintu masuk Gunung Bunder. Mereka meminta uang untuk dirinya, bukan untuk perawatan kawasan wisata. Mengecewakan.

January 19, 2009

Lapangan Basket Sempur Milik Siapa?

Filed under: Fasilitas Umum — Iqbal @ 6:12 pm
Tags: ,

Dua tahun yang lalu, ketika tinggal di daerah Baranang Siang, saya sempat menggilai basket. Hampir setiap hari saya bermain basket. Kadang di Bogor Baru. Kadang di lapangan sekolah Malabar. Tidak jarang juga saya bermain di lapangan Sempur. Kadang pagi, kadang sore.

Waktu paling enak untuk bermain di lapangan sempur adalah pagi hari karena jarang sekali ada orang yang bermain di pagi hari. Lapangan serasa milik sendiri. Terkadang beberapa anak umuran SMP ikut bermain di pagi hari. Entah tidak sekolah entah sekolahnya siang, tapi saya yakin mereka anak-anak yang tinggal di daerah Sempur.

Kontras keadaannya ketika sore hari. Lapangan basket penuh sampai Maghrib. Bahkan, kalau weekend, tidak hanya sampai maghrib, tapi bisa sampai tengah malam.

Penggila basket di daerah Bogor kota memadati lapangan basket di sore hari. Anak sekolah ada. Anak daerah Sempur banyak. Orang dewasa umuran 20-30 juga mudah didapatkan.

Kepadatan mulai terlihat sejak sekitar pukul 4 sore. Biasanya yang main baru anak-anak daerah sempur dan anak-anak sekolah. Mendekati pukul 5 sore, lapangan semakin ramai. Kali ini yang datang kebanyakan adalah orang-orang dewasa.

Saya pernah sekali waktu sedang asik bermain, tiba-tiba orang-orang dewasa itu, bagi saya, terkesan mengusir kami yang sedang main. Mereka langsung membagi tim kemudian tanpa babibu langsung bermain di lapangan itu. Memang, menurut etika pemakaian lapangan yang saya pahami, ketika ada yang mau bermain di satu lapangan penuh itu sah-sah saja. Namun, harus dengan mengajak seluruh anak yang sedang main ketika itu, walaupun hanya basa-basi.

Itu tidak dilakukan oleh mereka. Secara tiba-tiba, mereka sudah mencoba memasukkan bola ke dalam keranjang yang sedang saya dan teman-teman saya gunakan, pertanda mereka sudah memulai permainan mereka. Kami langsung minggir dan menghentikan permainan dengan sendirinya.

Okelah, memang saya akui skill permainan mereka jauh di atas kami yang sedang main waktu itu. Ritme permainan mereka tinggi. Saya pribadi senang melihat permainan orang dengan ritme tinggi seperti itu, tapi tetap dengan hati dongkol karena dengan seenaknya mereka menguasai satu lapangan.

Mungkin ada yang punya informasi tentang hak pakai lapangan tersebut? Kalau memang ternyata mereka adalah Tim Basket Bogor dan mereka memang diberi jatah main oleh Pemkot setiap sore ya berarti saya yang salah. Tapi kalau tidak, sepertinya mereka harus mengubah tingkah mereka tersebut.

January 13, 2009

jembatan subway kosong

Filed under: Uncategorized — Iqbal @ 8:50 am

lorong bawah tanah di dekat tugu kujang

lorong bawah tanah di dekat tugu kujang

Ada yang tahu jembatan bawah tanah yang selalu ditutup di dekat tugu kujang? Kebetulan sekali ketika saya lewat, tempat itu dibuka.

Saya orang satu-satunya yang lewat tempat itu pada saat itu. Kondisinya cukup terawat. Sepertinya subway ini bagus untuk membuat tertib para penyeberang.

Satu hal yang mungkin menjadi alasan pemkot lebih sering menutup subway ini, yaitu banyak yang kencing di tempat ini. Ah, payah !

jagalah kebersihan !

jagalah kebersihan !

Blog at WordPress.com.