Gunung Bunder adalah salah satu target wisata di Bogor yang cukup digandrungi. Hawanya sejuk, lebih sejuk dari Puncak, apalagi ketika kabut sedang turun. Selain rimbunnya hutan, kita juga dapat menikmati air terjun. Ada beberapa air terjun di Gunung Bunder. Tidak sulit menemukan vila di kawasan ini jika kita ingin bermalam.
Butuh waktu hampir dua jam dengan motor untuk mencapai Gunung Bunder dari Bubulak. Sebelum masuk kawasan, kita akan melewati pintu gerbang yang cukup gagah. Beberapa orang akan menghampiri kita dan meminta uang untuk karcis masuk.
Ketika itu, saya dengan teman saya berempat dengan dua motor. Seseorang menghampiri kami, lalu menghitung jumlah kami dan kendaraan kami. Dia langsung meminta uang sebesar 20 ribu untuk dua motor dan empat orang. Orang yang meminta itu berpakaian seperti penduduk biasa saja. Tidak berseragam.
Saya sudah siap memberikan uang tersebut, tapi saya memintanya untuk memberikan karcis sebagai tanda bukti bahwa kami telah membayarnya. Bukan karcis yang saya dapat, malah nada bicara dari orang itu yang menjadi ketus. “Udah bayar aja 20 ribu, daripada harus muter lagi (lewat pintu yang satu lagi, jauh sekali jaraknya),” katanya. Tidak nyaman dengan kalimat tersebut, saya tetap bertahan untuk meminta karcis. Ia semakin ketus sambil memegang motor yang kami kendarai. Ketka itu, ada beberapa orang tak berseragam yang ada di tempat itu dan memperhatikan kejadian itu, tapi semua diam seribu bahasa. Sepertinya mereka adalah penduduk sekitar.
Melihat suasana memanas, dua orang yang sudah sejak tadi ada di tempat itu dengan sigap mengenakan seragam lalu menghampiri kami dengan membawa karcis yang saya minta. Kami menang. Ternyata biaya untuk 4 orang dan 2 motor hanya 14 ribu. Kami bayar lalu dengan cepat kami melaju masuk kawasan wisata itu. Orang yang ketus tadi menatap kami tidak senang.
Dua orang berseragam tadi sepertinya memang orang yang berwenang di kawasan itu. Hanya berwenang, tidak berkuasa. Sepertinya yang berkuasa adalah orang ketus dan teman-temannya itu. Mirip preman bagi saya. Preman masih berkuasa di pintu masuk Gunung Bunder. Mereka meminta uang untuk dirinya, bukan untuk perawatan kawasan wisata. Mengecewakan.



sungguh menyedihkan .. semoga orang itu sadar, karena tindakannya dapat merugikan citra bogor …
Comment by iman - i love bogor — January 27, 2009 @ 1:51 pm |
kerjaan baru buat polisi di situ
Comment by ikhsan — January 28, 2009 @ 11:06 am |
dimana gunung bunder teh ?
Comment by d4nk — January 28, 2009 @ 5:31 pm |
gunung bunder jauhnya naujubillah….
tapi tempatnya enak sih…
cuma masalahnya emang di penduduk lokalnya yang suka usil…
Comment by Kebon jahe — February 3, 2009 @ 1:17 pm |
Saya sudah 17 tahun beli tanah di gunung bunder dan saya paham lika-liku, tingkah laku orang sana tapi dengan kedekatan dan bergaul dengan segala macam orang disana dari orang2 yang dituakan, lurah, prokem, jagoan2, bekas rampok, bekas maling akhirnya saya hidup disana terbilang nyaman. Siapa saja yang lagi kesasar disana silahkan mampir di saung saya di Kampung Rawa desa Gunung Bunder 2.
Gunung Bunder memang indah.
Comment by Bambang Isriyanto — March 11, 2009 @ 10:10 am |
ah urangmah hente da???pan lembur urang etamah jdi tinggal asup weh te kudu bayar tinggal ngomong orang babakan hehe he aya aya wae nyah nak bogor barat i love gunung bunder1
Comment by Deni irawan — March 11, 2009 @ 10:21 am |
.. Emang Preman dimana2 ada. Preman ada karena ada ketidakpuasan jatah isi perut dan isi hati. Buat preman yang ada di Gunung Bunder.., Kalo macem2 berih aja.., Doi bukan orang situ asli.., cuma jual tampang N nyali doang!!! Doi jual kita Beli…,Baru preman Gunung Bunder yang keliatan ujung giginya.., preman Gunung Salak yang ga` keliatan aja diLawan…,Semuanya preman Kampung..,jagoan kampung..,
Comment by putra — March 11, 2009 @ 4:13 pm |
Kejadian seperti ini yang membuat bogor menjadi kurang nyaman di kunjungi.
banyak preman & punglinya. terutama di tempat2 wisatan.
yang bakal rugi, mereka2 juga warga sekitar.
Comment by ibnu — August 1, 2009 @ 12:47 pm |