entah bagaimana dengan anda. tapi beberapa hari ini saya merasa amat damai. hujan yang tidak kunjung berhenti mungkin memang membuat kesal sebagian orang. jemuran yang tak kunjung kering, dagangan yang sepi pembeli, janji yang harus dijadwal ulang. tapi untuk saya suasana yang ada sangat sempurna untuk bekerja.
siang tadi pekerjaan saya selesai, dan saya memutuskan untuk keluar dari rutinitas dan menikmati kota bogor yang basah. ketika sampai di daerah sempur, tepat di atas sungai ciliwung, tiba-tiba saya teringat kejadian 14 tahun yang lalu. saat pertama kalinya saya melintasi jalan itu. suasananya persis sama. hujan lebat, jalanan yang tidak padat, memberi nuansa hangat di tengah dinginnya udara.
saya sadar, bahwa 14 tahun yang lalu, ternyata saya telah jatuh cinta pada bogor. inilah bogor yang saya sukai. tidak peduli orang yang terus mengomel karena hujan tak kunjung reda, tapi saya suka bogor ketika hujan.
bogor ketika hujan siang tadi ternyata membawa wajah bogor 14 tahun yang lalu ke permukaan. ketika angkot tidak merajai jalanan. bogor ketika hujan siang tadi seakan berusaha meyakinkan kembali kepada saya kenapa bogor disebut sebagai kota hujan. tidak heran orang-orang belanda jaman dulu membuat bogor sebagai tempat peristirahatan. sebelum orang – orang pribumi membuat bogor menjadi pikuk dan mengungsikan tempat peristirahatan itu sedikit ke atas lagi, ke puncak.


