BogorWatch

February 6, 2009

bogor ketika hujan

Filed under: Uncategorized — Kebon jahe @ 9:00 pm
Tags: ,

entah bagaimana dengan anda. tapi beberapa hari ini saya merasa amat damai. hujan yang tidak kunjung berhenti mungkin memang membuat kesal sebagian orang. jemuran yang tak kunjung kering, dagangan yang sepi pembeli, janji yang harus dijadwal ulang. tapi untuk saya suasana yang ada sangat sempurna untuk bekerja.

siang tadi pekerjaan saya selesai, dan saya memutuskan untuk keluar dari rutinitas dan menikmati kota bogor yang basah. ketika sampai di daerah sempur, tepat di atas sungai ciliwung, tiba-tiba saya teringat kejadian 14 tahun yang lalu. saat pertama kalinya saya melintasi jalan itu. suasananya persis sama. hujan lebat, jalanan yang tidak padat, memberi nuansa hangat di tengah dinginnya udara.

saya sadar, bahwa 14 tahun yang lalu, ternyata saya telah jatuh cinta pada bogor. inilah bogor yang saya sukai. tidak peduli orang yang terus mengomel karena hujan tak kunjung reda, tapi saya suka bogor ketika hujan.

bogor ketika hujan siang tadi ternyata membawa wajah bogor 14 tahun yang lalu ke permukaan. ketika angkot tidak merajai jalanan. bogor ketika hujan siang tadi seakan berusaha meyakinkan kembali kepada saya kenapa bogor disebut sebagai kota hujan. tidak heran orang-orang belanda jaman dulu membuat bogor sebagai tempat peristirahatan. sebelum orang – orang pribumi membuat bogor menjadi pikuk dan mengungsikan tempat peristirahatan itu sedikit ke atas lagi, ke puncak.

18 Comments »

  1. Suatu hari, waktu itu hujan tanpa henti sudah masuk ke hari ke-sekian… aku menelpon teman-temanku di kota lain, dan mulai mengeluh tentang hujan tanpa henti di bogor.
    Teman-temanku cuma bilang “namanya juga kota hujan, des….kok mengeluh sih??”
    ……..(speechless)………………

    Comment by desty — February 7, 2009 @ 8:15 am | Reply

  2. 14 tahun yg lalu udah jualan sayur re?? =p

    Comment by sagoeleuser5 — February 9, 2009 @ 2:48 am | Reply

  3. Itulah salah satu indahnya bogor. Di hujannya.
    Jadi inget, dulu waktu SMA (di Bogor) pernah gw pulang sekolah keujanan, baju basah kuyup, rambut lepek, tas udah berasa handuk basah, eh pas nyampe rumah (di Depok) gak taunya di rumah tuh kering kerontang, gak ujan sama skali. Yang ada gw diledekin ma tukang2 ojek..
    “De, nyebur di mana??”
    Hahaha.. Jadi nostalgila.

    Comment by Danar si Sappii — February 11, 2009 @ 10:26 am | Reply

  4. Bogor memang indah … masalahnya apakah keindahan dan kenyamanannya betul2 sama dengan tahun2 lalu?? Gimana dengan kondisi The Historical Ciliwung and Cisadane di Bogor? Bukankah sekarang sudah penuh sampah dan tepiannya dirusak oleh bangunan2? Kayanya orang Bogor perlu berbuat lebih deh. Untuk mengembalikan Bogor jadi tempat yang sejuk, nyaman dan indah (gak cuman pas habis hujan).

    Comment by Moes Jum — February 12, 2009 @ 9:51 pm | Reply

  5. bogor seperti dahulu 14 tahun, keren tuuh…apalagi bogor setelah Thomas Cartenz selesai membangun bogor (1800-an), tapi apakah cukup dengan mengharapkan bogor seperti dahulu (hanya dikepala???)..memang sekedar posting dan mengingatkan sudah cukup untuk membuka mata dan telinga..kalau saya dahulu pertama kali di bogor, sekitar tahun 1984-an dari jam 5 pagi hingga jam 7, masih bisa dijumpai asap kabut menyelimuti bogor, sekarang (2009) dimana lagi kecuali di daerah puncak..mudah-mudahan itu bukan salah satu indikator jelek,,atau hanya pengamatan saya saja yang jelek??? eeeem ngapain ya sebaiknya setelah ada di kepala, apa yang bisa dilakukan dengan tenaga…yaa???

    Comment by agungpsiko — February 12, 2009 @ 11:57 pm | Reply

  6. ga salah lagi, bogor kota hujan.

    Comment by spotbs — February 17, 2009 @ 8:25 pm | Reply

  7. ada enaknya ada nggaknya, tapi harus disyukuri lah.. yang jelas kudu bawa payung tiap hari, kalo nggak repot banget jadinya.. kadang kalo lupa bawa, terpaksa beli lagi deh.. romantika kota hujan, hehe..

    Comment by azkaa,, — February 18, 2009 @ 9:02 pm | Reply

  8. Terutama hujan pagi yang (justru) membuat semangat membuncah dan sepertinya jejer payung didepan kelas merupakan pemandangan pagi biasa di setiap sekolah

    *Memungut kenangan di Kota Hujan*

    Comment by Redy Satria — February 19, 2009 @ 2:10 am | Reply

  9. i loafs bogor :)

    Comment by ichay — February 19, 2009 @ 3:40 pm | Reply

  10. Bogor kota hujan dan kota yang membesarkanku dengan segala intriknya… :D

    Comment by idotkontji — March 6, 2009 @ 9:36 pm | Reply

  11. gw setuju sm pikiran lo itu

    Comment by me — March 7, 2009 @ 8:55 pm | Reply

  12. Ahh, Bogor dan Hujan sudah bagaikan sahabat.
    Tapi sekarang Bogor makin bersahabat dengan macet!

    Comment by jakarta kota — March 9, 2009 @ 10:38 pm | Reply

  13. kalau nggak hujan namanya bukan bogor :)

    Comment by ikhsan — March 14, 2009 @ 1:01 pm | Reply

  14. Karena Bogor kota hujan, sejak jaman Belanda hingga th 70/80-an masih bisa ditemukan sebagian besar gang-gang di perkampungan dibuat jalan beton selebar 50 cm, kemudian di kiri-kanannya ditanam batu kali selebar 30 cm, baru setelah itu ada selokan. Jadi kalau hujan tidak pernah banjir atau ada genangan air karena air segera meresap ke dalam tanah. Sekarang umumnya gang full dibeton shg air semuanya lari ke sungai, sedikit yg meresap ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah.

    Comment by iwantea — May 23, 2009 @ 10:37 pm | Reply

    • Pantaun yang pas…benar itu Kang Iwan…bebatuan di kiri kanan gang beton yag banyak di kota Bogor ..bukan semata ketidaksanggupan government saat itu membuat jalan beton lebar….tapi punya fungsi resapan yang terukur…bagus khan…

      Comment by Abah Sjam — November 4, 2009 @ 7:58 am | Reply

  15. siape tuh cewek namanya yg bogor katanya bersahabat dgn macet blh kenalan ga n boleh mnt no hp nya ga? trims

    Comment by ANTO — October 10, 2009 @ 11:29 pm | Reply

  16. Hujan Bogor menumbuhkan kerinduan yang tidak kunjung reda…. he he eh (makanya tinggal di Bogor terus nih, dengan kesejukannya yang membuat rindu juga akan tidur malam)

    Kata Hendrawan Nadesul,Dr mah : Ciliwung Cisadane yang terlunta lunta mengalir ke utara….dan hiasan lumut pada bangunan tua …

    Comment by Abah Sjam — November 4, 2009 @ 8:03 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.