BogorWatch

November 24, 2009

Maaf, Cuma Teh…

Filed under: budaya — Iqbal @ 1:35 pm
Tags:

Lain ladang memang selalu lain pula belalangnya. Di Boyolali, susu menjadi minuman yang cukup terjangkau dan bukan menjadi barang yang jarang dibeli oleh penduduk desanya. Tapi di Jakarta sebaliknya, harga susu sudah 3 kali lipat karena sudah dikemas dan diberi macam-macam, sehingga lebih sulit dijangkau bagi orang yang sama status ekonominya dengan peminum susu di Boyolali.

McD di Indonesia menjadi tempat kumpul-kumpul bagi kalangan menengah ke atas. Berbalik dengan cerita kawanku di Aussy yang mengatakan hanya orang yang tidak punya uang saja yang makan produk McD.

Minuman teh pun demikian. Di Jawa Barat, teh nyaris sama harganya dengan air putih, jauh lebih rendah stratanya dari susu. Bahkan kalau menjadi tamu di Jawa Barat, hal yang biasa kalau pemilik rumah berkata, “Maaf, Cuma ada teh….” Keadaan jauh berbalik dengan di Inggris. Penduduk Inggris menempatkan minuman teh sebagai minuman yang paling mewah. Bahkan ada beberapa pesta teh yang mereka buat, saking terhormatnya minuman teh. Nilai teh di sana lebih tinggi dari nilai susu. Juga dengan negara-negara pengimpor teh pada umumnya. Jepang dan Cina juga punya ritual khusus untuk minum teh, dengan keramik khusus dan pakaian khusus.

Andai ada bule Inggris yang mampir ke salah satu rumah di pedalaman Bogor, lalu si pemilik rumah dengan malu-malu berkata, “Maaf, Cuma Teh….” Mungkin anggapan mereka akan sama dengan, “Maaf, saya Cuma bisa menyewakan kamar di hotel Salak.”

November 12, 2009

di mana kami harus melangkahkan kaki?

Filed under: Fasilitas Umum — Kebon jahe @ 9:35 pm

pemerintah akhirnya mencoba memberi solusi atas kemacetan yang jamak terjadi di sepanjang jalan raya darmaga. sebuah proyek yang dilakukan semenjak medio ramadhan yang lalu akhirnya setengah rampung. proyek tersebut adalah pelebaran ruas jalan raya darmaga.

pelebaran jalan ini bisa dilihat mulai dari depan kawasan IPB Darmaga sampai depan hotel duta berlian yang memang sering menjadi titik kemacetan pada pagi dan petang. meskipun telah dilebarkan, ternyata macet tetap saja hadir. rasanya lebarnya ruas jalan bukanlah permasalahan utama. kedisiplinan sopir, terutama sopir angkot, yang menjadi pangkal masalah kemacetan di jalan raya darmaga.

selain tidak bisa menjawab kemacetan yang acap terjadi, pelebaran jalan juga memakan hak pejalan kaki. ruas tanah kosong yang sedianya untuk pejalan kaki harus terampas untuk disulap menjadi hamparan aspal.

pejalan kaki
pejalan kaki: di mana kami harus melangkah?

mungkin sampai kapanpun nanti, pejalan kaki akan selalu menjadi warga negara kelas akhir. setelah harus rela berbagi trotoar dengan pedagang makanan kaki lima dengan tenda yang menyita ruang trotoar, kemudian juga penjajahan trotoar oleh kendaraan bermotor di saat macet, kini mereka harus kehilangan sepenuhnya hak atas trotoar. di mana lagi pejalan kaki harus melangkah? di atas kubangan selokankah? (more…)

November 10, 2009

Kenapa Berputar?

Filed under: Fasilitas Umum — Iqbal @ 3:38 pm
Tags: ,

Empat tahun yang lalu, sepertinya di ujung tol Baranang Siang tidak ada pengalihan arus kendaraan dari arah Kujang menuju Tajur. Beberapa tahun ini saja diberlakukan aturan tersebut. Juga di Jalan Raya Dramaga dari arah kampus IPB menuju Bubulak.

Kalau diasumsikan jarak berputar di ujung tol itu 100 meter x 2 (bolak-balik), maka 200 meter sia-sia buat si pengendara. Jika harga bensin subsidi Rp4.500/liter dan konversi bensin ke jarak yaitu 1 liter untuk 50 kilometer (untuk motor), maka dalam satu kali pemutaran, pengendara motor seperti membuang Rp18.

Kalau dalam 1 menit ada 50 motor yang lewat, maka dalam 1 hari (dihitung arus kendaraan aktif 15 jam) uang yang dibuang sia-sia untuk bensin karena jalan diputar adalah sebesar Rp81 ribu atau setara dengan 18 liter bensin subsidi. Dari asumsi-asumsi di atas, kesimpulannya, dengan diputarnya jalan di ujung tol Baranang Siang maka dampaknya dalam 1 hari terbuang uang sia-sia sebesar Rp81 ribu dan bensin menguap mencemari udara sebanyak 18 liter.

Hitung-hitungan di atas adalah dampak minimal, karena tidak menghitung variable uang negara untuk mensubsidi bensin dan waktu serta tenaga yang dikeluarkan ketika melewati 200 meter jalan sia-sia tersebut.

Kalau diputarnya jalan tersebut sudah berlangsung 3 tahun, berarti uang yang sudah terbuang sebesar Rp88.695.000 dan bensin yang sudah menguap sia-sia mencemari udara sebanyak 19.710 liter bensin.

Pastinya ada alasan kuat dari Pemkot atau siapapun yang mengatur dibelokkannya arus kendaraan itu, menghindari kemacetan mungkin. Tapi kok lama betul ya diputarnya? Sampai bertahun-tahun. Seorang dosen saya pernah memberikan solusi, dengan dibuatnya by pass seperti yang ada di jalan baru. “Itu investasi besar yang bisa mengenyahkan masalah-masalah di atas,” katanya. Apalagi mengingat ke depannya arus kendaraan akan semakin padat seiring bertambahnya penduduk.

Mungkin yang menjadi alasan Pemkot adalah tiadanya dana untuk merealisasikan hal tersebut. Tapi apa iya ? Jangan-jangan malah pemutaran jalan tersebut tidak terpikir efek sia-sianya. Baru akan terpikir lagi kalau arus kendaraan sudah menimbulkan kemacetan lagi walaupun sudah diputar. Semoga tidak.

November 1, 2009

Terima Kasih atas Dukungan untuk BogorWatch!

Filed under: Kompetisi Blog — nonadita @ 6:40 pm
Tags: , , ,

Ya, TERIMA KASIH!

Atas dukungan suara anda, atas do’a anda, atas masukan dan kritik, dan atas kesediaan anda untuk kembali lagi membaca tulisan-tulisan dalam BogorWatch.

 

Pada ajang XL Blog Award Pesta Blogger 2009 yang lalu, blog ini terpilih sebagai Blog Kategori Sosial dan Politik Terbaik. Kami bangga bisa menerima penghargaan tersebut, tentu menjadi pemicu semangat kami untuk terus menuliskan tentang Bogor. Mudah-mudahan kami dapat terus berkarya menyajikan tulisan yang berkualitas tentu untuk Bogor tercinta. (nonadita, iqbal dan kebon jahe)

Sumber gambar: Blog Mahadaya

Blog at WordPress.com.