Empat tahun yang lalu, sepertinya di ujung tol Baranang Siang tidak ada pengalihan arus kendaraan dari arah Kujang menuju Tajur. Beberapa tahun ini saja diberlakukan aturan tersebut. Juga di Jalan Raya Dramaga dari arah kampus IPB menuju Bubulak.
Kalau diasumsikan jarak berputar di ujung tol itu 100 meter x 2 (bolak-balik), maka 200 meter sia-sia buat si pengendara. Jika harga bensin subsidi Rp4.500/liter dan konversi bensin ke jarak yaitu 1 liter untuk 50 kilometer (untuk motor), maka dalam satu kali pemutaran, pengendara motor seperti membuang Rp18.
Kalau dalam 1 menit ada 50 motor yang lewat, maka dalam 1 hari (dihitung arus kendaraan aktif 15 jam) uang yang dibuang sia-sia untuk bensin karena jalan diputar adalah sebesar Rp81 ribu atau setara dengan 18 liter bensin subsidi. Dari asumsi-asumsi di atas, kesimpulannya, dengan diputarnya jalan di ujung tol Baranang Siang maka dampaknya dalam 1 hari terbuang uang sia-sia sebesar Rp81 ribu dan bensin menguap mencemari udara sebanyak 18 liter.
Hitung-hitungan di atas adalah dampak minimal, karena tidak menghitung variable uang negara untuk mensubsidi bensin dan waktu serta tenaga yang dikeluarkan ketika melewati 200 meter jalan sia-sia tersebut.
Kalau diputarnya jalan tersebut sudah berlangsung 3 tahun, berarti uang yang sudah terbuang sebesar Rp88.695.000 dan bensin yang sudah menguap sia-sia mencemari udara sebanyak 19.710 liter bensin.
Pastinya ada alasan kuat dari Pemkot atau siapapun yang mengatur dibelokkannya arus kendaraan itu, menghindari kemacetan mungkin. Tapi kok lama betul ya diputarnya? Sampai bertahun-tahun. Seorang dosen saya pernah memberikan solusi, dengan dibuatnya by pass seperti yang ada di jalan baru. “Itu investasi besar yang bisa mengenyahkan masalah-masalah di atas,” katanya. Apalagi mengingat ke depannya arus kendaraan akan semakin padat seiring bertambahnya penduduk.
Mungkin yang menjadi alasan Pemkot adalah tiadanya dana untuk merealisasikan hal tersebut. Tapi apa iya ? Jangan-jangan malah pemutaran jalan tersebut tidak terpikir efek sia-sianya. Baru akan terpikir lagi kalau arus kendaraan sudah menimbulkan kemacetan lagi walaupun sudah diputar. Semoga tidak.



[PERTAMAX]
Kebiasaan di kita kan selalu ada kebijakan ‘untuk sementara’… Padahal realisasinya jadi ’semtahun’.. bertahun-tahun…
Semoga Pembkot Bogor makin bijak menerapkan aturan untuk kenyamanan kita, warga Bogor.
Comment by asepsaiba — November 11, 2009 @ 12:29 am |
hitung2annya keliatan bombastis, khas laporan praktikum anak Agb nih..
.. tapi, tolong jg dianalisis (biar berimbang) berapa duit yg kebuang krn bensin yg menguap dan ekses kemacetan luar biasa dari depan plaza pangrango sampe depan terminal br.siang, kalo teknik lampu merah ke arah tajur diterapkan.. yg gue rasa sih, teknik berputar ini sangat membantu memecah arus macet yg sporadis itu
Comment by Hatt — November 13, 2009 @ 5:42 am |
setuju sama komen diatas. harus diliat incremental benefit+cost nya. jangan cuma dari sisi cost aja.
Comment by numpang liwat — November 13, 2009 @ 10:54 pm |
@ asepsaiba: iya, emang byk yg begitu…
@ hatt: hihiii… bukan anak agb kok… iya, memang gak berimbang bgt tulisannya, cuma lg pengen ngamuk2 aja…=p
Comment by Iqbal — November 15, 2009 @ 12:46 pm |