Mampir ke Gedung 1 Abad

by: eP

Tampak depan Gedung Planologi Kementerian Kehutanan, pintu gerbang bergeser dari desain aslinya. Pada malam hari, gerbang ini tertutup oleh pedagang yang menggelar lapak sayuran.

Gedung Direktorat Jenderal Planologi Kementerian Kehutanan, yang terletak di Jln. Juanda No. 100 (persis di seberang pintu utama Kebun Raya Bogor), adalah salah satu bangunan peninggalan Belanda. Tahun ini, usianya menginjak satu abad (1912-2012). Bangunan peninggalan Belanda lainnya yang seusia adalah gedung yang juga diokupasi oleh Kementerian Kehutanan, yaitu Gedung Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Sebuah relief yang menandakan tahun berdirinya gedung ini.

Gedung ini berbentuk huruf “O” dengan areal kosong di tengahnya. Plaza di tengahnya kini dimanfaatkan untuk lahan parkir.

Salah satu hal yang menarik dari gedung ini adalah hadirnya beragam gambar relief yang menggambarkan kegiatan di hutan. Mulai dari relief flora dan fauna yang ada di hutan, sampai kegiatan pengolahan hasil hutan. Semua tertuang dalam relief-relief di dinding gedung.

Sebuah relief di sisi tangga menggambarkan seorang juru ukur di masa lalu, lengkap dengan alat ukurnya.

Sebuah relief yang menggambarkan kehidupan di hutan More

Cerita dari Panggung Kecil

Sekitar pukul tujuh malam sepeda motor saya sampai di pelataran parkir sebuah cafe di sekitar Taman Kencana. Dari flyer yang saya baca, acara dimulai pukul lima sore. “Telat dua jam gak rugi-rugi amat,” pikir saya.

Benar saja, setelah membeli tiket dan mendapat cap di punggung tangan, saya mendapati ruang cafe masih terlampau sepi. tidak sampai 30 orang di dalam. Itupun tidak semuanya penonton, sebagiannya adalah pengisi acara yang sudah atau menunggu giliran tampil. Di panggung, sebuah band, yang semua personelnya adalah laki-laki, dengan memakai wardrobe perempuan baru saja merampungkan lagu terakhirnya.

Saya masih enggan maju ke bibir panggung kecil di ruangan itu. Saya memilih menikmati penampilan band-band pembuka ini dari sudut belakang ruangan. Di beberapa meja mulai berserakan botol bir kosong. Ruangan yang tidak dilengkapi dengan saluran udara yang baik itu mulai penuh dengan asap rokok sehingga memnbuat suasana mulai gerah.

Band-band pembuka naik satu per satu ke panggung. Ajang seperti ini memang sangat tepat untuk melatih kemampuan manggung sebuah band. Di acara seperti ini mereka bisa belajar mengakbrabkan diri dengan kehadiran penonton. Namanya juga band amatir, seringkali suara vokalis jauh tenggelam ditelan letupan drum yang gak karuan. Asal keras. Grogi juga bisa dilihat dari beberapa pemain gitar yang lebih memilih bersembunyi menghadap ke amplifier dan membelakangi penonton.

Pukul sembilan malam. Penonton pun mulai ramai. Line up utama mulai naik. Cukup terlihat perbedaannya, band-band yang masuk ke dalam line up ini lebih well prepared. Secara musikalitas pun lebih baik, lebih terasa harmonis. Di saat inilah saya dan kebanyakan penonton mulai terpancing maju ke depan. Mosh pit kecil-kecilan, body slam, bahkan beberapa dive-in dilakukan penonton.

Mereka yang masuk ke dalam line up utama ini pun dulunya pasti pernah mengalami masa-masa menjadi band canggung seperti para pembukanya. Senang sekali rasanya ketika mereka sudah sukses dan sudah manggung di berbagai pelosok negeri, bahkan keluar negeri, mereka tetap sangat mendukung scene-scene lokal yang telah membesarkan mereka.

panggung kecil yang hanya mampu menampung set drum dan beberapa amplifier membuat pemain lain berada satu level dengan penonton. Menjadikan gig-gig seperti ini menjadi sebuah dialog, ketimbang monolog. Jauh berbeda dengan konser band-band papan atas kebanyakan yang memberi sekat begitu lebar antara penonton dan yang tampil.

Video oleh Gilang Purnama

Agenda Eksternal Istana Bogor: Memberi Makan Rusa

Resminya, tidak terlalu banyak interaksi antara Istana Bogor dengan warga Bogor. Paling-paling hanya acara tahunan Open House menyambut Hari Ulang Tahun Kota Bogor. Lebihnya, hampir bisa dibilang tidak ada.

Untung saja, Istana Bogor tidak lantas jadi jumawa (atau paranoid?) dengan memberi pengamanan ekstra ketat di sekeliling pagarnya. Kalau tidak, “Siang Seberang Istana” milik Iwan Fals bisa menjadi kritik telak, mengingat di sekeliling Istana Bogor memang masih banyak orang-orang dengan kualitas hidup rendah.

Keberadaan rusa-rusa totol di halaman Istana ternyata masih bisa dinikmati oleh warga Bogor dengan leluasa, meskipun masih harus terpisahkan pagar besi tinggi. Rekreasi di trotoar sepanjang Istana Bogor menjadi alternatif wisata yang murah meriah. Lihat saja aktivitas tepi jalan Juanda ini di hari-hari libur, pikuk dengan pelancong. Apalagi setiap minggu sekarang diberlakukan “Car Free Day” di jalan menuju lapangan Sempur. Sehingga warga Bogor tumpah ruah di titik ini untuk beragam aktivitas. Tidak hanya warga sekitar sebenarnya, sesekali bule-bule pun terlihat di antara kerumunan ini.

Entah siapa yang mencetuskan. Mungkin awalnya para pelancong ini hanya ingin berfoto bersama rusa. Lama-kelamaan, meningkat dengan elus-elus rusa yang kebetulan tidak canggung berinteraksi dengan manusia di sisi pagar. Sampai akhirnya acara “Memberi Makan Rusa” bisa menjadi penantang terberat “Jalan-Jalan di Kebun Raya”. Tidak perlu bingung mau memberi makan apa ke rusa-rusa tersebut. Pedagang wortel dan kangkung siap menjajakan dagangannya sebagai pakan. Satu ikat wortel atau kangkung hanya Rp 1.000,00 – 2.000,00. Bahkan sampai-sampai karena antusiasme pengunjung yang begitu tinggi, antar pengunjung harus berebut untuk menyuapi rusa-rusa yang ada. Maklum, tidak semua rusa berani dekat-dekat dengan manusia sehingga hanya beberapa saja yang mau merapat ke pagar. Beberapa pengunjung yang frustasi akhirnya melempar kangkung dan wortel ke kerumunan rusa yang posisinya jauh dari pagar.

Tidak ada salahnya jika kegiatan “Memberi Makan Rusa” ini ditawarkan kepada rekan atau keluarga yang kebetulan sedang berkunjung ke Bogor. Apalagi jika sudah merasa jenuh mencari tas di Tajur atau merasa buntu keluar masuk Factory Outlet di sepanjang Jalan Pajajaran. Mungkin suatu hari kelak, akan ada istilah “Belum Afdhol ke Bogor Kalau Belum Memberi Makan Rusa Istana Bogor”.

Waktunya Belanja

Agaknya salah satu cara menerjemahkan “Kota Jasa” seperti yang dicita-citakan Bogor adalah dengan memperbanyak tempat perniagaan. Mulai dari pasar tradisional dengan tradisi puluhan tahunnya, sentra bisnis tua khas pecinan di sepanjang Surya Kencana, cafe-cafe eksotis di daerah Taman Kencana, Factory Outlet di sepanjang Jalan Padjadjaran, sampai Kemegahan mall-mall modern menjadi pengejawantahan hal tersebut. Terlepas dari hal-hal yang sudah terlampau mainstream untuk dibahas, Saya kemudian melihat beberapa hal unik yang mungkin belum terlalu membosankan untuk kita obrolkan.

Pasar Bogor: Ujung dari rantai distribusi
Datanglah lewat tengah malam di pangkal Jalan Surya Kencana. Ratusan lapak sayuran siap menjajakan dagangannya. Pasar di tengah jalan aspal ini sebenarnya hanyalah pasar perantara antara petani dengan pedagang pada rantai distribusi berikutnya. Pembelinya kebanyakan adalah pedagang yang akan menjajakan kembali barang dagangan itu di dalam Pasar Bogor pada pagi harinya. Puluhan tahun sudah rutinitas ini berjalan. Tak lekang oleh waktu. Tidak juga lekang oleh pasar gaya baru yang lebih nyaman di balik tingkap-tingkap beton.

Menjelang terang, pasar ini sedikit-sedikit memudar. Transaksi telah usai dalam panduan nyala lilin sebatang. Sayuran telah berganti tempat masuk ke dalam Pasar Bogor. Sementara di jalanan yang tersisa tinggal debris sayuran busuk atau kulit-kulit sisa hasil kupasan.

Dalam waktu yang tak lama, sampah-sampah organik yang menggunung segera habis disapu petugas untuk kemudian menghilang di balik kotak-kotak baja kuning bak sampah. Jadilah aspal Surya Kencana yang siap dilalui ratusan kendaraan roda empat dengan cat hijau.

Pangrango Plaza: Tidak lebih beruntung dari Bogor Internusa Plaza
Sebagaimana juga terjadi di daerah lain, perniagaan a la pasar tradisional seperti yang ada di Pasar Bogor sudah semakin tergerus. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, paling tidak ada empat pusat perbelanjaan modern yang berdiri. Akibatnya, bukan hanya pasar tradisional saja yang terhimpit. Persaingan antar pusat perbelanjaan pun makin sengit.

Untuk mereka yang sudah tinggal lama di Bogor, mungkin nama Bogor Internusa Plaza pernah menjadi sebuah kebanggaan. Mall termodern di eranya itu kemudian berubah nama menjadi Pangrango Plaza setelah sebelumnya bertahun-tahun kosong karena kebakaran.

“Perlu ada bioskop,” itulah yang terucap oleh Saya ketika beberapa tahun yang lalu memperhatikan adanya deteriorasi Pangrango Plaza. Ketika itu akhir tahun 2008, Saya iseng-iseng masuk ke dalam Pangrango Plaza. Memang mengenaskan keadaannya. Suasana suram dan hanya sedikit toko yang buka. Pendingin ruangan tidak bekerja maksimal di seluruh ruangan. Begitu pula dengan tangga berjalannya. Padahal saya masih ingat ketika baru beberapa bulan dibuka, tempat ini begitu ramai. Bahkan kuis Kocok-kocok SCTV sempat shooting di tempat ini.

Ternyata, modal lokasi strategis saja tidak mampu membuat Pangrango Plaza mampu bersaing dengan mall lainnya. Nyatanya kini gedung megah itu mengkusam tanpa penghuni. Bagian depannya pun kini penuh dengan grafiti dan ketika malam, yang tersisa hanyalah onggokan bayangan hitam besar. Jika dulu Bogor Internusa Plaza harus tutup karena kebakaran, kini Pangrango Plaza harus tutup karena tak mampu bersaing.

Ngesti: Produk Lokal yang Tersisa
Diakui atau tidak, PT Hero Supermarket Tbk. dengan jaringan Giant Hypermarket maupun Supermarket-nya saat ini memiliki potongan kue terbesar dalam penguasaan pasar modern di Bogor. Pemain-pemain swalayan lokal seperti Mawar atau Naga mau tidak mau harus menerima konsekuensi persaingan oligopoli yang ada. Semakin hari, toko-toko mereka semakin sedikit pembeli. More

Gerbong Khusus Perempuan: Sebuah Ironi?

Awalnya mungkin ide gerbong khusus perempuan di KRL adalah sebuah angin segar bagi srikandi-srikandi commuter Bogor yang bekerja di Jakarta atau Depok. Namun faktanya, ternyata gerbong-gerbong ini terkadang justru menjadi “pembenaran” atas diskrimansi gender.

Tidak jarang terdengar celetukan penumpang pria yang setengah mengusir perempuan-perempuan yang ada di gerbong reguler untuk masuk ke gerbong khusus perempuan. Kesalahan pengambilan konklusi bahwa “negasi dari benar akan selalu salah” membuat mereka berpikir bahwa penumpang perempuan harusnya ada dan hanya ada di gerbong khusus perempuan.

Dulu di Amerika Serikat apapun selalu dibagi menjadi dua label, “White” dan “Colored”. Sampai akhirnya Martin Luther King Jr. berhasil membuat penyetaraan bagi kaum kulit hitam khususnya dan semua ras minoritas lain pada umumnya di Amerika Serikat. Lantas, apakah gerbong khusus perempuan ini adalah sebuah langkah mundur karena justru memberi jalan untuk sikap diskriminatif.

Seorang teman yang termasuk dalam golongan feminis pernah bilang ke saya,

“Gue paling benci kalo lagi berdiri di bus ato kereta terus gue ditawarin tempat duduk sama mas-mas. Apa karena gue cewek, terus gue dianggep gak mampu berdiri apa?”

Sebagai penutup, tulisan ini bukan dihadirkan untuk memihak pada status pro atau kontra. Tulisan ini hanya sekedar menghadirkan realita yang ada. Realita bahwa sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk sesuatu yang baik ternyata tidak selamanya bisa dipahami dengan baik.

Balada Kereta Tua

Seorang bocah menikmati pemandangan yang melintas dari jendela kereta listrik

Kereta listrik, dibenci sekaligus dicintai pada saat yang bersamaan. Inilah moda transportasi massal yang paling efektif menghubungkan Jakarta dengan kota-kota satelitnya seperti Bogor.

Dalam satu rangkaian di jam sibuk, delapan gerbong kereta ini dapat mengangkut seribu penumpang lebih. Inilah jenis angkutan yang sangat digemari. Murah dan bebas macet.

Meskipun digemari, tak jarang juga kereta listrik dimaki-maki. Dalam satu gerbong yang padat, jangan harap mendapatkan kenyamanan. Untuk yang tidak terbiasa, pasti akan melihat keadaan di dalam gerbong sebagai sesuatu yang amat tidak manusiawi. Sebuah situasi yang tidak disia-siakan oleh para pencoleng dan mereka yang mencoba memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Maka tidak heran jika emosi penumpang jadi mudah meledak. Apalagi jika kipas dan AC tidak berjalan sepatutnya, menambah panas suasana yang ada.

Tingginya antusiasme masyarakat akan kereta listrik tidak dibarengi dengan tanggung jawab dan rasa memiliki. Memperbaiki kabin gerbong kereta terkadang terasa hanya menjadi pekerjaan yang sia-sia. Corat-coret di sana-sini dan segala kegratilan penumpang melekat jelas di seluruh bagian gerbong. Belum lagi mereka yang sepele saja membuang sampah, meludah, dan merokok di dalam gerbong. Semakin menyempurnakan ketidaknyamanan yang ada.

Tapi sekali lagi, kereta listrik adalah sebuah paradoks. Sebuah tempat yang dibenci sekaligus dicintai. More

Taman Koleksi IPB: Dari Duduk Gratis Sampai Nongkrong di Resto

Sepasang muda-mudi menikmati rindangnya pohon kapuk di tengah Taman Koleksi.

Sepasang muda-mudi menikmati rindangnya pohon kapuk di tengah Taman Koleksi.

Taman Koleksi IPB adalah satu dari sedikit taman publik yang bisa dimanfaatkan secara gratis di Bogor. Meskipun kurang terawat dan ada sampah di sana-sini, rupanya tidak menyurutkan minat beberapa orang untuk sejenak hinggap menghindari panasnya Bogor di kala siang. Mulai dari mahasiswa yang numpang belajar sampai orang pacaran bisa ditemui pada bangku-bangku taman yang ada di taman ini.

Ternyata potensi ini tidak luput dari mata petinggi-petinggi IPB. Status baru IPB sebagai Badan Hukum Pendidikan agaknya membuat IPB harus lebih serius memutar otak bisnisnya untuk mendapatkan penghasilan secara mandiri. Maka dari itu, mengingat letaknya yang strategis di pusat kota dan berada tepat di sebelah Mall terbesar di Bogor, akhirnya sejak beberapa bulan yang lalu, berdirilah Resto Taman Koleksi dengan pilihan menu dan suasana yang unik.

Orang Gila, Mereka di Sekitar Kita

Setelah saya runut ke belakang, ternyata saya termasuk orang yang sering berpindah-pindah domisili. Entah itu untuk jangka waktu beberapa bulan saja maupun untuk waktu yang lebih lama lagi, tahunan.

Dari sekian banyak kota yang pernah saya diami, ada yang membuat saya heran dengan Bogor. Di tempat ini, entah mengapa, banyak sekali orang gila berkeliaran di jalan. Di kota lain juga pasti ada orang gila yang sering lalu lalang di jalanan, tapi untuk ukuran kota sebesar Bogor jumlah orang gila yang seliweran di jalan relatif lebih banyak.

Satu orang gila sedang duduk di depan Botani Square

Sebelumnya, saya mengira sudah melihat semua kelakuan orang gila, mulai dari yang joget-joget di pinggir jalan sampai yang suka minta uang sembari mengancam melempar batu ke arah kaca mobil yang lalu lalang.

Ternyata, tren orang gila di Bogor agak beda dengan di tempat lain. Di sini, banyak orang gila yang “eksibisionis”.  Tidak pria, tidak perempuan, sama saja.Paling tidak, sudah ada lima orang gila tanpa busana atau nyaris tanpa busana yang sudah saya lihat di Bogor.

Entah serius atau bercanda, saya pernah mendapat ceritabahwa ada rumah sakit jiwa yang suka melepaskan pasien yang dianggap “tidak berbahaya” ke jalanan Bogor. Alasannya klasik, karena minimnya dana operasional dan pasien yang dimaksud tidak jelas di mana sanak keluarganya. Bisa jadi cerita ini benar, apalagi jika kita tahu bagaimana buruknya penanganan pasien rumah sakit jiwa di Indonesia seperti yang pernah dijepret John Stanmeyer di Rumah Sakit Jiwa Cipayung untuk majalah Time Asia.

Orang gila sedang menulis sederet angka di kertas. Berminat untuk menanyakan nomor buntut kepadanya? :P

Sebel

umnya, saya

mengira sudah melihat semua kelakuan orang gila, mulai dari yang joget-joget di pinggir jalan sampai yang suka minta uang sembaril mengancam melempar batu ke arah kaca mobil yang lalu lalang.

Ternyata, tren orang gila di Bogor agak beda dengan di tempat lain. Di sini, banyak orang gila yang eksibisionis.  Tidak pria, tidak perempuan, sama saja.

Bogor Haus Musik!

Gugun and The Bluesbug pada salah satu acara di Kampus UI

Gugun and The Bluesbug pada salah satu acara di Kampus UI

Sore tadi, dengan modal kaos oblong, jeans belel, sepatu kets, backpack, dan jaket, saya nekad berpenampilan layaknya mahasiswa dan membaur dengan anak-anak muda Universitas Indonesia. Ada pertunjukan musik di Fakultas Ilmu Budaya. Efek Rumah Kaca yang menjadi sajian pamungkas. Memang tidak sampai belasan lagu yang mereka bawakan. Maklum, pertunjukan gratisan.

Meskipun demikian, tetap menarik melihat antusiasme dan apresiasi orang-orang Depok terhadap musik. Pengunjung yang memenuhi ruangan aula sore tadi buktinya. Di Bogor hal yang demikian pun sebenarnya ada. Kalau tidak, bagaimana mungkin Bogor bisa menyumbangkan musisi-musisi ke kancah belantika musik nasional. Dulu kita mengenal Base Jam. Sekarang kita kenal Fade2Black dan Coki “Netral”. Saya yakin mereka tidak melejit begitu saja. Mereka pasti lahir dan diuji terlebih dahulu di komunitas musik mereka.

Komunitas musik di Bogor tidak melulu berasal dari genre arus utama. Dulu, komunitas underground sering menggunakan sebuah rumah tua di sekitar pasar mawar sebagai tempat mementaskan musik mereka. Ide Gila, itulah nama tempatnya. Konon kabarnya, musisi yang sudah mentas di sana bukan hanya dari Bogor saja, band underground dari Malaysia pun pernah mentas di sana. Sayang Ide Gila sekarang tinggal nama. Tempat ini sudah tutup.

Komunitas non-arus utama lain yang cukup berkembang adalah komunitas hip-hop/rap. Bahkan eksistensi komunitas ini pun membuat RRI dan sebuah stasiun TV lokal Bogor, Megaswara, memberikan slot khusus untuk membahas genre musik yang satu ini tiap minggunya.

Terlepas dari besar dan beragamnya komunitas musik yang ada di Bogor, seorang kawan saya tetap mengeluhkan akan satu hal. Beliau ini adalah “makelar” salah satu band papan atas di negeri ini. Satu ketika dia berkata,

Tentang gigs? Tentang dimana harusnya kalo mau bikin event? Bogor needs some place….

Yah, Bogor tidak memiliki tempat yang cukup layak untuk dijadikan sebagai tempat pertunjukan musik berkelas. Kalaupun ada, tempatnya mungkin terlalu berkelas seperti di ballroom hotel. Tidak ada tempat untuk pertunjukan musik kelas medioker yang bisa dijangkau oleh rakyat kelas menengah ke bawah namun tetap memenuhi persyaratan musisi nasional. Itu sebabnya jarang ada musisi nasional yang mau mentas di Bogor. Padahal jarak Jakarta dan Bandung, tempat di mana kebanyakan musisi berasal, ke Bogor tidak jauh.

More

Mencari Citarasa Sumatera di Tanah Bogor

Bogor tidak ramah dengan lidah Sumatera. Sebenarnya ini masalah klasik bagi orang rantau. Lain padang, lain ilalang. Masakan di satu tempat belum tentu cocok untuk orang dari daerah lain.

Untuk orang Sumatera, yang masakannya dikenal dengan kerumitan racikan bumbunya, tentu sedikit banyak akan kaget ketika disodorkan masakan Bogor yang bumbunya relatif datar-datar saja. Sepelekah? Belum tentu. Seorang kawan saya pernah masuk rumah sakit setelah sekitar satu bulan tinggal di Bogor. Alasannya ternyata remeh saja. Dia mengalami malnutrisi karena tidak bisa makan masakan yang biasa dijual di warung-warung makan di Bogor.

Tidak selera makan katanya. Sambalnya tidak mantap. Bumbu sayurnya gak nampol. Nasinya dingin.

Okelah, mungkin memang kawan saya itu kelewat manja. Tetapi dengan kondisi demikian, maka kerinduan orang Sumatera akan citarasa khas tanah asalnya dapat menjadi sebuah peluang usaha yang cukup potensial. Sudah biasa dengan Rumah Makan Padang? Alternatif masakan khas Sumatera seperti Mie dan Nasi Goreng Aceh pun bisa menjadi pilihan.

Pagi tadi, saya menyempatkan diri untuk mencicipi Lontong Sayur Padang yang ada di dekat Stasiun Bogor. Lokasi persisnya adalah di pertigaan Jalan Kapten Muslihat dan Jalan Nyi Raja Permas (jalan menuju bagian depan stasiun Bogor). Dengan berbekal dua buah meja dan beberapa kursi plastik, dagangan pun digelar persis di depan sebuah Rumah Makan Padang. Selain lontong sayur, tempat ini juga menjual gado-gado, kripik balado, krupuk kulit, dan beberapa penganan kecil lainnya.

Lontong sayur yang sudah jamak dimakan sebagai sarapan lantas diberi citarasa khas Masakan Padang melalui bumbu-bumbunya. Sayurnya pun bukan sekedar gulai nangka, tapi juga dilengkapi dengan sayur pakis. Saya yakin tidak banyak tempat makan di Bogor yang menyediakan sayur pakis di dalam menunya. Wajar saja, sayur pakis tidak terlalu dikenal di luar Sumatera. Dengan dilengkapi satu butir telur dan kerupuk merah, harga yang harus dibayar hanya Rp 5.000,00 – 6.000,00.

Sayang sekali saya tidak berhasil mendapatkan gambar satu menu ini dalam keadaan komplit. Sepiring lontong sayur padang terlalu sayang ditunda hanya demi mengabadikan gambarnya.
hahaha..

Usaha terbaik saya untuk mengambil gambarnya. :P

Usaha terbaik saya untuk mengambil gambarnya. :P

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.