Wajah Sunda di Bengkulu
19 Jan 2012 3 Comments
in kuliner Tags: bengkulu, restoran, sunda
Saya ketemu satu-satunya (kayaknya) restoran Sunda yang ada di kota Bengkulu. Tembus juga Sunda ke mari, walau cuma satu, sementara ratusan lainnya adalah restoran Padang.
Warna-Warni Bogor di Taman Kencana
20 Nov 2011 15 Comments
in Fasilitas Umum, kuliner, pariwisata Tags: Taman Kencana Bogor
Lihat-lihat, nongkrong, makan, skateboard, capoeira, mau apa lagi?
Heren van de Thee (Pengusaha Teh), buku curhatan orang Belanda yang membuat perkebunan di Jawa Barat dahulu kala, bercerita banyak tentang keadaan Jawa Barat di seputaran abad ke-19. Kata buku ini, sebagian besar wilayah Bogor, terutama yang di luar lingkar kotanya, adalah kebun karet. Cuma sedikit wilayah yang sudah di-set sebagai kota ketika itu yang dicirikan dengan atribut “kota”: lansekap rapi, sanitasi oke, jalanan bagus, dan lain-lain. Taman Kencana termasuk bagian dari yang hanya sedikit itu. Bogor beruntung, karena tidak semua kota di Indonesia memiliki taman buatan Belanda seperti ini.
Sebetulnya di Bogor ada juga taman yang lebih besar dan lebih terkenal yaitu Kebun Raya Bogor. Tapi untuk ke sana, kita perlu membayar. Jadi kesan “rakyat”-nya tidak sekental Taman Kencana. Kali ini, Kami ingin mengajak Anda ngobrol tentang Taman Kencana.
Pada umumnya, kabupaten-kabupaten di Jawa memiliki taman umum yang biasa disebut “alun-alun”. Biasanya juga alun-alun ini dikepung oleh bangunan Masjid Raya dan Kantor Polisi, atau yang sedikit berbeda mungkin adalah hadirnya Pasar Tradisional dan Kantor Pemerintahan.
Taman Kencana tidak dikelilingi oleh satu pun dari itu. Di sekitarnya, yang ada malah gedung-gedung tua milik IPB dan sejumlah balai penelitian. Keduanya juga merupakan gedung-gedung peninggalan Belanda dengan langit-langit tinggi yang khas dan suasana yang bikin deg-degan di malam hari. Mayoritas sarana dan prasarana di sekeliling Taken, sebutan akrab warga Bogor untuk Taman Kencana, adalah warisan dari jaman Belanda.
Fakta bahwa Taman Kencana tidak dikelilingi hal-hal umum yang ada pada Taman Kota membuat seorang teman dari Arsitektur Lansekap pernah berkata, “Taken itu bukan Taman Kota. Taken lebih mirip Taman Lingkungan.” Artinya, taman itu sebetulnya untuk orang-orang di lingkungan situ saja. Konsepnya mirip-mirip dengan taman yang biasa ada di dalam kompleks perumahan.
Tapi Taman Kencana letaknya kadung strategis, karena: berlokasi di tengah kota, ada jalur angkutan umum yang melewatinya, dan -ini yang paling penting- banyak pilihan tempat makan dan tempat nongkrong. Itulah mengapa warga Bogor dari berbagai kalangan dan umur akur menjadikan Taman Kencana sebagai meeting point.
Nah kan. Jadi agak blur. Apa yang seperti ini masih bisa dibilang Taman Lingkungan? Atau kita sebut saja ini Ruang Terbuka Hijau? Ah, apa pentingnya ya dikotak-kotakkan demikian? Taman Kencana adalah Taman Kencana. Taman yang memiliki bangku di setiap sudutnya. Taman yang punya lampu tembak di tengahnya untuk menjaga agar suasana malam taman ini tetap “sehat”. Walau sebenernya, kadang masih ada juga hal-hal yang nggak bener.
UKI Bogor Plat Hitam
03 Oct 2011 4 Comments
in Fasilitas Umum Tags: agra mas, bis, bogor, plat hitam, polisi, sesajen, uki
Faktanya, orang butuh angkutan umum rute UKI-Bogor langsung, gak naik turun. Jadi, kalau bis gak boleh lagi lewat UKI dan gak ada solusi buat beresin fakta itu, ya masyarakat punya cara sendiri buat beresin masalah.
Rumah saya di Kalimalang, Jakarta, tapi aktif di Bogor, jadi saya perlu angkutan yang cepat (dan kalau bisa murah) buat transportasi. Bis UKI-Bogor yang dulu didominasi Agra Mas itu solutif banget. Tapi empat tahun lalu, diputuskan bis Bogor gak boleh ke UKI lagi.
Jadi saya harus cari alternatif lain. Pilihan pertama naik kereta dari stasiun Cawang, ini butuh waktu sejam lebih lama walau ongkosnya lebih murah. Pilihan kedua naik bis dari Kampung Rambutan, ini butuh waktu setengah jam lebih lama dan ongkosnya juga lebih mahal.
Yang posisinya kayak saya ini ratusan orang. Serius loh. Kami butuh cepat. Nah, berhubung orang-orang yang pegang wewenang gak kasih solusi buat orang-orang kayak kami ini (“ke kampung rambutan aja” itu bukan solusi), muncullah segelintir orang yang baca peluang.
Mereka buka lagi jalur UKI-Bogor. Bedanya, harga lebih mahal (dari biasanya bis Rp 7.000, dia naikin jadi Rp 10.000), pakai mobil macam espass bukan pakai bis, dan ngetemnya ngumpet di belakang.
Jelas ini plat hitam yang berarti gak formal, makanya ngumpet di belakang. Tapi jangan pikir polisi gak tahu. Mereka tahu, cuma matanya ketutup sesajen yang rutin dikasih para sopir. Ini saya dapat cerita dari supirnya langsung. Jadi si supir udah wajib “kena palak” minimal sama polisi dan calo penumpang.
Kalau harus ada yang ditunjuk salah, saya juga bingung harus nunjuk siapa. Nunjuk siapa ya enaknya?
Kuliner Khas Bogor
11 Sep 2011 4 Comments
in kuliner Tags: asinan, kuliner, miangas, roti unyil, sabang, Sulawesi, swalayan Ada, tales, tugu kujang, venus, warung tenda
Suatu kali di rapat redaksi, saya dan tim pernah berencana mengangkat kuliner Bogor. Semua sudah bertahun-tahun di Bogor, tapi semua kebingungan, emang kuliner Bogor apaan? Ngambil nara sumbernya ke mana?
Kalau mau bawa oleh-oleh, saya pribadi selalu belinya roti unyil Venus yang biasa gerobaknya nongkrong di bawah tangga penyebrangan dekat Tugu Kujang. Ini gampang dapatnya dan orang rumah pada suka. Tapi itu roti yang jelas bukan Indonesia banget, jadi sebetulnya ini bukan khas Bogor. Juga, harganya naik terus, gak turun-turun, kan bukan Indonesia banget tuh (kalau Indonesia kan, harga naik, didemo, gak jadi naik). Sebiji kecil begitu harganya kalau gak salah Rp 1.300.
Roti unyil dicoret.
Gimana kalau asinan? Yang ini mendingan. Harganya murah dan Indonesia banget. Kayaknya gak ada asinan di luar Indonesia, ya kan? Tapi, ini bukan khas Bogor. Di mana-mana gampang nemu asinan kok. Di Jawa banyak. Malah saya nemu asinan Sabang (Aceh) yang itu juga katanya khas di sana.
Asinan dicoret.
Nah, tales gimana? Wah, ini lagi… saya pernah nemu tales itu di Miangas (pulau paling utara Sulawesi) yang itu sudah dekat banget sama Filipina. Mereka makan tales juga tuh, malah ada satu hamparan lahan tanamannya tales semua.
Tales juga dicoret.
Akhirnya, dulu kalau gak salah, kami mutusin angkat warung tenda ujung tol aja. Itu loh, warung-warung yang makan trotoar yang berderet memanjang antara kujang sampai swalayan Ada. Kita gak ngomongin itu warung legal atau enggak ya, tapi kita ngomongin di situ kita bisa nemu macam-macam makanan sunda yang jadi prototype warung makan di Bogor.
Pas saya mau ngeliput ke sana siang-siang (2009), warungnya pada tutup. Ada sih yang buka, tapi ngomongnya gak nyambung, jadi gak jadi ditulis deh, hehe.
Pandangan Warga Seputar IPB tentang TPB
06 Jul 2011 5 Comments
in Sosial Tags: babakan, dramaga, ipb, kosan
Maksudku bukan mau buka-buka konflik yang ada, tapi cuma mau kasih tahu bahwa ada konflik antara IPB Dramaga dan warga sekitar yang dirasakan warga sekitar tapi mungkin gak dirasakan warga IPB.
Waktu itu aku masih baru di IPB. Kebetulan dapat tugas wawancara dengan pemerintahan di tingkat desa sekitar, yaitu Babakan (kalau gak salah), buat tanya, yang benar itu Darmaga apa Dramaga? Targetnya sih kepala desanya, tapi rupanya lagi keluar, jadi aku ngobrol dengan sekretaris desanya.
Awalnya pembicaraan sesuai dengan yang aku tuju, tapi kemudian pak sekdes belok jadi ngomongin tentang keluhan warga terhadap IPB. Program TPB (Tingkat Persiapan Bersama) yang diwajibkan buat anak IPB di tahun pertama ternyata mengganggu mereka.
Tiga ribu anak baru yang tadinya berpotensi kos di sekitar kampus jadi dialihkan kos di asrama yang disediakan IPB. Jelas itu bikin kos-kosan kehilangan pasar. “Lihat tuh kosan si anu, sekarang kosong. Kosan punya saya juga ada kosong beberapa kamar.” Kalau sudah urusan perut begini memang semua yang baik bisa jadi jelek.
Celaan yang aku tidak suka adalah, pak sekdes bilang (mungkin lagi emosi) buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi sombong begitu, akhlaknya jelek, agamanya tidak terawat. Lah pak, kalau sudah bejat mah bejat aja, bukan karena dia sekolah tinggi.
Pak sekdes bilang, sekali-sekali mbok yo rektornya ngajak mereka (pengurus desa) ngobrol tentang hal itu. Wah, sudah kejauhan nih. Aku diposisikan sebagai pihak IPB sama si pak sekdes. Akhirnya aku sudahi saja secepatnya.
Buat IPB, mungkin ini terhitung masalah kecil. Jauh lebih kecil dari masalah IPB gak juara 1 di pimnas atau masalah ada dosen IPB yang diolok-olok menteri. Tapi buat mereka, penduduk sekitar IPB, gak makan itu jadi masalah besar. Tapi gak seheboh itu juga sih, hehe.
Seingatku, ujung-ujungnya liputan itu nongol di Koran Kampus yang isinya cuma 1 kalimat dalam boks kecil: Yang benar itu Dramaga, bukan Darmaga.
Menelisik Kehidupan Tukang Becak di Matahari
27 Jul 2010 12 Comments
in Sosial Tags: becak, matahari, pasar anyar
Beda dengan becak Jakarta yang semuanya sudah dibuang ke laut, Bogor masih punya banyak becak yang siap melayani penumpangnya. Seorang tukang becak di Matahari (dekat Stasiun Bogor), bernama Ikin, bertutur beberapa hal tentang kehidupannya:
Iqbal: Sudah berapa lama di sini Pak jadi tukang becak?
Ikin: Di matahari ini 17 tahun, dari belum nikah sampai punya 2 anak. Yang satu kelas 1 SMP, yang kedua masih SD. Alhamdulillah bisa biayain, ya dicukup-cukupinlah.
Iqbal: Sehari biasanya bawa penumpang berapa kali Pak?
Ikin: Sekitar 10 kali lah. Itu dari jam 9 pagi sampai sore.
Iqbal: Bisa dapat berapa tu Pak?
Ikin: Sekitar 30-40 ribu. Pahitnya 20 lah. Alhamdulillah dicukup-cukupinlah.
Iqbal: Ada penumpang yang baik gak sih Pak sampai ngash lebih banyak?
Ikin: Ya ada yang ngasih 10 ribu, ada yang 8 ribu, 15 ribu.
Iqbal: Biasanya orang-orang kebanyakan naik becak ke mana sih Pak?
Ikin: Paling ke Matahari, Pasar Anyar, PGB. Itu pasaran 4 ribu, 5 ribu.
Iqbal: Paling jauh pernah ke mana Pak?
Ikin: Pondok Rumput, itu pasaran 15 ribu.
Iqbal: Ada penumpang yang nyeleneh gak sih sampai minta ke Dramaga misalnya?
Ikin: Ada, tapi saya bilang gak kuat.
Iqbal: Pernah bawa bule gak Pak?
Ikin: Pernah, dia dulu ke Hotel Sartika (santika kali ya?), tapi jarang gitu.
Iqbal: Dia ngasih duitnya banyak gak?
Ikin: Cuma lima ribu perak, malah lebih murah dari orang-orang kita.
Iqbal: Kok gak minta tambah?
Ikin: Saya udah bilang kurang, tapi kan dia ngomongnya bahasa Inggris jadi kurang paham. Kita kan gak tahu bahasa Inggris, haha… More
Kata Seorang Portir
06 Jul 2010 4 Comments
in Fasilitas Umum, Sosial Tags: kecelakaan, pedagang, portir, preman, stasiun bogor
Irfan, seorang Portir Stasiun Bogor bicara banyak hal tentang pekerjaannya, kejadian-kejadian di lingkungannya, dan hubungan pengelola dengan beberapa pihak di sekitar stasiun. Berikut percakapan saya:
Iqbal: Sudah berapa lama mas kerja di stasiun Bogor?
Irfan: Saya sudah 2,5 tahun kerja di stasiun Bogor sebagai Portir. Portir itu memeriksa karcis penumpang yang masuk maupun yang keluar.
Iqbal: Selama kerja, ada pengalaman menarik gak?
Irfan: Kalau kecelakaan itu sering. Ada yang kesetrum sampai habis mukanya. Mungkin dia turunnya di jalan baru situ yang mau masuk stasiun Bogor. Mungkin dia ketakutan ngeliat petugas, dia pegang besinya itu. Itu saya baru ketemu kejadian sekali. Ada juga masuk peron perempuan umur 17 tahun lah. Dia masuk ke sela-sela kereta lewat, badannya remuk. Sempat masih ada nafasnya, pas sampai RS langsung meninggal. Yang bawa ke rumah sakit ya petugas.
Iqbal: Waduh, parah juga ya….
Irfan: Pernah juga ada kejadian di pasar Anyar, di pelintasan, ada yang ketabrak, meninggal.
Iqbal: Kalau pengamen itu resmi gak sih?
Irfan: Ada yang resmi ada yang nggak, tapi saya kurang tahu juga sih. Tapi yang jelas hubungannya sama petugas bagus-bagus aja.
Iqbal: Kalau pedagang?
Irfan: Itu ada yang legal ada yang illegal. Ada yang punya Kartu Tanda Anggota (KTA). Yang punya KTA boleh masuk.
Iqbal: Sering ada razia gak sih buat yang gak megang KTA?
Irfan: Iya, di sini ada yang namanya Pamsus, dia khusus buat menertibkan pedagang sama bantu-bantu keamanan.
Iqbal: Portir berapa orang sih di sini mas?
Irfan: Ada sekitar 40 orang.
Iqbal: Kerjanya jam berapa tuh?
Irfan: Ada 3 shift. Pertama 4 subuh sampai 12.30. Kalau shift 2 masuk jam 12.30, pulang jam 9 malam. Shift 3 jam 9 malam sampai 4.30.
Iqbal: Padahal malam di sini kan tutup ya?
Irfan: Tutup, tapi jaga-jaga. Kadang ada kejadian dipotong besi atau bantalan relnya, dijual. Kalau di Bogor belum ada kejadian, tapi buat jaga-jaga aja.
Iqbal: Copet?
Irfan: Ya ada aja. Tapi saya gak kenal mereka, mukanya gak kenal. Waktu itu saya ketemu langsung kasih ke polisi.
Iqbal: Seorang atau berkelompok?
Irfan: Waktu itu dapatnya seorang. Ada yang ebrkelompok, tapi mungkin di stasiun lain.
Iqbal: Okay, terima kasih ngobrol-ngobrolnya mas Irfan.
Dunkin Stasiun Perbolehkan Penumpang Duduk Tanpa Beli
29 Jun 2010 6 Comments
in Fasilitas Umum, kebijakan, kuliner Tags: dunkin donuts, stasiun bogor
Sudah lama sebetulnya saya mau tahu apa pendapat pengelola Dunkin Donuts yang ada di Stasiun Bogor tentang pengunjung yang hanya duduk-duduk saja tanpa membeli. Seperti yang kita ketahui bersama, kursi Dunkin Donuts Stasiun Bogor tidak hanya berada di dalam restorannya, tapi juga di luar yang itu berada di wilayah tunggu penumpang kereta. Banyak penumpang yang memilih duduk di kursi milik Dunkin Donuts tersebut tanpa membeli produknya, mungkin karena kursinya yang nyaman atau memang karena kursi tunggu sudah tidak ada yang kosong. Saya temui Pak Syarif, Store Manager-nya. Ia menyambut dengan baik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan ramah:
Iqbal: Gimana tentang orang-orang yang suka duduk di depan situ yang itu kan haknya Dunkin?
DD: Itu kan membantu penumpang buat duduk. Selain itu, kita lihat, alangkah baiknya penumpang duduk kita tawarkan (menu Dunkin). Orang mau duduk silakan walaupun gak pesan. Jadi, duduk di situ gak harus pesan. Kru saya selalu diajarkan sopan santun, “Pak, sambil nunggu kereta mungkin Bapak mau pesan.”
Iqbal: Tapi maaf ni Pak, ada keluhan, kru Dunkin agak judes, jadi dia seakan-akan maksa yang duduk buat beli?
DD: Saya dari dulu tekankan ke kru, kalau penumpang mau duduk silakan. Mungkin karena mood kerjanya sedang tidak baik. Tapi saya selalu tekankan kerja professional.
Iqbal: Tapi kalau ada pengunjung yang beli Dunkin, lalu kursinya penuh, kan dia punya hak duduk?
DD: Ya kita ngomong baik-baik ke pengunjung yang tidak beli, karena itu fasilitas punya kita. Sebenarnya dengan adanya kursi itu kan kita membantu penumpang. Dari segi kebersihan juga kan kita jaga, kita sapu.
Iqbal: Jadi, kalau orang datang duduk di kursi luar itu, lalu petugas kasih menu, orang yang duduk di situ menolak untuk pesan itu boleh ya?
DD: Boleh. Yang saya tekankan seperti itu ke anak-anak. Gak masalah. Tapi akan didahulukan orang yang pesan Dunkin kalau dia kehabisan tempat duduk.










Recent Comments