Warna-Warni Bogor di Taman Kencana
20 Nov 2011 15 Comments
in Fasilitas Umum, kuliner, pariwisata Tags: Taman Kencana Bogor
Lihat-lihat, nongkrong, makan, skateboard, capoeira, mau apa lagi?
Heren van de Thee (Pengusaha Teh), buku curhatan orang Belanda yang membuat perkebunan di Jawa Barat dahulu kala, bercerita banyak tentang keadaan Jawa Barat di seputaran abad ke-19. Kata buku ini, sebagian besar wilayah Bogor, terutama yang di luar lingkar kotanya, adalah kebun karet. Cuma sedikit wilayah yang sudah di-set sebagai kota ketika itu yang dicirikan dengan atribut “kota”: lansekap rapi, sanitasi oke, jalanan bagus, dan lain-lain. Taman Kencana termasuk bagian dari yang hanya sedikit itu. Bogor beruntung, karena tidak semua kota di Indonesia memiliki taman buatan Belanda seperti ini.
Sebetulnya di Bogor ada juga taman yang lebih besar dan lebih terkenal yaitu Kebun Raya Bogor. Tapi untuk ke sana, kita perlu membayar. Jadi kesan “rakyat”-nya tidak sekental Taman Kencana. Kali ini, Kami ingin mengajak Anda ngobrol tentang Taman Kencana.
Pada umumnya, kabupaten-kabupaten di Jawa memiliki taman umum yang biasa disebut “alun-alun”. Biasanya juga alun-alun ini dikepung oleh bangunan Masjid Raya dan Kantor Polisi, atau yang sedikit berbeda mungkin adalah hadirnya Pasar Tradisional dan Kantor Pemerintahan.
Taman Kencana tidak dikelilingi oleh satu pun dari itu. Di sekitarnya, yang ada malah gedung-gedung tua milik IPB dan sejumlah balai penelitian. Keduanya juga merupakan gedung-gedung peninggalan Belanda dengan langit-langit tinggi yang khas dan suasana yang bikin deg-degan di malam hari. Mayoritas sarana dan prasarana di sekeliling Taken, sebutan akrab warga Bogor untuk Taman Kencana, adalah warisan dari jaman Belanda.
Fakta bahwa Taman Kencana tidak dikelilingi hal-hal umum yang ada pada Taman Kota membuat seorang teman dari Arsitektur Lansekap pernah berkata, “Taken itu bukan Taman Kota. Taken lebih mirip Taman Lingkungan.” Artinya, taman itu sebetulnya untuk orang-orang di lingkungan situ saja. Konsepnya mirip-mirip dengan taman yang biasa ada di dalam kompleks perumahan.
Tapi Taman Kencana letaknya kadung strategis, karena: berlokasi di tengah kota, ada jalur angkutan umum yang melewatinya, dan -ini yang paling penting- banyak pilihan tempat makan dan tempat nongkrong. Itulah mengapa warga Bogor dari berbagai kalangan dan umur akur menjadikan Taman Kencana sebagai meeting point.
Nah kan. Jadi agak blur. Apa yang seperti ini masih bisa dibilang Taman Lingkungan? Atau kita sebut saja ini Ruang Terbuka Hijau? Ah, apa pentingnya ya dikotak-kotakkan demikian? Taman Kencana adalah Taman Kencana. Taman yang memiliki bangku di setiap sudutnya. Taman yang punya lampu tembak di tengahnya untuk menjaga agar suasana malam taman ini tetap “sehat”. Walau sebenernya, kadang masih ada juga hal-hal yang nggak bener.
Hijaunya Bogorku, Hijaunya Angkotku
16 Oct 2011 Leave a Comment
in Fasilitas Umum Tags: angkot Bogor
Kota Sejuta Angkot, begitu julukannya.
Diambil di: Pertigaan Tugu Kujang, 9 Oktober 2011.
UKI Bogor Plat Hitam
03 Oct 2011 4 Comments
in Fasilitas Umum Tags: agra mas, bis, bogor, plat hitam, polisi, sesajen, uki
Faktanya, orang butuh angkutan umum rute UKI-Bogor langsung, gak naik turun. Jadi, kalau bis gak boleh lagi lewat UKI dan gak ada solusi buat beresin fakta itu, ya masyarakat punya cara sendiri buat beresin masalah.
Rumah saya di Kalimalang, Jakarta, tapi aktif di Bogor, jadi saya perlu angkutan yang cepat (dan kalau bisa murah) buat transportasi. Bis UKI-Bogor yang dulu didominasi Agra Mas itu solutif banget. Tapi empat tahun lalu, diputuskan bis Bogor gak boleh ke UKI lagi.
Jadi saya harus cari alternatif lain. Pilihan pertama naik kereta dari stasiun Cawang, ini butuh waktu sejam lebih lama walau ongkosnya lebih murah. Pilihan kedua naik bis dari Kampung Rambutan, ini butuh waktu setengah jam lebih lama dan ongkosnya juga lebih mahal.
Yang posisinya kayak saya ini ratusan orang. Serius loh. Kami butuh cepat. Nah, berhubung orang-orang yang pegang wewenang gak kasih solusi buat orang-orang kayak kami ini (“ke kampung rambutan aja” itu bukan solusi), muncullah segelintir orang yang baca peluang.
Mereka buka lagi jalur UKI-Bogor. Bedanya, harga lebih mahal (dari biasanya bis Rp 7.000, dia naikin jadi Rp 10.000), pakai mobil macam espass bukan pakai bis, dan ngetemnya ngumpet di belakang.
Jelas ini plat hitam yang berarti gak formal, makanya ngumpet di belakang. Tapi jangan pikir polisi gak tahu. Mereka tahu, cuma matanya ketutup sesajen yang rutin dikasih para sopir. Ini saya dapat cerita dari supirnya langsung. Jadi si supir udah wajib “kena palak” minimal sama polisi dan calo penumpang.
Kalau harus ada yang ditunjuk salah, saya juga bingung harus nunjuk siapa. Nunjuk siapa ya enaknya?
Agenda Eksternal Istana Bogor: Memberi Makan Rusa
05 Sep 2011 5 Comments
in Fasilitas Umum, pariwisata Tags: istana bogor, Rusa
Resminya, tidak terlalu banyak interaksi antara Istana Bogor dengan warga Bogor. Paling-paling hanya acara tahunan Open House menyambut Hari Ulang Tahun Kota Bogor. Lebihnya, hampir bisa dibilang tidak ada.
Untung saja, Istana Bogor tidak lantas jadi jumawa (atau paranoid?) dengan memberi pengamanan ekstra ketat di sekeliling pagarnya. Kalau tidak, “Siang Seberang Istana” milik Iwan Fals bisa menjadi kritik telak, mengingat di sekeliling Istana Bogor memang masih banyak orang-orang dengan kualitas hidup rendah.
Keberadaan rusa-rusa totol di halaman Istana ternyata masih bisa dinikmati oleh warga Bogor dengan leluasa, meskipun masih harus terpisahkan pagar besi tinggi. Rekreasi di trotoar sepanjang Istana Bogor menjadi alternatif wisata yang murah meriah. Lihat saja aktivitas tepi jalan Juanda ini di hari-hari libur, pikuk dengan pelancong. Apalagi setiap minggu sekarang diberlakukan “Car Free Day” di jalan menuju lapangan Sempur. Sehingga warga Bogor tumpah ruah di titik ini untuk beragam aktivitas. Tidak hanya warga sekitar sebenarnya, sesekali bule-bule pun terlihat di antara kerumunan ini.
Entah siapa yang mencetuskan. Mungkin awalnya para pelancong ini hanya ingin berfoto bersama rusa. Lama-kelamaan, meningkat dengan elus-elus rusa yang kebetulan tidak canggung berinteraksi dengan manusia di sisi pagar. Sampai akhirnya acara “Memberi Makan Rusa” bisa menjadi penantang terberat “Jalan-Jalan di Kebun Raya”. Tidak perlu bingung mau memberi makan apa ke rusa-rusa tersebut. Pedagang wortel dan kangkung siap menjajakan dagangannya sebagai pakan. Satu ikat wortel atau kangkung hanya Rp 1.000,00 – 2.000,00. Bahkan sampai-sampai karena antusiasme pengunjung yang begitu tinggi, antar pengunjung harus berebut untuk menyuapi rusa-rusa yang ada. Maklum, tidak semua rusa berani dekat-dekat dengan manusia sehingga hanya beberapa saja yang mau merapat ke pagar. Beberapa pengunjung yang frustasi akhirnya melempar kangkung dan wortel ke kerumunan rusa yang posisinya jauh dari pagar.
Tidak ada salahnya jika kegiatan “Memberi Makan Rusa” ini ditawarkan kepada rekan atau keluarga yang kebetulan sedang berkunjung ke Bogor. Apalagi jika sudah merasa jenuh mencari tas di Tajur atau merasa buntu keluar masuk Factory Outlet di sepanjang Jalan Pajajaran. Mungkin suatu hari kelak, akan ada istilah “Belum Afdhol ke Bogor Kalau Belum Memberi Makan Rusa Istana Bogor”.
Pangrango Plaza Riwayatnya Kini
08 Aug 2011 11 Comments
in Fasilitas Umum Tags: Kota Bogor, Mall, Pangrango Plaza
Ada masa di mana mal di Kota Bogor belum sebanyak sekarang dan masih bisa dihitung jari. Saat itu, awal hingga pertengahan dekade 90-an, Mal Internusa adalah satu dari sejumlah mal yang cuma sedikit itu. Letaknya di Jalan Pajajaran, urat nadi bisnis dan hiburan di Kota Bogor.
Sekitar pertengahan tahun 1996, Mal Internusa mengalami kebakaran untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, sampai menghentikan usahanya. Selama bertahun-tahun, bagian depan yang terbakar terbengkalai begitu saja. Namun aktivitas jual beli kemudian berlangsung lagi di belakang gedung, di bagian yang dulunya tempat parkir.
Bertahun-tahun kemudian, renovasi besar-besaran terjadi di eks-Mal Internusa, mengubah bentuk dan namanya. Jadilah Pangrango Plaza.
Tapi Pangrango Plaza hadir saat sejumlah mal sudah lahir di Bogor dan mempunyai pasarnya masing-masing. PP jadi mal yang serba tanggung. Banyak butik pakaian dengan harga produk relatif mahal, padahal barang yang sama bisa didapat di BTM dengan harga lebih murah. Bila menyasar kelas menengah ke bawah, sudah ada BTM dan Jambu Dua yang lebih besar dan berlokasi dekat pasar. Bila menyasar kelas menengah ke atas, sudah ada Botani Square yang lebih lengkap dan strategis.
Seingat saya, tak pernah sekalipun saya melihat lot/kapling di PP terisi lebih dari 70%. Anda pernah? More
Fasilitas Mushola di Tempat Perbelanjaan
20 Mar 2011 5 Comments
in Fasilitas Umum Tags: Fasilitas Umum, Kota Bogor, musholla
Di sebagian besar tempat umum di Indonesia, mushola adalah fasilitas yang sering kali tersedia. Kondisinya bermacam rupa, dari yang tak layak sampai istimewa. Ada yang luas luar biasa, ada juga seukuran meteran satu kali dua. Ada beberapa hal yang bisa jadi penentu keadaan mushola, kira-kira inilah: ketersediaan dana pengelola, kepedulian para pengguna dan kebesaran hati para penyandang dana. Bila ini dijadikan patokan umum, idealnya mushola di tempat yang bagus & digunakan banyak orang berpunya, kondisinya juga baik adanya.
Tapi musholla yang baik dan bersih kondisinya rupanya nggak banyak. Jangankan di pasar tradisional yang biasanya bau dan becek, mushola yang OK juga nggak selalu ditemukan di mall-mall. Musholla biasanya menempati tempat terpencil, seringkali di basement atau tempat parkir. Supaya sepi dan bisa konsen beribadah? Ya, alasan ini bisa diterima. Di tempat yang agak jauh dari tempat transaksi jual beli? Ya, bisa dipahami juga karena ibadah bukan kegiatan yang secara langsung menghasilkan uang sewa bagi pemilik tempat belanja.
Belakangan ini, mushola di banyak tempat keadaannya juga sudah lebih baik. Botani Square memperluas mushola di lantai 2 meskipun antrian di waktu maghrib tetap saja ada. Mukenanya pun sudah tersedia, antara lain berkat dukungan dari Gerakan Mukena Bersih (GMB) yang secara rutin menyuplai dan memelihara mukena-mukena bersih di berbagai tempat umum. Namun, bagaimana hubungan yang terjadi antara GMB dan BoQuare saya kurang tau juga sih.
Ada satu hal yang sering membuat saya bertanya-tanya, kenapa penyediaan (tempat) mushola seringkali tidak diiringi dengan penyediaan fasilitas untuk beribadahnya? Misalnya karpet atau sajadah yang baru dan bersih dan mukena atau sarung yang juga bersih. Bukan cuma sekali dua kali, saya ke mushola yang bagus gitu di mall yang baru dibangun.. tapi sajadah & mukenanya sudah kucel dan kelihatan bekas pakai. Padahal yo musholanya bersih dan baru. Iya, memang adalah kewajiban setiap muslim untuk menunaikan ibadahnya dan memiliki fasilitas masing-masing. Tapi rasanya, tanggung aja gitu. Seperti menunaikan suatu pekerjaan tapi nggak tuntas. More
Waktunya Belanja
23 Nov 2010 7 Comments
in budaya, Fasilitas Umum, Sosial Tags: Fasilitas Umum
Agaknya salah satu cara menerjemahkan “Kota Jasa” seperti yang dicita-citakan Bogor adalah dengan memperbanyak tempat perniagaan. Mulai dari pasar tradisional dengan tradisi puluhan tahunnya, sentra bisnis tua khas pecinan di sepanjang Surya Kencana, cafe-cafe eksotis di daerah Taman Kencana, Factory Outlet di sepanjang Jalan Padjadjaran, sampai Kemegahan mall-mall modern menjadi pengejawantahan hal tersebut. Terlepas dari hal-hal yang sudah terlampau mainstream untuk dibahas, Saya kemudian melihat beberapa hal unik yang mungkin belum terlalu membosankan untuk kita obrolkan.
Pasar Bogor: Ujung dari rantai distribusi
Datanglah lewat tengah malam di pangkal Jalan Surya Kencana. Ratusan lapak sayuran siap menjajakan dagangannya. Pasar di tengah jalan aspal ini sebenarnya hanyalah pasar perantara antara petani dengan pedagang pada rantai distribusi berikutnya. Pembelinya kebanyakan adalah pedagang yang akan menjajakan kembali barang dagangan itu di dalam Pasar Bogor pada pagi harinya. Puluhan tahun sudah rutinitas ini berjalan. Tak lekang oleh waktu. Tidak juga lekang oleh pasar gaya baru yang lebih nyaman di balik tingkap-tingkap beton.
Menjelang terang, pasar ini sedikit-sedikit memudar. Transaksi telah usai dalam panduan nyala lilin sebatang. Sayuran telah berganti tempat masuk ke dalam Pasar Bogor. Sementara di jalanan yang tersisa tinggal debris sayuran busuk atau kulit-kulit sisa hasil kupasan.
Dalam waktu yang tak lama, sampah-sampah organik yang menggunung segera habis disapu petugas untuk kemudian menghilang di balik kotak-kotak baja kuning bak sampah. Jadilah aspal Surya Kencana yang siap dilalui ratusan kendaraan roda empat dengan cat hijau.
Pangrango Plaza: Tidak lebih beruntung dari Bogor Internusa Plaza
Sebagaimana juga terjadi di daerah lain, perniagaan a la pasar tradisional seperti yang ada di Pasar Bogor sudah semakin tergerus. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, paling tidak ada empat pusat perbelanjaan modern yang berdiri. Akibatnya, bukan hanya pasar tradisional saja yang terhimpit. Persaingan antar pusat perbelanjaan pun makin sengit.
Untuk mereka yang sudah tinggal lama di Bogor, mungkin nama Bogor Internusa Plaza pernah menjadi sebuah kebanggaan. Mall termodern di eranya itu kemudian berubah nama menjadi Pangrango Plaza setelah sebelumnya bertahun-tahun kosong karena kebakaran.
“Perlu ada bioskop,” itulah yang terucap oleh Saya ketika beberapa tahun yang lalu memperhatikan adanya deteriorasi Pangrango Plaza. Ketika itu akhir tahun 2008, Saya iseng-iseng masuk ke dalam Pangrango Plaza. Memang mengenaskan keadaannya. Suasana suram dan hanya sedikit toko yang buka. Pendingin ruangan tidak bekerja maksimal di seluruh ruangan. Begitu pula dengan tangga berjalannya. Padahal saya masih ingat ketika baru beberapa bulan dibuka, tempat ini begitu ramai. Bahkan kuis Kocok-kocok SCTV sempat shooting di tempat ini.![P14-11-10_17-42[1]](http://bogorwatch.files.wordpress.com/2010/11/p14-11-10_17-421.jpg?w=535)
Ternyata, modal lokasi strategis saja tidak mampu membuat Pangrango Plaza mampu bersaing dengan mall lainnya. Nyatanya kini gedung megah itu mengkusam tanpa penghuni. Bagian depannya pun kini penuh dengan grafiti dan ketika malam, yang tersisa hanyalah onggokan bayangan hitam besar. Jika dulu Bogor Internusa Plaza harus tutup karena kebakaran, kini Pangrango Plaza harus tutup karena tak mampu bersaing.
Ngesti: Produk Lokal yang Tersisa
Diakui atau tidak, PT Hero Supermarket Tbk. dengan jaringan Giant Hypermarket maupun Supermarket-nya saat ini memiliki potongan kue terbesar dalam penguasaan pasar modern di Bogor. Pemain-pemain swalayan lokal seperti Mawar atau Naga mau tidak mau harus menerima konsekuensi persaingan oligopoli yang ada. Semakin hari, toko-toko mereka semakin sedikit pembeli. More
Pasang Reklame di Bogor, Bebas Ya?
21 Nov 2010 7 Comments
in Fasilitas Umum, kebijakan Tags: bogor, Dica Aqiqah, poster, reklame, spanduk
Salah satu hal yang bisa ditemui di banyak kota di Indonesia (termasuk Bogor) adalah reklame yang terpampang di mana-mana. Reklame ini mulai dari yang kecil-kecil seukuran kertas HVS sampai billboard berlampu yang ukurannya selebar jalan raya. Kabarnya, reklame ini jadi salah satu sumber pemasukan utama untuk Pemerintah Kota Bogor. Nggak heran ya, bila jalanan semakin ramai dengan spanduk dan billboard bermacam ukuran.
Merhatiin nggak, betapa sekeliling kita riuh dengan reklame berbagai ukuran, jenis dan warna? Dari sekian reklame itu, seberapa persen sih yang berada di tempat seharusnya dan mana yang asal tempel aja?
|
|
Saya jadi bertanya-tanya soal ini terutama sejak semakin seringnya melihat poster Dica Aqiqah -yang rasanya lama-lama makin gampang ditemukan di mana-mana. Ini salah satu contoh yang saya temukan, poster Dica Aqiqah yang berderet pada tembok sebuah bangunan di Jembatan Merah. Kali ini saya ingin bertanya, mungkin anda tahu. Bagaimana sih aturan pemasangan reklame yang berupa poster di Bogor? Apakah penempelan poster tidak memerlukan izin khusus? Apakah ada pajak untuknya?
Could you please enlighten me? ![]()
(nonadita)
Gerbong Khusus Perempuan: Sebuah Ironi?
06 Sep 2010 2 Comments
in Fasilitas Umum, kebijakan, Sosial Tags: Gender, KRL, Perempuan
Awalnya mungkin ide gerbong khusus perempuan di KRL adalah sebuah angin segar bagi srikandi-srikandi commuter Bogor yang bekerja di Jakarta atau Depok. Namun faktanya, ternyata gerbong-gerbong ini terkadang justru menjadi “pembenaran” atas diskrimansi gender.
Tidak jarang terdengar celetukan penumpang pria yang setengah mengusir perempuan-perempuan yang ada di gerbong reguler untuk masuk ke gerbong khusus perempuan. Kesalahan pengambilan konklusi bahwa “negasi dari benar akan selalu salah” membuat mereka berpikir bahwa penumpang perempuan harusnya ada dan hanya ada di gerbong khusus perempuan.
Dulu di Amerika Serikat apapun selalu dibagi menjadi dua label, “White” dan “Colored”. Sampai akhirnya Martin Luther King Jr. berhasil membuat penyetaraan bagi kaum kulit hitam khususnya dan semua ras minoritas lain pada umumnya di Amerika Serikat. Lantas, apakah gerbong khusus perempuan ini adalah sebuah langkah mundur karena justru memberi jalan untuk sikap diskriminatif.
Seorang teman yang termasuk dalam golongan feminis pernah bilang ke saya,
“Gue paling benci kalo lagi berdiri di bus ato kereta terus gue ditawarin tempat duduk sama mas-mas. Apa karena gue cewek, terus gue dianggep gak mampu berdiri apa?”
Sebagai penutup, tulisan ini bukan dihadirkan untuk memihak pada status pro atau kontra. Tulisan ini hanya sekedar menghadirkan realita yang ada. Realita bahwa sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk sesuatu yang baik ternyata tidak selamanya bisa dipahami dengan baik.
Kata Seorang Portir
06 Jul 2010 4 Comments
in Fasilitas Umum, Sosial Tags: kecelakaan, pedagang, portir, preman, stasiun bogor
Irfan, seorang Portir Stasiun Bogor bicara banyak hal tentang pekerjaannya, kejadian-kejadian di lingkungannya, dan hubungan pengelola dengan beberapa pihak di sekitar stasiun. Berikut percakapan saya:
Iqbal: Sudah berapa lama mas kerja di stasiun Bogor?
Irfan: Saya sudah 2,5 tahun kerja di stasiun Bogor sebagai Portir. Portir itu memeriksa karcis penumpang yang masuk maupun yang keluar.
Iqbal: Selama kerja, ada pengalaman menarik gak?
Irfan: Kalau kecelakaan itu sering. Ada yang kesetrum sampai habis mukanya. Mungkin dia turunnya di jalan baru situ yang mau masuk stasiun Bogor. Mungkin dia ketakutan ngeliat petugas, dia pegang besinya itu. Itu saya baru ketemu kejadian sekali. Ada juga masuk peron perempuan umur 17 tahun lah. Dia masuk ke sela-sela kereta lewat, badannya remuk. Sempat masih ada nafasnya, pas sampai RS langsung meninggal. Yang bawa ke rumah sakit ya petugas.
Iqbal: Waduh, parah juga ya….
Irfan: Pernah juga ada kejadian di pasar Anyar, di pelintasan, ada yang ketabrak, meninggal.
Iqbal: Kalau pengamen itu resmi gak sih?
Irfan: Ada yang resmi ada yang nggak, tapi saya kurang tahu juga sih. Tapi yang jelas hubungannya sama petugas bagus-bagus aja.
Iqbal: Kalau pedagang?
Irfan: Itu ada yang legal ada yang illegal. Ada yang punya Kartu Tanda Anggota (KTA). Yang punya KTA boleh masuk.
Iqbal: Sering ada razia gak sih buat yang gak megang KTA?
Irfan: Iya, di sini ada yang namanya Pamsus, dia khusus buat menertibkan pedagang sama bantu-bantu keamanan.
Iqbal: Portir berapa orang sih di sini mas?
Irfan: Ada sekitar 40 orang.
Iqbal: Kerjanya jam berapa tuh?
Irfan: Ada 3 shift. Pertama 4 subuh sampai 12.30. Kalau shift 2 masuk jam 12.30, pulang jam 9 malam. Shift 3 jam 9 malam sampai 4.30.
Iqbal: Padahal malam di sini kan tutup ya?
Irfan: Tutup, tapi jaga-jaga. Kadang ada kejadian dipotong besi atau bantalan relnya, dijual. Kalau di Bogor belum ada kejadian, tapi buat jaga-jaga aja.
Iqbal: Copet?
Irfan: Ya ada aja. Tapi saya gak kenal mereka, mukanya gak kenal. Waktu itu saya ketemu langsung kasih ke polisi.
Iqbal: Seorang atau berkelompok?
Irfan: Waktu itu dapatnya seorang. Ada yang ebrkelompok, tapi mungkin di stasiun lain.
Iqbal: Okay, terima kasih ngobrol-ngobrolnya mas Irfan.













Recent Comments