Ibu-ibu yang Berada di Jalanan
23 Dec 2011 16 Comments
in Sosial Tags: bogor, pengemis
Bogor, sebuah kota yang memiliki banyak warna. Kali ini, Blogor membuat #RantaiCerita dengan topik hitam dan putihnya Bogor. Saya tergabung dalam Grup Hitam yang menyajikan sisi kelam Bogor yang membutuhkan perbaikan. Sebelumnya, silakan simak tulisan dari Prof. Sjafri M, Matahari Timoer, Chandra Iman dan Erfano Nalakiano. Saya tertarik untuk menulis tentang fenomena yang marak belakangan di Bogor: kelompok ibu-ibu pengemis yang berkelana di jalanan.
================
Pagi menjelang siang, atau pada tengah hari, mereka bisa ditemui di sejumlah titik di Bogor. Dari jalanan di sekitar pertokoan Jembatan Merah, sampai di jalan-jalan kecil di berbagai komplek perumahan. Kadang berjalan berdua atau bisa berempat dalam satu rombongan. Tujuannya satu: meminta belas kasihan orang.
Ibu-ibu ini mudah dikenali dari ciri-cirinya yang serupa. Sebagian besar dari mereka berusia paruh baya, berkerudung dan membawa tas wanita berukuran besar. Terkadang mereka terlihat turun bersama dari kendaraan umum untuk menyebar ke arah yang berbeda, bisa ke kawasan pertokoan atau yang paling umum daerah perumahan.
Bila dilihat secara kasat mata, seharusnya mereka masih bisa melakukan kegiatan produktif walaupun usianya tak lagi muda. Beberapa ibu-ibu yang saya kenal dengan kisaran usia yang sama, masih bisa bekerja entah berdagang atau menjadi pembantu rumah tangga. Bila dengan usia dan keadaan demikian, mereka sanggup menempuh perjalanan melelahkan untuk meminta belas kasihan, tidakkah seharusnya mereka sanggup melakukan pekerjaan lain yang lebih ringan?
Kadang saya penasaran, kenapa ibu-ibu ini memilih mengemis sebagai jalan mencari nafkah. Tidak adakah cara lain yang bisa dilakukan? Sedemikian buntunyakah jalan yang lain sehingga mereka memilih jalan yang ini? Atau sederhana saja, karena mengemis adalah usaha yang paling mudah dilakukan?
Pandangan Warga Seputar IPB tentang TPB
06 Jul 2011 5 Comments
in Sosial Tags: babakan, dramaga, ipb, kosan
Maksudku bukan mau buka-buka konflik yang ada, tapi cuma mau kasih tahu bahwa ada konflik antara IPB Dramaga dan warga sekitar yang dirasakan warga sekitar tapi mungkin gak dirasakan warga IPB.
Waktu itu aku masih baru di IPB. Kebetulan dapat tugas wawancara dengan pemerintahan di tingkat desa sekitar, yaitu Babakan (kalau gak salah), buat tanya, yang benar itu Darmaga apa Dramaga? Targetnya sih kepala desanya, tapi rupanya lagi keluar, jadi aku ngobrol dengan sekretaris desanya.
Awalnya pembicaraan sesuai dengan yang aku tuju, tapi kemudian pak sekdes belok jadi ngomongin tentang keluhan warga terhadap IPB. Program TPB (Tingkat Persiapan Bersama) yang diwajibkan buat anak IPB di tahun pertama ternyata mengganggu mereka.
Tiga ribu anak baru yang tadinya berpotensi kos di sekitar kampus jadi dialihkan kos di asrama yang disediakan IPB. Jelas itu bikin kos-kosan kehilangan pasar. “Lihat tuh kosan si anu, sekarang kosong. Kosan punya saya juga ada kosong beberapa kamar.” Kalau sudah urusan perut begini memang semua yang baik bisa jadi jelek.
Celaan yang aku tidak suka adalah, pak sekdes bilang (mungkin lagi emosi) buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi sombong begitu, akhlaknya jelek, agamanya tidak terawat. Lah pak, kalau sudah bejat mah bejat aja, bukan karena dia sekolah tinggi.
Pak sekdes bilang, sekali-sekali mbok yo rektornya ngajak mereka (pengurus desa) ngobrol tentang hal itu. Wah, sudah kejauhan nih. Aku diposisikan sebagai pihak IPB sama si pak sekdes. Akhirnya aku sudahi saja secepatnya.
Buat IPB, mungkin ini terhitung masalah kecil. Jauh lebih kecil dari masalah IPB gak juara 1 di pimnas atau masalah ada dosen IPB yang diolok-olok menteri. Tapi buat mereka, penduduk sekitar IPB, gak makan itu jadi masalah besar. Tapi gak seheboh itu juga sih, hehe.
Seingatku, ujung-ujungnya liputan itu nongol di Koran Kampus yang isinya cuma 1 kalimat dalam boks kecil: Yang benar itu Dramaga, bukan Darmaga.
Waktunya Belanja
23 Nov 2010 7 Comments
in budaya, Fasilitas Umum, Sosial Tags: Fasilitas Umum
Agaknya salah satu cara menerjemahkan “Kota Jasa” seperti yang dicita-citakan Bogor adalah dengan memperbanyak tempat perniagaan. Mulai dari pasar tradisional dengan tradisi puluhan tahunnya, sentra bisnis tua khas pecinan di sepanjang Surya Kencana, cafe-cafe eksotis di daerah Taman Kencana, Factory Outlet di sepanjang Jalan Padjadjaran, sampai Kemegahan mall-mall modern menjadi pengejawantahan hal tersebut. Terlepas dari hal-hal yang sudah terlampau mainstream untuk dibahas, Saya kemudian melihat beberapa hal unik yang mungkin belum terlalu membosankan untuk kita obrolkan.
Pasar Bogor: Ujung dari rantai distribusi
Datanglah lewat tengah malam di pangkal Jalan Surya Kencana. Ratusan lapak sayuran siap menjajakan dagangannya. Pasar di tengah jalan aspal ini sebenarnya hanyalah pasar perantara antara petani dengan pedagang pada rantai distribusi berikutnya. Pembelinya kebanyakan adalah pedagang yang akan menjajakan kembali barang dagangan itu di dalam Pasar Bogor pada pagi harinya. Puluhan tahun sudah rutinitas ini berjalan. Tak lekang oleh waktu. Tidak juga lekang oleh pasar gaya baru yang lebih nyaman di balik tingkap-tingkap beton.
Menjelang terang, pasar ini sedikit-sedikit memudar. Transaksi telah usai dalam panduan nyala lilin sebatang. Sayuran telah berganti tempat masuk ke dalam Pasar Bogor. Sementara di jalanan yang tersisa tinggal debris sayuran busuk atau kulit-kulit sisa hasil kupasan.
Dalam waktu yang tak lama, sampah-sampah organik yang menggunung segera habis disapu petugas untuk kemudian menghilang di balik kotak-kotak baja kuning bak sampah. Jadilah aspal Surya Kencana yang siap dilalui ratusan kendaraan roda empat dengan cat hijau.
Pangrango Plaza: Tidak lebih beruntung dari Bogor Internusa Plaza
Sebagaimana juga terjadi di daerah lain, perniagaan a la pasar tradisional seperti yang ada di Pasar Bogor sudah semakin tergerus. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, paling tidak ada empat pusat perbelanjaan modern yang berdiri. Akibatnya, bukan hanya pasar tradisional saja yang terhimpit. Persaingan antar pusat perbelanjaan pun makin sengit.
Untuk mereka yang sudah tinggal lama di Bogor, mungkin nama Bogor Internusa Plaza pernah menjadi sebuah kebanggaan. Mall termodern di eranya itu kemudian berubah nama menjadi Pangrango Plaza setelah sebelumnya bertahun-tahun kosong karena kebakaran.
“Perlu ada bioskop,” itulah yang terucap oleh Saya ketika beberapa tahun yang lalu memperhatikan adanya deteriorasi Pangrango Plaza. Ketika itu akhir tahun 2008, Saya iseng-iseng masuk ke dalam Pangrango Plaza. Memang mengenaskan keadaannya. Suasana suram dan hanya sedikit toko yang buka. Pendingin ruangan tidak bekerja maksimal di seluruh ruangan. Begitu pula dengan tangga berjalannya. Padahal saya masih ingat ketika baru beberapa bulan dibuka, tempat ini begitu ramai. Bahkan kuis Kocok-kocok SCTV sempat shooting di tempat ini.![P14-11-10_17-42[1]](http://bogorwatch.files.wordpress.com/2010/11/p14-11-10_17-421.jpg?w=535)
Ternyata, modal lokasi strategis saja tidak mampu membuat Pangrango Plaza mampu bersaing dengan mall lainnya. Nyatanya kini gedung megah itu mengkusam tanpa penghuni. Bagian depannya pun kini penuh dengan grafiti dan ketika malam, yang tersisa hanyalah onggokan bayangan hitam besar. Jika dulu Bogor Internusa Plaza harus tutup karena kebakaran, kini Pangrango Plaza harus tutup karena tak mampu bersaing.
Ngesti: Produk Lokal yang Tersisa
Diakui atau tidak, PT Hero Supermarket Tbk. dengan jaringan Giant Hypermarket maupun Supermarket-nya saat ini memiliki potongan kue terbesar dalam penguasaan pasar modern di Bogor. Pemain-pemain swalayan lokal seperti Mawar atau Naga mau tidak mau harus menerima konsekuensi persaingan oligopoli yang ada. Semakin hari, toko-toko mereka semakin sedikit pembeli. More
Onliners Bogor, ayo Gabung Kopdar Charity!
05 Nov 2010 2 Comments
in Sosial Tags: Blogor, bogor, Mentawai, Merapi
Mari datang, bertemu teman dan ayo menyumbang!
Blogor (Komunitas Blogger Bogor) mengundang kita semua untuk datang ke Kopdar Bulanan Barudak Blogor November 2010 yang diadakan malam ini (Jumat, 5 November 2010) dengan tema “Blogor Charity”. Nggak hanya kopdar & berbagi kabar, tapi melalui kopdar kali ini kita bisa berbagi untuk membantu korban bencana di Merapi dan Mentawai.
Everybody is invited! Kopdar ini nggak hanya untuk Barudak Blogor, maka semua onliners dari komunitas manapun atau siapa saja yang ingin ikut menyumbang bisa hadir di
Kopdar “Blogor Charity”
Mie Janda Cabang Pakuan, Bogor
Jl Raya Ciheuleut No. 123 (depan Kampus UNPAK)
Telp (0251) 9800 951
Waktu: Jumat, 5 November 2010 pukul 18.30 – 21.00 WIB.
Takut nyasar? Lihat denahnya di bawah postingan ini.
Sumbangan yang bisa diberikan bisa berupa uang tunai, dikumpulkan ke Nonadita atau Matahari Timoer pada saat acara berlangsung. Sumbangan kita semua akan disalurkan untuk membeli kebutuhan logistik pengungsi, bekerjasama dengan @jogjaonliners.
Sampai jumpa di kopdar! (nonadita)
——————————————-
Denah lokasi Mie Janda, Univ Pakuan:
Gerbong Khusus Perempuan: Sebuah Ironi?
06 Sep 2010 2 Comments
in Fasilitas Umum, kebijakan, Sosial Tags: Gender, KRL, Perempuan
Awalnya mungkin ide gerbong khusus perempuan di KRL adalah sebuah angin segar bagi srikandi-srikandi commuter Bogor yang bekerja di Jakarta atau Depok. Namun faktanya, ternyata gerbong-gerbong ini terkadang justru menjadi “pembenaran” atas diskrimansi gender.
Tidak jarang terdengar celetukan penumpang pria yang setengah mengusir perempuan-perempuan yang ada di gerbong reguler untuk masuk ke gerbong khusus perempuan. Kesalahan pengambilan konklusi bahwa “negasi dari benar akan selalu salah” membuat mereka berpikir bahwa penumpang perempuan harusnya ada dan hanya ada di gerbong khusus perempuan.
Dulu di Amerika Serikat apapun selalu dibagi menjadi dua label, “White” dan “Colored”. Sampai akhirnya Martin Luther King Jr. berhasil membuat penyetaraan bagi kaum kulit hitam khususnya dan semua ras minoritas lain pada umumnya di Amerika Serikat. Lantas, apakah gerbong khusus perempuan ini adalah sebuah langkah mundur karena justru memberi jalan untuk sikap diskriminatif.
Seorang teman yang termasuk dalam golongan feminis pernah bilang ke saya,
“Gue paling benci kalo lagi berdiri di bus ato kereta terus gue ditawarin tempat duduk sama mas-mas. Apa karena gue cewek, terus gue dianggep gak mampu berdiri apa?”
Sebagai penutup, tulisan ini bukan dihadirkan untuk memihak pada status pro atau kontra. Tulisan ini hanya sekedar menghadirkan realita yang ada. Realita bahwa sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk sesuatu yang baik ternyata tidak selamanya bisa dipahami dengan baik.
Menelisik Kehidupan Tukang Becak di Matahari
27 Jul 2010 12 Comments
in Sosial Tags: becak, matahari, pasar anyar
Beda dengan becak Jakarta yang semuanya sudah dibuang ke laut, Bogor masih punya banyak becak yang siap melayani penumpangnya. Seorang tukang becak di Matahari (dekat Stasiun Bogor), bernama Ikin, bertutur beberapa hal tentang kehidupannya:
Iqbal: Sudah berapa lama di sini Pak jadi tukang becak?
Ikin: Di matahari ini 17 tahun, dari belum nikah sampai punya 2 anak. Yang satu kelas 1 SMP, yang kedua masih SD. Alhamdulillah bisa biayain, ya dicukup-cukupinlah.
Iqbal: Sehari biasanya bawa penumpang berapa kali Pak?
Ikin: Sekitar 10 kali lah. Itu dari jam 9 pagi sampai sore.
Iqbal: Bisa dapat berapa tu Pak?
Ikin: Sekitar 30-40 ribu. Pahitnya 20 lah. Alhamdulillah dicukup-cukupinlah.
Iqbal: Ada penumpang yang baik gak sih Pak sampai ngash lebih banyak?
Ikin: Ya ada yang ngasih 10 ribu, ada yang 8 ribu, 15 ribu.
Iqbal: Biasanya orang-orang kebanyakan naik becak ke mana sih Pak?
Ikin: Paling ke Matahari, Pasar Anyar, PGB. Itu pasaran 4 ribu, 5 ribu.
Iqbal: Paling jauh pernah ke mana Pak?
Ikin: Pondok Rumput, itu pasaran 15 ribu.
Iqbal: Ada penumpang yang nyeleneh gak sih sampai minta ke Dramaga misalnya?
Ikin: Ada, tapi saya bilang gak kuat.
Iqbal: Pernah bawa bule gak Pak?
Ikin: Pernah, dia dulu ke Hotel Sartika (santika kali ya?), tapi jarang gitu.
Iqbal: Dia ngasih duitnya banyak gak?
Ikin: Cuma lima ribu perak, malah lebih murah dari orang-orang kita.
Iqbal: Kok gak minta tambah?
Ikin: Saya udah bilang kurang, tapi kan dia ngomongnya bahasa Inggris jadi kurang paham. Kita kan gak tahu bahasa Inggris, haha… More
Kata Seorang Portir
06 Jul 2010 4 Comments
in Fasilitas Umum, Sosial Tags: kecelakaan, pedagang, portir, preman, stasiun bogor
Irfan, seorang Portir Stasiun Bogor bicara banyak hal tentang pekerjaannya, kejadian-kejadian di lingkungannya, dan hubungan pengelola dengan beberapa pihak di sekitar stasiun. Berikut percakapan saya:
Iqbal: Sudah berapa lama mas kerja di stasiun Bogor?
Irfan: Saya sudah 2,5 tahun kerja di stasiun Bogor sebagai Portir. Portir itu memeriksa karcis penumpang yang masuk maupun yang keluar.
Iqbal: Selama kerja, ada pengalaman menarik gak?
Irfan: Kalau kecelakaan itu sering. Ada yang kesetrum sampai habis mukanya. Mungkin dia turunnya di jalan baru situ yang mau masuk stasiun Bogor. Mungkin dia ketakutan ngeliat petugas, dia pegang besinya itu. Itu saya baru ketemu kejadian sekali. Ada juga masuk peron perempuan umur 17 tahun lah. Dia masuk ke sela-sela kereta lewat, badannya remuk. Sempat masih ada nafasnya, pas sampai RS langsung meninggal. Yang bawa ke rumah sakit ya petugas.
Iqbal: Waduh, parah juga ya….
Irfan: Pernah juga ada kejadian di pasar Anyar, di pelintasan, ada yang ketabrak, meninggal.
Iqbal: Kalau pengamen itu resmi gak sih?
Irfan: Ada yang resmi ada yang nggak, tapi saya kurang tahu juga sih. Tapi yang jelas hubungannya sama petugas bagus-bagus aja.
Iqbal: Kalau pedagang?
Irfan: Itu ada yang legal ada yang illegal. Ada yang punya Kartu Tanda Anggota (KTA). Yang punya KTA boleh masuk.
Iqbal: Sering ada razia gak sih buat yang gak megang KTA?
Irfan: Iya, di sini ada yang namanya Pamsus, dia khusus buat menertibkan pedagang sama bantu-bantu keamanan.
Iqbal: Portir berapa orang sih di sini mas?
Irfan: Ada sekitar 40 orang.
Iqbal: Kerjanya jam berapa tuh?
Irfan: Ada 3 shift. Pertama 4 subuh sampai 12.30. Kalau shift 2 masuk jam 12.30, pulang jam 9 malam. Shift 3 jam 9 malam sampai 4.30.
Iqbal: Padahal malam di sini kan tutup ya?
Irfan: Tutup, tapi jaga-jaga. Kadang ada kejadian dipotong besi atau bantalan relnya, dijual. Kalau di Bogor belum ada kejadian, tapi buat jaga-jaga aja.
Iqbal: Copet?
Irfan: Ya ada aja. Tapi saya gak kenal mereka, mukanya gak kenal. Waktu itu saya ketemu langsung kasih ke polisi.
Iqbal: Seorang atau berkelompok?
Irfan: Waktu itu dapatnya seorang. Ada yang ebrkelompok, tapi mungkin di stasiun lain.
Iqbal: Okay, terima kasih ngobrol-ngobrolnya mas Irfan.
Waspadai Jambret Bermotor!
22 Jun 2010 10 Comments
in Sosial Tags: Jambret bermotor, keamanan kota, Kota Bogor, tips dan trik, tips waspada
Baru kemarin, seorang sahabat (Icha) bercerita tentang pengalaman buruk: hampir jd korban jambret yang menggunakan motor. Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Kencana, setelah maghrib saat suasana sepi. Untuk mempertahankan tasnya, Icha sampai jatuh terseret penjambret bermotor tersebut. Namun syukurlah, tas tersebut tidak jadi berpindah tangan.
Pengalaman buruk serupa menimpa juga tetangga saya, seorang perempuan berjilbab yang rutin menggunakan motor untuk bepergian sehari-hari. Beberapa minggu lalu, dua orang penjambret bermotor menyalipnya di sekitar Laladon, Ciomas dan berhasil mengambil tasnya. Teman saya kaget dan motornya pun oleng. Malang, sebuah mobil Kijang menghantamnya dari depan dan menyebabkan dua kakinya patah. Sampai hari ini, dia masih dalam pengobatan & belum bisa pulang ke rumahnya.
Modus operandi penjambretan seperti ini sebenarnya sudah lama, namun rupanya belum terlalu klasik untuk digunakan sampai sekarang. Pada umumnya, penjahat ini mengincar perempuan yang menggunakan tas di bahu dan sendirian di kawasan yang sepi.
Berikut adalah tips-tips dari Icha yang didapatnya sebagai hikmah kejadian kemarin:
- Tas bahu sering menjadi incaran karena mudah ditarik. Sebaiknya gunakan tas yang talinya kokoh atau gunakan backpack sekalian
- Simpan tas di bahu kiri, sehingga lebih sulit dijambret orang yang biasanya berada di sebelah kanan (bila sedang di jalan raya)
- Jangan membawa terlalu banyak barang di kedua tangan, supaya kita fokus pada semua barang bawaan kita. Sebaiknya jangan menggunakan ponsel ketika sedang di jalanan
- More







Recent Comments