BogorWatch

September 30, 2009

Lapangan Putih di IPB Baranangsiang

Filed under: Uncategorized — Kebon jahe @ 5:45 pm
Tags: , ,

oleh kontributor BogorWatch: eP

Apa definisi ajaib? Labu menjadi kereta? terbang dengan naga? atau singa bisa bicara? Bagi saya ajaib adalah ketika satu hal sederhana mampu membuat tawa rekah pada banyak wajah. Seperti ketika sore itu, sesaat sebelum meninggalkan kota bogor, saya melintasi taman koleksi dan lapangan rumput di depan kampus ipb Baranangsiang. Di sana, bediri gagah sebuah pohon kapuk randu raksasa. Kapuk yang sudah menjulang lama, semenjak kampus IPB ini didirikan.

Bagi mahasiswa-mahasiswa IPB, mungkin musim pecah kapuk randu di tengah kemarau bukan lagi hal yang aneh. Tapi bagi saya, melihat angin menghembus menerbangkan berkas kapuk ke udara, lantas hinggap putih di mana-mana, adalah ajaib.

kapuk yang berjatuhan di depan Kampus IPB Baranangsiang (foto oleh: kebon jahe)

Pengunjung memanfaatkan fenomena ini untuk diabadikan atau hanya sekedar dinikmati (foto oleh: kebon jahe)

Saya tersenyum senang tiap kali angin bertiup cukup kencang, lalu serpih-serpih itu melayang, terbawa, menemukan gravitasinya, dan hinggap. Terpesona, saya melangkah ke tengah lapangan rumput yang telah ditutupi kapuk di sana-sini. Sepintas, mirip hujan salju baru turun di tempat ini. Orang-orang berfoto, anak-anak kecil bermain berlarian. Sebagian duduk-duduk ditepi. Sama-sama menikmati saat-saat yang tampak tak biasa ini.

lapangan yang penuh dengan kapuk (foto oleh: kebon jahe)

lapangan yang penuh dengan kapuk (foto oleh: kebon jahe)

Tak ada ruginya berkunjung ke tempat ini di kala senja dan langit beranjak teduh. Melihat interaksi unik manusia kota dengan pohon kapuk randu tua. Seraya melepas lelah, melepas imaji, mungkin melihat kapuk ringan bercanda dengan angin mampu meringankan beban apapun yg kita masing-masing miliki..

September 19, 2009

Pohon Kenari: (Mencoba) Tegak Sampai Tegakan Terakhir

Filed under: Uncategorized — Kebon jahe @ 7:14 pm
Tags: , ,
rimbunan pohon kenari

Rimbunan Pohon Kenari di Sepenggal Jalan Pemuda

Meski sudah mulai dilupakan, ternyata pohon kenari memiliki sejarah tersendiri di Kota Bogor. Selain dikenal dengan nama Kota Hujan, Bogor pun sempat dikenal dengan sebutan Kota Kenari. Disebut demikian karena banyaknya pohon kenari yang tumbuh di Bogor. Bahkan pohon kenari saat ini sudah ditetapkan sebagai ciri khas Flora Kota Bogor.

Pohon kenari jika sudah cukup tua bisa memiliki batang yang besar dan tudung yang rimbun. Walaupun rimbun, guguran pohon kenari relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan pohon-pohon jenis lain yang juga biasa ditanam di pinggir jalan, seperti pohon mahoni.

Pohon kenari memiliki buah yang keras, sehingga biasa disebut dengan biji kenari. Buah kenari ini biasa dijadikan makanan oleh tupai. Oleh sebagian pengrajin di Bogor, buah kenari juga dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan. Gantungan kunci dari buah kenari sudah sejak lama dikenal sebagai cinderamata khas kota Bogor yang biasa dijajakan di sekitar pintu masuk Kebun Raya Bogor.

Jika berkesempatan singgah ke kota Bogor, cobalah sekali-sekali melintasi jalan satu arah di jalan Pemuda atau jalan Ahmad Yani. Maka di kiri-kanan jalan akan dijumpai pohon-pohon kenari berukuran besar. Tidak ada yang tahu pasti semenjak kapan pohon-pohon kenari ini mulai ditanam. Namun konon kabarnya, pohon-pohon kenari di kedua jalan ini sudah ditanam semenjak jaman kolonial Belanda ketika Dandaels membuat jalan yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor.

Selain di jalan Pemuda dan jalan Ahmad Yani, pohon kenari juga dapat ditemui di Kebun Raya Bogor. Bahkan nama jalan selepas gerbang utama Kebun Raya Bogor pun diberi nama jalan Kenari I. Sama seperti jalan Pemuda dan jalan Ahmad Yani, kedua sisi jalan di dalam Kebun Raya Bogor ini juga ditanami pohon-pohon kenari.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor, Jumlah pohon kenari di sepanjang ruas jalan Ahmad Yani dan jalan Pemuda saja mencapai 130 pohon. Belum lagi bila ditambahkan dengan pohon-pohon kenari di jalan-jalan lainnya. Jumlah yang amat banyak itu membuat pohon kenari menjadi vegetasi yang paling dominan sebagai pohon yang ditanam di sisi-sisi jalan Kota Bogor.

Suasana jalan yang rindang membuat teriknya matahari menjadi tidak terasa manakala kita melintasi jalan-jalan ini di siang hari. Cobalah berjalan kaki di trotoar kedua jalan ini, maka rasa nyaman akan terasa. Rasa nyaman seperti inilah yang mungkin dirasakan orang-orang Belanda jaman dulu hingga menjadikan Bogor sebagai kota peristirahatan.

Potensi Bahaya.

Meskipun tampak rindang, pohon-pohon kenari yang ada di pinggir jalan ini menyimpan potensi yang dapat membahayakan pengguna jalan. Menurut Deni Sediawan, Kepala Bidang Pertamanan Kota Bogor, banyak pohon kenari yang saat ini sudah keropos bahkan mati. Pohon-pohon tersebut dapat roboh sewaktu-waktu dan membahayakan jiwa pengguna jalan.

Oktober 2008 lalu, ratusan batang pohon tumbang di sepanjang jalan Ahmad Yani yang mana sebagian besar adalah pohon kenari. Pohon-pohon tersebut bertumbangan setelah didera hujan deras dan angin kencang. (more…)

February 6, 2009

bogor ketika hujan

Filed under: Uncategorized — Kebon jahe @ 9:00 pm
Tags: ,

entah bagaimana dengan anda. tapi beberapa hari ini saya merasa amat damai. hujan yang tidak kunjung berhenti mungkin memang membuat kesal sebagian orang. jemuran yang tak kunjung kering, dagangan yang sepi pembeli, janji yang harus dijadwal ulang. tapi untuk saya suasana yang ada sangat sempurna untuk bekerja.

siang tadi pekerjaan saya selesai, dan saya memutuskan untuk keluar dari rutinitas dan menikmati kota bogor yang basah. ketika sampai di daerah sempur, tepat di atas sungai ciliwung, tiba-tiba saya teringat kejadian 14 tahun yang lalu. saat pertama kalinya saya melintasi jalan itu. suasananya persis sama. hujan lebat, jalanan yang tidak padat, memberi nuansa hangat di tengah dinginnya udara.

saya sadar, bahwa 14 tahun yang lalu, ternyata saya telah jatuh cinta pada bogor. inilah bogor yang saya sukai. tidak peduli orang yang terus mengomel karena hujan tak kunjung reda, tapi saya suka bogor ketika hujan.

bogor ketika hujan siang tadi ternyata membawa wajah bogor 14 tahun yang lalu ke permukaan. ketika angkot tidak merajai jalanan. bogor ketika hujan siang tadi seakan berusaha meyakinkan kembali kepada saya kenapa bogor disebut sebagai kota hujan. tidak heran orang-orang belanda jaman dulu membuat bogor sebagai tempat peristirahatan. sebelum orang – orang pribumi membuat bogor menjadi pikuk dan mengungsikan tempat peristirahatan itu sedikit ke atas lagi, ke puncak.

truk sampah

Filed under: Uncategorized — Kebon jahe @ 8:58 pm
Tags: ,

tau gak ke mana sampah yang kita buang di kota ini terus dibawa? jawabannya adalah ke TPA Galuga. TPA Galuga berada di sebelah barat kota Bogor. kalo kita ngelewatin jalan raya Darmaga, maka TPA bisa ditemuin sekitar 10 km setelah kampus IPB Darmaga ke arah Leuwiliang.

beberapa hari ini saya merhatiin kalo truk pengangkut sampah mondar-mandir dalam frekuensi yang lebih sering dari biasanya. bahkan kadang terlihat berjejer dua sampai tiga truk, ikut dalam antrian kemacetan gak penting khas bogor di jalan raya darmaga.

sampah yang diangkut bau banget dan air sampah (lindi) selalu netes dari bak truk ke jalanan. mungkin truk-truk ini abis ngangkut sampah dari badan sungai ciliwung atau cisadane. musim ujan gini, banjir selalu jadi bahaya yang nakutin.

January 13, 2009

jembatan subway kosong

Filed under: Uncategorized — Iqbal @ 8:50 am

lorong bawah tanah di dekat tugu kujang

lorong bawah tanah di dekat tugu kujang

Ada yang tahu jembatan bawah tanah yang selalu ditutup di dekat tugu kujang? Kebetulan sekali ketika saya lewat, tempat itu dibuka.

Saya orang satu-satunya yang lewat tempat itu pada saat itu. Kondisinya cukup terawat. Sepertinya subway ini bagus untuk membuat tertib para penyeberang.

Satu hal yang mungkin menjadi alasan pemkot lebih sering menutup subway ini, yaitu banyak yang kencing di tempat ini. Ah, payah !

jagalah kebersihan !

jagalah kebersihan !

October 12, 2008

Buang Air di Tempat Wudhu

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 9:09 am
tempat wudhunya mirip seperti gambar

tempat wudhunya mirip seperti gambar

Selama saya hidup selama 22 tahun, seringkali saya mampir ke masjid untuk beribadah, mungkin sudah ratusan kali. Namun, baru kali ini saya melihat ada warga yang buang air di tempat wudhu. Sebetulnya ada toilet di sebelah tempat wudhu itu, tapi mungkin warga malas mengantre akhirnya memakai tempat wudhu. Padahal, kalau ia mau mengantri hanya akan memakan waktu tidak lebih dari 10 menit.

Tempatnya di dekat terminal laladon. Kalau kita susuri jalan antara terminal laladon dan lampu merah, maka akan terlihat masjid ini di sebelah kanan.

Sayangnya, bukan satu dua orang saja yang buang air di tempat wudhu itu, tapi ada banyak. Kalau tidak kepepet waktu yang sudah menjelang Isya, mungkin saya akan sholat di tempat lain.

Kenapa bisa begini ya? Apa karena daerah itu urban area sehingga pendidikan adab kurang diperhatikan?

October 7, 2008

Pakuan Dijual Berapa?

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 6:00 pm
hati-hati! perkataan Anda bisa jadi tantangan untuk orang lain

hati-hati! perkataan Anda bisa jadi tantangan untuk orang lain

Tentang kebenaran cerita ini, silakan Anda cari Lukmanul Hakim, mahasiswa Hkum Pakuan. Dia bercerita baik sekali sehingga membuat saya percaya. Tapi belum pasti juga tentang kebenarannya. Begini ceritanya:

Tahu tiga rumah besar persis di sebelah kampus Pakuan? Tepatnya di depan balai benih… Nah, suatu ketika, petinggi-petinggi universitas Pakuan membuat gathering kecil-kecilan dengan tetangga-tetangganya, termasuk tiga rumah besar di sebelahnya… Melihat keadaan gathering yang cukup kondusif, petinggi Pakuan menyampaikan maksudnya ingin membeli tiga rumah tersebut dalam rangka perluasan kampus. Kira-kira berikut percakapannya:

Petinggi Universitas Pakuan (PUP) : Pak, kami punya rencana memperluas kampus Pakuan

Pemilik 3 Rumah Besar (P3RB) : ooh, bagus itu…

PUP : kira-kira, rumah Bapak mau dijual berapa?

P3RB : lohh? *berani-beraninya!* Kalau Pakuan, mau dijual berapa?! Saya juga mau memperluas rumah nih!

PUP : ???

October 6, 2008

Balada Agra Mas

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 5:23 pm
ini bukan keadaan yang sesungguhnya

ini bukan keadaan yang sesungguhnya

I’m the one who wants to be with you…

Deep inside I hope you feel it too…

Waiting on the line of dream comes true…

Just to be the next to be with you…

(Mr.Big)

Lirik di atas kalo gak gw denger di MP3 ya temen2 gw aja gitaran nyanyi Mr Big. Baru kali ini gw denger pengamen bis nyanyi aliran beginian, pake petikan-petikan persis di lagunya juga loh…

Pengamen kali ini berdua. Yang satu main melodi. Selain Mr Big, mereka juga nyanyiin lagu-lagu setipe yang gw sayup-sayup pernah denger, tapi lupa, yang jelas jarang banget dinyanyiin pengamen, apalagi pengamen bis Agra Mas…

September 22, 2008

Sedikit Cerita Tentang Pengamen Stasiun

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 9:11 am
copet di stasiun takut sama pengamen lohh...

copet di stasiun takut sama pengamen lohh...

Pemandangan yang sudah biasa ketika alunan-alunan berbagai genre music bertalu-talu di dalam kereta, di pinggiran rel, di pojokan stasiun, dan tempat-tempat lain di sekitar stasiun. Ya, mereka adalah seniman-seniman jalanan yang biasa menghibur kita di stasiun. Ada yang menggunakan gitar sebagai instrument, keyboard, cello (bentuknya seperti gitar, jauh lebih besar, disender ke lantai), ada juga yang bermodalkan accu sebagai sumber energy gitar dan bass listriknya.

Di satu waktu, saya mendapat kesempatan berbincang dengan salah seorang dari mereka, remaja seumuran SMA, dengan gitar yang selalu dibangga-banggakannya. Dia bercerita tentang keanggotaan dan gap antar pengamen. Ternyata tidak sembarang orang boleh mengamen di stasiun, ada mekanisme registrasi dari manajemen AKA yang harus diikuti. Setelah registrasi, mereka baru boleh keluar masuk stasiun dengan bebas.

Di antara para pengamen, ada semacam strata dan aturan tak tertulis. Ada istilah pengamen senior dan pengamen junior, tentunya ditentukan dari berapa lama ia sudah mengamen dan seberapa bagus permainannya. Aturan tak tertulisnya adalah: sesame pengamen dilarang mendahului, kalau di satu gerbong sedang ada yang mengamen, maka pengamen lain dilarang masuk. Mungkin ini yang menyebabkan tidak pernah terlihat adanya keributan antarpengamen. Mereka solid. Senior dan junior saling hormat. Persaingan mereka sehat.

Ada satu hal yang signifikan berubah ketika banyak pengamen di dalam stasiun, yaitu tidak adanya copet yang berani beraksi. Kalau keadaan di dalam kereta ketika sedang berjalan, itu karena tidak ada pengamen saja. Copet takut dengan pengamen. Mungkin copet dan pengamen sama-sama dari daerah urban, tapi mereka berbeda.

September 19, 2008

Pak Ogah Impor

Filed under: Uncategorized — bogorwatch @ 1:40 pm
loh, mana pak ogahnya?

loh, mana pak ogahnya?

Kalau kita berjalan dari arah kampus IPB Dramaga ke arah Bubulak, lewat jalan Raya Dramaga, tentunya kita akan melewati pertigaan Caringin. Tepat di pertigaan itu, selalu ada Pak Ogah yang mengatur kendaraan yang lewat. Salah satu dari Pak Ogah itu ada yang sangat saya kenali karena kekhasannya.

Secara fisik, dia tinggi, hitam, gondrong, perawakannya mirip orang India-Bangladesh. Selain unik secara fisik, dia bekerja mengatur jalan dengan cara yang unik juga. Saya sulit menggambarkannya, tapi yang jelas gerakan-gerakannya beda dari yang lain, bisa dibilang mirip penari balet. Mungkin satu waktu nanti saya bisa mengambil gambarnya dan berbincang dengannya.

Next Page »

Blog at WordPress.com.