BogorWatch

May 29, 2009

Rahasia Bogor Anti Banjir

Filed under: Fasilitas Umum — Iqbal @ 10:20 am
Tags: ,

pembersihan selokan di jalan Juanda

pembersihan selokan di jalan Juanda

Arsitek Belanda memang mantap! Pemkot pun hebat dalam merawatnya…sehingga tidak ada selokan yang penuh dengan endapan seperti sungai-sungai dan selokan di Jakarta…

April 2, 2009

Curug Panjang Semakin Ramai

Filed under: Fasilitas Umum, pariwisata — Iqbal @ 6:59 pm
Tags: ,

Menuju puncak, tepat di dekat masjid besar di daerah Mega Mendung, ada sebuah jalan seukuran satu mobil dan satu motor. Kalau ditelususri terus ke dalam, kita bisa mencapai sebuah tempat wisata Curug Cilember, air terjun yang cukup digemari masyarakat untuk dikunjungi.

Di sekitar Curug Cilember, ada beberapa curug (air terjun) lain yang tidak kalah serunya, seperti Curug Panjang. Dulunya, kawasan ini dikelola oleh Pertani, tapi sekarang ada pihak swasta yang mengambil alih. Peralihan ini terjadi sekitar 2007.

Si pengelola swasta ini cukup lihai mengelola dan mendidik penduduk sekitar untuk membangun Curug Panjang. Camping Ground disiapkan dan dirawat dengan konsisten. Jalan menuju Curug Panjang juga sudah diperbaiki dan dipenuhi tanda arah menuju curug itu.

Pengelola menarik retribusi sebesar 5 ribu/orang untuk masuk kawasan wisata itu dan 5 ribu lagi kalau kita menginap/camping di kawasan itu. Pengelola juga menyediakan penyewaan berbagai jenis tenda, dapur dadakan, api unggun, dan sebagainya. Untuk dome yang bisa diisi 5 orang, ditembak tariff sewa sebesar 330ribu. Angka itu cukup tinggi bagi para petualang yang suka betul-betul melebur ke alam. Jadilah camping ground itu dipenuhi oleh keluarga-keluarga dari kota. Tidak jarang, puluhan tenda sewaan habis disewa, terutama pada waktu-waktu libur panjang atau weekend.

Keadaan Curug Panjang semakin ramai saja. Ditambah lagi dengan dibukanya tempat wisata Matahari beberapa bulan yang lalu di dekat daerah itu. Bisa-bisa untuk keluar ke jalan raya Puncak, dibutuhkan waktu setengah jam dengan hanya menempuh jarak 1 KM.

Ada banyak hal positif yang merupakan buah dari ramainya kawasan Cilember. Perekonomian penduduk sekitar menjadi semakin bergeliat. Penjual makanan semakin banyak. Vila di sekitar juga semakin ramai dikunjungi.

Namun, kita semua harus hati-hati. Kalau tidak dikelola dengan baik, alam Cilember akan semakin rusak akibat eksploitasi manusia. Ujung-ujungnya, tidak ada manfaat lagi yang bisa diambil dari Cilember.

March 16, 2009

Ironi Masyarakat Rantau

Filed under: kebijakan — Iqbal @ 5:55 pm
Tags: , ,

Tentang memajukan bangsa ini, ya, di dalam hati kami, masyarakat rantau, masih ada keinginan itu, walaupun letaknya agak sedikit di belakang lambung kami. Ada yang mengatakan, salah satu bukti konkretnya adalah dengan ikut serta dalam Pemilu.

Oke, kami mengerti urutan sambung-menyambung antara ikut serta mengisi kotak suara dengan kemajuan Bangsa ini. Namun, bagaimana kalau kesempatan itu tidak ada atau ada tapi sulit untuk digapai?

Sepertinya itulah yang terjadi saat ini. Kami terancam tidak bisa berpartisipasi dalam Pemilu legislative yang sepertinya seru sekali itu karena kami tidak memiliki KTP daerah tempat kami tinggal saat ini. Untuk membuat KTP di daerah tempat kami tinggal sementara, salah satu syaratnya adalah menghapuskan identitas kami di daerah asal. Maaf, sepertinya agak sulit kalau tidak langsung ada contoh kasus.

Sebutlah Arifka Yusri, seorang mahasiswa rantau asal Aceh yang kuliah di Bogor. Hampir empat tahun sudah ia tinggal di Bogor. Tidak pernah sekalipun ia masuk bilik suara. Empat tahun! Padahal undang-undang kita memperbolehkan WNA menjadi WNI hanya dengan tinggal selama enam bulan saja di Indonesia.

Untuk mendapatkan KTP Bogor, ia harus menghanguskan KTP Acehnya. Padahal, itu tidak mungkin karena Arifka hanya berniat kuliah di Bogor, belum tentu menetap.

Yang lebih membuat ironi itu lebih tebal lagi adalah, segala macam proses pencoblosan sampai penghitungan surat suara dilakukan di tempat Arifka tinggal, di asrama Mahasiswa Aceh Leuser, di salah satu sudut daerah Dramaga, Bogor. Karena asrama yang ia tinggali mempunyai tempat yang cukup lapang, maka pengurus RT setempat berkehendak menjadikan ruang tengah asrama Leuser sebagai TPS. Segala macam pemilihan dilakukan di Leuser, baik pilpres, pilgub, maupun pemilihan walikota.

Jadi, pemilihan dilakukan di tempat yang tidak ada satupun orang pemilik tempat itu yang diberikan hak pilih. Begitulah keadaannya. Arifka sudah terbiasa dengan hal tersebut. Terbiasa dibatasi ruang geraknya ketika ada Pemilu. Terbiasa dilarang melewati tali rafia merah yang dibentangkan di sekeliling ruang pemilihan yang juga merupakan tempat tinggalnya bertahun-tahun. Terbiasa memperhatikan setiap garis yang dicoret pada saat penghitungan suara dengan kesadaran sepenuhnya bahwa tidak ada satu garis pun yang berasal darinya. Terbiasa untuk berkomentar di belakang tanpa diberikan kesempatan berpartisipasi aktif. Terbiasa melihat perpolitikan Aceh di layar kaca tanpa bisa ikut dalam pemilihan apapun di Aceh. Ya, kami terbiasa akan hal tersebut.

February 6, 2009

bogor ketika hujan

Filed under: Uncategorized — Kebon jahe @ 9:00 pm
Tags: ,

entah bagaimana dengan anda. tapi beberapa hari ini saya merasa amat damai. hujan yang tidak kunjung berhenti mungkin memang membuat kesal sebagian orang. jemuran yang tak kunjung kering, dagangan yang sepi pembeli, janji yang harus dijadwal ulang. tapi untuk saya suasana yang ada sangat sempurna untuk bekerja.

siang tadi pekerjaan saya selesai, dan saya memutuskan untuk keluar dari rutinitas dan menikmati kota bogor yang basah. ketika sampai di daerah sempur, tepat di atas sungai ciliwung, tiba-tiba saya teringat kejadian 14 tahun yang lalu. saat pertama kalinya saya melintasi jalan itu. suasananya persis sama. hujan lebat, jalanan yang tidak padat, memberi nuansa hangat di tengah dinginnya udara.

saya sadar, bahwa 14 tahun yang lalu, ternyata saya telah jatuh cinta pada bogor. inilah bogor yang saya sukai. tidak peduli orang yang terus mengomel karena hujan tak kunjung reda, tapi saya suka bogor ketika hujan.

bogor ketika hujan siang tadi ternyata membawa wajah bogor 14 tahun yang lalu ke permukaan. ketika angkot tidak merajai jalanan. bogor ketika hujan siang tadi seakan berusaha meyakinkan kembali kepada saya kenapa bogor disebut sebagai kota hujan. tidak heran orang-orang belanda jaman dulu membuat bogor sebagai tempat peristirahatan. sebelum orang – orang pribumi membuat bogor menjadi pikuk dan mengungsikan tempat peristirahatan itu sedikit ke atas lagi, ke puncak.

truk sampah

Filed under: Uncategorized — Kebon jahe @ 8:58 pm
Tags: ,

tau gak ke mana sampah yang kita buang di kota ini terus dibawa? jawabannya adalah ke TPA Galuga. TPA Galuga berada di sebelah barat kota Bogor. kalo kita ngelewatin jalan raya Darmaga, maka TPA bisa ditemuin sekitar 10 km setelah kampus IPB Darmaga ke arah Leuwiliang.

beberapa hari ini saya merhatiin kalo truk pengangkut sampah mondar-mandir dalam frekuensi yang lebih sering dari biasanya. bahkan kadang terlihat berjejer dua sampai tiga truk, ikut dalam antrian kemacetan gak penting khas bogor di jalan raya darmaga.

sampah yang diangkut bau banget dan air sampah (lindi) selalu netes dari bak truk ke jalanan. mungkin truk-truk ini abis ngangkut sampah dari badan sungai ciliwung atau cisadane. musim ujan gini, banjir selalu jadi bahaya yang nakutin.

January 27, 2009

Preman di Pintu Masuk Gunung Bunder

Filed under: Fasilitas Umum, budaya, pariwisata — Iqbal @ 1:15 pm
Tags: , ,

Gunung Bunder adalah salah satu target wisata di Bogor yang cukup digandrungi. Hawanya sejuk, lebih sejuk dari Puncak, apalagi ketika kabut sedang turun. Selain rimbunnya hutan, kita juga dapat menikmati air terjun. Ada beberapa air terjun di Gunung Bunder. Tidak sulit menemukan vila di kawasan ini jika kita ingin bermalam.

Butuh waktu hampir dua jam dengan motor untuk mencapai Gunung Bunder dari Bubulak. Sebelum masuk kawasan, kita akan melewati pintu gerbang yang cukup gagah. Beberapa orang akan menghampiri kita dan meminta uang untuk karcis masuk.

Ketika itu, saya dengan teman saya berempat dengan dua motor. Seseorang menghampiri kami, lalu menghitung jumlah kami dan kendaraan kami. Dia langsung meminta uang sebesar 20 ribu untuk dua motor dan empat orang. Orang yang meminta itu berpakaian seperti penduduk biasa saja. Tidak berseragam.

Saya sudah siap memberikan uang tersebut, tapi saya memintanya untuk memberikan karcis sebagai tanda bukti bahwa kami telah membayarnya. Bukan karcis yang saya dapat, malah nada bicara dari orang itu yang menjadi ketus. “Udah bayar aja 20 ribu, daripada harus muter lagi (lewat pintu yang satu lagi, jauh sekali jaraknya),” katanya. Tidak nyaman dengan kalimat tersebut, saya tetap bertahan untuk meminta karcis. Ia semakin ketus sambil memegang motor yang kami kendarai. Ketka itu, ada beberapa orang tak berseragam yang ada di tempat itu dan memperhatikan kejadian itu, tapi semua diam seribu bahasa. Sepertinya mereka adalah penduduk sekitar.

Melihat suasana memanas, dua orang yang sudah sejak tadi ada di tempat itu dengan sigap mengenakan seragam lalu menghampiri kami dengan membawa karcis yang saya minta. Kami menang. Ternyata biaya untuk 4 orang dan 2 motor hanya 14 ribu. Kami bayar lalu dengan cepat kami melaju masuk kawasan wisata itu. Orang yang ketus tadi menatap kami tidak senang.

Dua orang berseragam tadi sepertinya memang orang yang berwenang di kawasan itu. Hanya berwenang, tidak berkuasa. Sepertinya yang berkuasa adalah orang ketus dan teman-temannya itu. Mirip preman bagi saya. Preman masih berkuasa di pintu masuk Gunung Bunder. Mereka meminta uang untuk dirinya, bukan untuk perawatan kawasan wisata. Mengecewakan.

January 19, 2009

Lapangan Basket Sempur Milik Siapa?

Filed under: Fasilitas Umum — Iqbal @ 6:12 pm
Tags: ,

Dua tahun yang lalu, ketika tinggal di daerah Baranang Siang, saya sempat menggilai basket. Hampir setiap hari saya bermain basket. Kadang di Bogor Baru. Kadang di lapangan sekolah Malabar. Tidak jarang juga saya bermain di lapangan Sempur. Kadang pagi, kadang sore.

Waktu paling enak untuk bermain di lapangan sempur adalah pagi hari karena jarang sekali ada orang yang bermain di pagi hari. Lapangan serasa milik sendiri. Terkadang beberapa anak umuran SMP ikut bermain di pagi hari. Entah tidak sekolah entah sekolahnya siang, tapi saya yakin mereka anak-anak yang tinggal di daerah Sempur.

Kontras keadaannya ketika sore hari. Lapangan basket penuh sampai Maghrib. Bahkan, kalau weekend, tidak hanya sampai maghrib, tapi bisa sampai tengah malam.

Penggila basket di daerah Bogor kota memadati lapangan basket di sore hari. Anak sekolah ada. Anak daerah Sempur banyak. Orang dewasa umuran 20-30 juga mudah didapatkan.

Kepadatan mulai terlihat sejak sekitar pukul 4 sore. Biasanya yang main baru anak-anak daerah sempur dan anak-anak sekolah. Mendekati pukul 5 sore, lapangan semakin ramai. Kali ini yang datang kebanyakan adalah orang-orang dewasa.

Saya pernah sekali waktu sedang asik bermain, tiba-tiba orang-orang dewasa itu, bagi saya, terkesan mengusir kami yang sedang main. Mereka langsung membagi tim kemudian tanpa babibu langsung bermain di lapangan itu. Memang, menurut etika pemakaian lapangan yang saya pahami, ketika ada yang mau bermain di satu lapangan penuh itu sah-sah saja. Namun, harus dengan mengajak seluruh anak yang sedang main ketika itu, walaupun hanya basa-basi.

Itu tidak dilakukan oleh mereka. Secara tiba-tiba, mereka sudah mencoba memasukkan bola ke dalam keranjang yang sedang saya dan teman-teman saya gunakan, pertanda mereka sudah memulai permainan mereka. Kami langsung minggir dan menghentikan permainan dengan sendirinya.

Okelah, memang saya akui skill permainan mereka jauh di atas kami yang sedang main waktu itu. Ritme permainan mereka tinggi. Saya pribadi senang melihat permainan orang dengan ritme tinggi seperti itu, tapi tetap dengan hati dongkol karena dengan seenaknya mereka menguasai satu lapangan.

Mungkin ada yang punya informasi tentang hak pakai lapangan tersebut? Kalau memang ternyata mereka adalah Tim Basket Bogor dan mereka memang diberi jatah main oleh Pemkot setiap sore ya berarti saya yang salah. Tapi kalau tidak, sepertinya mereka harus mengubah tingkah mereka tersebut.

January 13, 2009

jembatan subway kosong

Filed under: Uncategorized — Iqbal @ 8:50 am

lorong bawah tanah di dekat tugu kujang

lorong bawah tanah di dekat tugu kujang

Ada yang tahu jembatan bawah tanah yang selalu ditutup di dekat tugu kujang? Kebetulan sekali ketika saya lewat, tempat itu dibuka.

Saya orang satu-satunya yang lewat tempat itu pada saat itu. Kondisinya cukup terawat. Sepertinya subway ini bagus untuk membuat tertib para penyeberang.

Satu hal yang mungkin menjadi alasan pemkot lebih sering menutup subway ini, yaitu banyak yang kencing di tempat ini. Ah, payah !

jagalah kebersihan !

jagalah kebersihan !

December 23, 2008

Ekspansi Trans Pakuan

Filed under: Fasilitas Umum, kebijakan — Iqbal @ 9:32 am
Tags: , ,
Halte Trans Pakuan di Pajajaran menuju Ciawi sudah rampung

Halte Trans Pakuan di Pajajaran menuju Ciawi sudah rampung

Trans Pakuan selalu seru untuk dibahas. Saya sebagai konsumen tentunya senang dengan adanya kotak abu-abu berbahan jelantah ini. Tapi bagaimana dengan pesaingnya? Angkutan yang rutenya sama dengan kotak ini? Tanpa ditanyakan pun, saya sudah tahu tanggapannya pasti negatif. Untuk memastikan, saya tanya ke supir angkot 03 tentang keberadaan kotak tersebut. Memang negative.

Satu waktu saya ke ciawi naik angkot 01. Sang supir saya ajak ngobrol tentang transpakuan yang katanya mau ekspansi jalur, persis sama dengan jalur 01, baranang siang-ciawi. Lagi-lagi muka cemberut yang keluar.

Keputusan memang harus diambil. Mungkin Pemkot Bogor menggebu-gebu dalam membangun trans pakuan dalam rangka memperkecil kemacetan dan menghilangkan cap kota sejuta angkot. Itu bagus menurut saya. Ada lagi yang didapat selain dua hal di atas. Ekonomi biaya tinggi akan berkurang. Karena tidak ada calo yang mengutip “uang keamanan” kepada supir transpakuan baik di pool maupun di sepanjang perjalanannya.

Sampai sekarang, sudah dibangun dengan rapi beberapa halte sepanjang jalur yang akan dibuka itu. Halte utamanya, di Br.Siang, juga sudah hampir rampung diperluas. Kata beberapa supir, jalur baru ini akan diaktifkan awal januari 2009. Semoga lancar (ini doa dari saya, bukan supir 01).

December 19, 2008

PP Sepi…

Filed under: Fasilitas Umum — Iqbal @ 8:43 am
Tags: , ,

Pintu depan PP menjelang Maghrib di hari kerja. Sepi...

Pintu depan PP menjelang Maghrib di hari kerja. Sepi...

Sudah cerita lama kalau Pangrango Plaza sepi. Kian lama kian sepi. Mungkin ini karena munculnya BTM dan menyeruaknya Botani ke permukaan.

Untung saja masih ada Giant di PP. Kalau tidak, bisa lebih sepi lagi…

« Previous PageNext Page »

Blog at WordPress.com.