di mana kami harus melangkahkan kaki?

2009 November 12
by Kebon jahe

pemerintah akhirnya mencoba memberi solusi atas kemacetan yang jamak terjadi di sepanjang jalan raya darmaga. sebuah proyek yang dilakukan semenjak medio ramadhan yang lalu akhirnya setengah rampung. proyek tersebut adalah pelebaran ruas jalan raya darmaga.

pelebaran jalan ini bisa dilihat mulai dari depan kawasan IPB Darmaga sampai depan hotel duta berlian yang memang sering menjadi titik kemacetan pada pagi dan petang. meskipun telah dilebarkan, ternyata macet tetap saja hadir. rasanya lebarnya ruas jalan bukanlah permasalahan utama. kedisiplinan sopir, terutama sopir angkot, yang menjadi pangkal masalah kemacetan di jalan raya darmaga.

selain tidak bisa menjawab kemacetan yang acap terjadi, pelebaran jalan juga memakan hak pejalan kaki. ruas tanah kosong yang sedianya untuk pejalan kaki harus terampas untuk disulap menjadi hamparan aspal.

pejalan kaki
pejalan kaki: di mana kami harus melangkah?

mungkin sampai kapanpun nanti, pejalan kaki akan selalu menjadi warga negara kelas akhir. setelah harus rela berbagi trotoar dengan pedagang makanan kaki lima dengan tenda yang menyita ruang trotoar, kemudian juga penjajahan trotoar oleh kendaraan bermotor di saat macet, kini mereka harus kehilangan sepenuhnya hak atas trotoar. di mana lagi pejalan kaki harus melangkah? di atas kubangan selokankah? read more…

Kenapa Berputar?

2009 November 10
by Iqbal

Empat tahun yang lalu, sepertinya di ujung tol Baranang Siang tidak ada pengalihan arus kendaraan dari arah Kujang menuju Tajur. Beberapa tahun ini saja diberlakukan aturan tersebut. Juga di Jalan Raya Dramaga dari arah kampus IPB menuju Bubulak.

Kalau diasumsikan jarak berputar di ujung tol itu 100 meter x 2 (bolak-balik), maka 200 meter sia-sia buat si pengendara. Jika harga bensin subsidi Rp4.500/liter dan konversi bensin ke jarak yaitu 1 liter untuk 50 kilometer (untuk motor), maka dalam satu kali pemutaran, pengendara motor seperti membuang Rp18.

Kalau dalam 1 menit ada 50 motor yang lewat, maka dalam 1 hari (dihitung arus kendaraan aktif 15 jam) uang yang dibuang sia-sia untuk bensin karena jalan diputar adalah sebesar Rp81 ribu atau setara dengan 18 liter bensin subsidi. Dari asumsi-asumsi di atas, kesimpulannya, dengan diputarnya jalan di ujung tol Baranang Siang maka dampaknya dalam 1 hari terbuang uang sia-sia sebesar Rp81 ribu dan bensin menguap mencemari udara sebanyak 18 liter.

Hitung-hitungan di atas adalah dampak minimal, karena tidak menghitung variable uang negara untuk mensubsidi bensin dan waktu serta tenaga yang dikeluarkan ketika melewati 200 meter jalan sia-sia tersebut.

Kalau diputarnya jalan tersebut sudah berlangsung 3 tahun, berarti uang yang sudah terbuang sebesar Rp88.695.000 dan bensin yang sudah menguap sia-sia mencemari udara sebanyak 19.710 liter bensin.

Pastinya ada alasan kuat dari Pemkot atau siapapun yang mengatur dibelokkannya arus kendaraan itu, menghindari kemacetan mungkin. Tapi kok lama betul ya diputarnya? Sampai bertahun-tahun. Seorang dosen saya pernah memberikan solusi, dengan dibuatnya by pass seperti yang ada di jalan baru. “Itu investasi besar yang bisa mengenyahkan masalah-masalah di atas,” katanya. Apalagi mengingat ke depannya arus kendaraan akan semakin padat seiring bertambahnya penduduk.

Mungkin yang menjadi alasan Pemkot adalah tiadanya dana untuk merealisasikan hal tersebut. Tapi apa iya ? Jangan-jangan malah pemutaran jalan tersebut tidak terpikir efek sia-sianya. Baru akan terpikir lagi kalau arus kendaraan sudah menimbulkan kemacetan lagi walaupun sudah diputar. Semoga tidak.

Terima Kasih atas Dukungan untuk BogorWatch!

2009 November 1

Ya, TERIMA KASIH!

Atas dukungan suara anda, atas do’a anda, atas masukan dan kritik, dan atas kesediaan anda untuk kembali lagi membaca tulisan-tulisan dalam BogorWatch.

 

Pada ajang XL Blog Award Pesta Blogger 2009 yang lalu, blog ini terpilih sebagai Blog Kategori Sosial dan Politik Terbaik. Kami bangga bisa menerima penghargaan tersebut, tentu menjadi pemicu semangat kami untuk terus menuliskan tentang Bogor. Mudah-mudahan kami dapat terus berkarya menyajikan tulisan yang berkualitas tentu untuk Bogor tercinta. (nonadita, iqbal dan kebon jahe)

Sumber gambar: Blog Mahadaya

Ngomong-ngomong transpakuan

2009 October 5
by Kebon jahe

entah bagaimana dengan anda, tapi saya merasa pelayanan PDJT Kota Bogor melalui bus transpakuan mengecewakan. karoseri bus yang buruk sehingga banyak interior bus yang rusak, AC yang gagal mendinginkan ruang kabin, sampai pintu hidrolik yang kini berubah menjadi pintu manual adalah serentetan ketidaknyamanan bus transpakuan. bukannya memperbaiki kekurangan-kekurangan fundamental yang ada, transpakuan justru melakukan inovasi-inovasi yang tidak jelas tujuannya. inovasi itu antara lain adalah pemasangan layar pemantau (cctv) yang biasa tergantung di jendela depan dan rotary door di pintu keluar bus yang justru menyulitkan penumpang naik dan turun.

anehnya, semua inovasi itu seperti mandek di tengah jalan. layar pemantau tidak pernah difungsikan dan rotary door, yang sedianya digunakan untuk penumpang langganan dengan karcis elektrik, juga tidak kunjung terealisasi.

tidak sampai di situ, pembukaan trayek baru ciawi-baranangsiang seperti tidak melalui perencanaan yang matang. trayek dengan jalur yang sama persis dengan rute angkutan kota 01A membuat bus transpakuan trayek ini sepi penumpang.  dan sekarang, inovasi baru kembali diluncurkan, yaitu dengan menggunakan perempuan sebagai kondektur bus.

entah perasaan saya saja atau memang demikian adanya, tapi saya merasa si kondektur terlalu modis untuk menjadi kondektur

 

 

Bingkai: Anak Pemulung

2009 October 5
by Kebon jahe

bigger than my body

Lokasi : Depan Ekalokasari Plaza

Waktu : 4 Oktober 2009

Seorang anak kecil dengan karung yang lebih besar dari badannya berjalan cepat mengikuti kakaknya sembari mengumpulkan botol dan gelas plastik yang banyak berserakan di jalan setelah hujan besar.

Lapangan Putih di IPB Baranangsiang

2009 September 30
by Kebon jahe

oleh kontributor BogorWatch: eP

Apa definisi ajaib? Labu menjadi kereta? terbang dengan naga? atau singa bisa bicara? Bagi saya ajaib adalah ketika satu hal sederhana mampu membuat tawa rekah pada banyak wajah. Seperti ketika sore itu, sesaat sebelum meninggalkan kota bogor, saya melintasi taman koleksi dan lapangan rumput di depan kampus ipb Baranangsiang. Di sana, bediri gagah sebuah pohon kapuk randu raksasa. Kapuk yang sudah menjulang lama, semenjak kampus IPB ini didirikan.

Bagi mahasiswa-mahasiswa IPB, mungkin musim pecah kapuk randu di tengah kemarau bukan lagi hal yang aneh. Tapi bagi saya, melihat angin menghembus menerbangkan berkas kapuk ke udara, lantas hinggap putih di mana-mana, adalah ajaib.

kapuk yang berjatuhan di depan Kampus IPB Baranangsiang (foto oleh: kebon jahe)

Pengunjung memanfaatkan fenomena ini untuk diabadikan atau hanya sekedar dinikmati (foto oleh: kebon jahe)

Saya tersenyum senang tiap kali angin bertiup cukup kencang, lalu serpih-serpih itu melayang, terbawa, menemukan gravitasinya, dan hinggap. Terpesona, saya melangkah ke tengah lapangan rumput yang telah ditutupi kapuk di sana-sini. Sepintas, mirip hujan salju baru turun di tempat ini. Orang-orang berfoto, anak-anak kecil bermain berlarian. Sebagian duduk-duduk ditepi. Sama-sama menikmati saat-saat yang tampak tak biasa ini.

lapangan yang penuh dengan kapuk (foto oleh: kebon jahe)

lapangan yang penuh dengan kapuk (foto oleh: kebon jahe)

Tak ada ruginya berkunjung ke tempat ini di kala senja dan langit beranjak teduh. Melihat interaksi unik manusia kota dengan pohon kapuk randu tua. Seraya melepas lelah, melepas imaji, mungkin melihat kapuk ringan bercanda dengan angin mampu meringankan beban apapun yg kita masing-masing miliki..

Monster, Solidarisme ala Supir Angkot

2009 September 30
by Iqbal

Pernah ‘ngeh’ dengan tulisan “Monster” di jidat angkot yang berseliweran di Bogor? Ternyata supir angkot tidak seenaknya saja bisa memajang stiker “Monster”. Ada regulasi yang harus dipatuhi sebelum dinyatakan sah mendapat lisensi “Monster”.

Pernah satu waktu, aku berbincang dengan supir yang masuk komunitas “Monster” ini. Dia bilang, untuk awalan, anggota dikenakan biaya pendaftaran Rp150 ribu. Dengan uang segitu, sang anggota mendapatkan semacam ID card dan kaos komunitas, tentunya lengkap dengan pengakuan bahwa dia sudah masuk keluarga besar “Monster”.

Kalau yang aku tangkap dari omongannya, sepertinya anggota “Monster” eksklusif di kalangan supir angkot. Punya kedudukan lebih terhormat dari supir angkot biasa. Mereka juga lebih disegani. Supir angkot yang lain mesti berpikir dua kali kalau berurusan dengan anggota “Monster”. Bukan apa-apa, namanya komunitas yang sudah solid, kalau kawannya diusik, satu komunitas akan turun membantu.

“Monster” memang kompak. Mereka saling peduli di jalanan. Perlakuan sesama supir “Monster” akan berbeda dengan perlakuan supir “Monster” dengan supir biasa. Kalau anggota melihat supir angkot yang tidak dia kenal sedang kesusahan karena angkotnya mogok mungkin dia tidak akan terlalu peduli. Tapi kalau yang mogok itu angkot “Monster”, akan lain ceritanya. Bisa jadi dia akan turun membantu atau setidak-tidaknya berhenti sejenak untuk sekedar memberi saran.

Lalu, untuk apa uang Rp150 ribu nya? Kalau sang supir anggota komunitas atau bahkan istrinya sakit maka bendahara yang didapuk oleh manajemen “Monster” akan menggelontorkan sejumlah dana. Manajemen juga mendapat dana dari iuran yang dikutip setiap hari sebesar Rp3 ribu per anggota.

Dalam satu tahun, ada satu waktu saat anggota “Monster” berkumpul, kalau orang kota bilang, gathering. Saat itu, bisa ribuan angkot yang ikut ambil bagian dalam memeriahkan acara. Mereka solid sehingga mendapat posisi yang lebih eksklusif di mata supir lain.

Pohon Kenari: (Mencoba) Tegak Sampai Tegakan Terakhir

2009 September 19
by Kebon jahe
rimbunan pohon kenari

Rimbunan Pohon Kenari di Sepenggal Jalan Pemuda

Meski sudah mulai dilupakan, ternyata pohon kenari memiliki sejarah tersendiri di Kota Bogor. Selain dikenal dengan nama Kota Hujan, Bogor pun sempat dikenal dengan sebutan Kota Kenari. Disebut demikian karena banyaknya pohon kenari yang tumbuh di Bogor. Bahkan pohon kenari saat ini sudah ditetapkan sebagai ciri khas Flora Kota Bogor.

Pohon kenari jika sudah cukup tua bisa memiliki batang yang besar dan tudung yang rimbun. Walaupun rimbun, guguran pohon kenari relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan pohon-pohon jenis lain yang juga biasa ditanam di pinggir jalan, seperti pohon mahoni.

Pohon kenari memiliki buah yang keras, sehingga biasa disebut dengan biji kenari. Buah kenari ini biasa dijadikan makanan oleh tupai. Oleh sebagian pengrajin di Bogor, buah kenari juga dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan. Gantungan kunci dari buah kenari sudah sejak lama dikenal sebagai cinderamata khas kota Bogor yang biasa dijajakan di sekitar pintu masuk Kebun Raya Bogor.

Jika berkesempatan singgah ke kota Bogor, cobalah sekali-sekali melintasi jalan satu arah di jalan Pemuda atau jalan Ahmad Yani. Maka di kiri-kanan jalan akan dijumpai pohon-pohon kenari berukuran besar. Tidak ada yang tahu pasti semenjak kapan pohon-pohon kenari ini mulai ditanam. Namun konon kabarnya, pohon-pohon kenari di kedua jalan ini sudah ditanam semenjak jaman kolonial Belanda ketika Dandaels membuat jalan yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor.

Selain di jalan Pemuda dan jalan Ahmad Yani, pohon kenari juga dapat ditemui di Kebun Raya Bogor. Bahkan nama jalan selepas gerbang utama Kebun Raya Bogor pun diberi nama jalan Kenari I. Sama seperti jalan Pemuda dan jalan Ahmad Yani, kedua sisi jalan di dalam Kebun Raya Bogor ini juga ditanami pohon-pohon kenari.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor, Jumlah pohon kenari di sepanjang ruas jalan Ahmad Yani dan jalan Pemuda saja mencapai 130 pohon. Belum lagi bila ditambahkan dengan pohon-pohon kenari di jalan-jalan lainnya. Jumlah yang amat banyak itu membuat pohon kenari menjadi vegetasi yang paling dominan sebagai pohon yang ditanam di sisi-sisi jalan Kota Bogor.

Suasana jalan yang rindang membuat teriknya matahari menjadi tidak terasa manakala kita melintasi jalan-jalan ini di siang hari. Cobalah berjalan kaki di trotoar kedua jalan ini, maka rasa nyaman akan terasa. Rasa nyaman seperti inilah yang mungkin dirasakan orang-orang Belanda jaman dulu hingga menjadikan Bogor sebagai kota peristirahatan.

Potensi Bahaya.

Meskipun tampak rindang, pohon-pohon kenari yang ada di pinggir jalan ini menyimpan potensi yang dapat membahayakan pengguna jalan. Menurut Deni Sediawan, Kepala Bidang Pertamanan Kota Bogor, banyak pohon kenari yang saat ini sudah keropos bahkan mati. Pohon-pohon tersebut dapat roboh sewaktu-waktu dan membahayakan jiwa pengguna jalan.

Oktober 2008 lalu, ratusan batang pohon tumbang di sepanjang jalan Ahmad Yani yang mana sebagian besar adalah pohon kenari. Pohon-pohon tersebut bertumbangan setelah didera hujan deras dan angin kencang. read more…

Jalan Terbaik di Bogor

2009 August 30

UPload 1Pada sebuah jalan menuju Warso Farm, Cihideung Bogor, ada satu pemandangan menarik. Di sebelah kiri jalan terdapat plang bertuliskan, “Anda memasuki jln kehancuran… Lanjutkan!!!”. Rupanya plang tersebut mengawali ruas jalan yang jelek, berbatu-batu layaknya tak pernah terlapisi aspal”.

Sekitar 1 kilometer dari situ, plang lain di sebelah kanan bertuliskan, “Selamat!!! Anda melintasi jln terbaik di Bogor”. Yayaya, ironis. Nyindir abis memang..

Cihideung

Saya jadi teringat percakapan dengan seorang sopir angkot sekitar hampir lima tahun lalu.

Saya: Wah, jalan sini baru diaspal ya, Pak?
Sopir: Yaa namanya ada warga sini baru diangkat jadi menteri. Ya diaspal.
Saya: Lah kalo gaada yang jadi menteri?
Sopir: Tau deh diaspal apa kaga..hahaha!

(nonadita)

malam di jalan suryakencana

2009 June 29
by Kebon jahe

malam tadi, selepas sholat maghrib di masjid dekat stasiun bogor, sebenarnya niat saya adalah untuk menonton film King atau Garuda di Dadaku. tapi apa daya, ternyata bangku kedua teater di BTM 21 yang menayangkan film-film tersebut sudah penuh. mau pulang, tanggung. mau main ke tempat lain, bingung hendak ke mana. tiba-tiba tercetus untuk mencoba jalan-jalan di sekitar suryakencana. selepas menyeberang jalan juanda dari BTM, saya langsung naik angkot 02,tujuan saya adalah Gang Awut.

Gang Awut adalah nama jalan kecil yang melintang di tengah-tengah jalan Suryakencana. daerah ini terkenal dengan jajanannya, tapi saran saya untuk anda yang muslim, agak berhati-hatilah dengan kehalalan makanannya. maklum, daerah pecinan.

turun di perempatan gang awut, saya belok ke arah kanan. tidak jauh dari situ, sekitar 50 meter ada pedagang es pala. awalnya agak tidak terlalu yakin juga untuk membeli minuman di situ karena si pedagang hanya menggelar dagangannya pada meja kecil di depan bangku panjang. tidak ada tenda di atas meja yang penuh dengan toples-toples besar. tidak ada kain penutup yang menyekat antara bangku dan jalanan. tidak ada juga tulisan yang menyatakan bahwa yang diperdagangkan itu adalah es pala. akhirnya setelah menanyakan apa yang dijual oleh si ibu pedagang itu, saya minum di pelataran toko yang sedang tutup di belakang lapak si pedagang.

rasa-rasanya resep minuman itu sederhana saja. hanya buah pala yang diiris tipis-tipis, lalu dicampur dengan air gula, serta kelapa yang dikerok. namun rasa dari minuman itu cukup eksotis. awalnya saya agak ragu bisa menghabiskan satu cangkir besar, karena terus terang saya sendiri tidak suka dengan buah pala yang biasanya saya lihat dalam bentuk manisan pala. buah pala dengan sensasi pedas di mulut ternyata menjadi jinak dengan es dan manis dari gula.

setelah menghabiskan sedikit waktu untuk ngobrol-ngobrol, saya pun beranjak untuk membayar. ternyata hanya Rp 2500,00 untuk satu gelasnya. selesai dengan gang awut, saya kembali ke jalan suryakencana. saya mengambil jalan ke arah kiri, melawan arus kendaraan di jalan suryakencana yang satu arah. malam itu sangat cerah dan bulan menampakkan dirinya dalam bentuk sabit. malam senin seperti itu ternyata banyak toko-toko di suryakencana yang sudah tutup. akan tetapi hal itu tidak membuat keasyikan menyusuri jalan suryakencana menjadi berkurang. melintasi bangunan-bangunan tua dengan berjalan kaki membuat saya menjadi lebih dapat memperhatikan arsitektur yang ada.

di seberang jalan kemudian saya melihat tulisan Tan Ek Tjoan dalam huruf besar-besar. toko itu sudah tutup. setahu saya Tan Ek Tjoan dulunya adalah produsen roti yang cukup terkenal di Bogor. tapi dengan melihat keadaan bangunan toko itu, rasanya Tan Ek Tjoan sudah jauh melewati masa jayanya dan tergantikan dengan roti-roti lain yang lebih modern.

perhatian saya kemudian terpikat dengan sebuah toko yang kebetulan masih buka di sisi saya berjalan. saya tidak sempat memperhatikan nama tokonya, tapi itu adalah toko mainan. iseng-iseng saya masuk. mainan di sana amat beragam dan membawa saya pada kenangan masa kanak-kanak dulu. yang paling menarik adalah kembang api. rupanya toko itu masih menjual kembang api meskipun saat ini bukan musim tahun baru, bulan puasa, atau imlek. read more…