Dibalik Keindahan Gunung Mas

Beberapa waktu lalu, gw dapet tugas wawancarain pemetik daun teh di Gunung Mas, Puncak, dari majalah tempat gw kerja. Dari Dramaga brangkat jam5, nyampe 7.15. Sulit sekali mencari pemetik daun teh coz ternyata mereka setiap hari ditugasin di kebun yang berbeda2 (Gn.mas luas banget dan punya kavling2 kebun yang banyak banget juga). Satu setengah jam gw jalan gak brenti2 buat nyari mereka. Setelah dapet, gw gak langsung wawancara, tapi foto2 dulu buat dokumentasi. Satu jepretan pertama membuat gw jadi pusat perhatian, mereka minta difoto lagi dan lagi. Sepertinya kamera menjadi barang yang sangat mewah untuk mereka. Sepertinya mereka bangga kalau bisa masuk dalam bidikan kamera gw.

Wawancara dilakukan. Iyam lah yang gw pilih jadi nara sumber. Dia udah 30 tahun kerja di sini, gak ada pilihan kerjaan lain yang dia punya. Umurnya baru 45 tahun tapi udah punya enam cucu, gw ulangi, ENAM CUCU. Hal ini udah biasa banget di sana. Mungkin BKKBN bakal nangis darah kalo main2 ke Gn.mas. Iyam dan semua anaknya cuma mampu sekolah sampai SMP, lulus SMA hanya impian dan duduk di bangku kuliah tidak berani mereka impikan.

Tiap hari, Iyam kerja dari jam 7 sampai jam 3. Dia dan suaminya bisa dapet rata2 25 kg daun teh/hari. Satu kg dihargai 540. So, sehari Iyam dan suaminya dapat 13.500. Kalo hari Minggu, suami Iyam suka jualan mainan anak2 di lapangan deket situ. Bisa dapet 20rb sekali jualan. Jadi kalo ditotal, pendapatan keluarga Iyam gak lebih dari 500rb sebulan. Buat perbandingan aja, pernah ada survey Koran Kampus IPB yang hasilnya adalah rata2 mahasiswa IPB ngabisin 500-600rb sebulan. Itu untuk satu orang loh. Jadi…yaa…pembaca yang budiman bisa ngebayanginlah kehidupan bu Iyam dan 600 pemetik teh lainnya.

Abis beres wawancara, gw makan bubur di kios kecil deket pintu masuk Gn.mas. Sambil makan, gw ajak ngobrol si ibu yang punya warung. Ternyata dia istrinya mantan mandor besar di Gn.mas (bosnya pemetik daun teh disebut mandor, bosnya mandor disebut mandor besar). Dia bilang, gaji mandor besar sekarang 800ribuan sebulan. Jabatan setinggi itu aja gajinya cuma 800rb. Sulit sekali bagi mereka untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Jalan utama keluar dari lingkaran itu adalah lewat pendidikan, tapi akses pendidikan tinggi butuh uang banyak. Mau gak mau mereka balik lagi ke lingkaran setan kemiskinan. Ada yang punya solusi? (IQB)

2 Comments (+add yours?)

  1. Anak pemetik_teh
    Jul 18, 2008 @ 00:15:08

    Assl….
    …….”Indahnya kehidupan masakecil_ku”……, seindah hamparan tanaman teh yg menghijau di bukit Gunung Mas, aku masih teringat sosok Ibu_ku(pemetik)yg selalu mengajari_ku bagaimana agar hidup_ku kelak bisa berguna bagi sesama Mahluk ciptaan_Nya….., dan Aku selalu teringat akan kata2suci nya yg selalu terucap disela-sela gerakan tangan terampilnya yg menjadikan kehidupanku berjenjang….

    Reply

  2. Anak pemetik_teh
    Jul 18, 2008 @ 00:26:39

    Assl….
    …….”Indahnya kehidupan masakecil_ku”……, seindah hamparan tanaman teh yg menghijau di bukit Gunung Mas, aku masih teringat sosok Ibu_ku(pemetik)yg selalu mengajari_ku bagaimana agar hidup_ku kelak bisa berguna bagi sesama Mahluk ciptaan_Nya….., dan Aku selalu teringat akan kata2suci nya yg selalu terucap disela-sela gerakan tangan terampilnya yg menjadikan kehidupanku berjenjang….dan…itulah sosok-sosok yg sangat kukenal di balik keindahan Gunung Mas…..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: