Masyarakat Bogor Mengalami Kegagalan Berbudaya (Bag. 1: Sampah)

secara fisik, bogor telah berkembang dengan pesat. banyaknya bangunan-bangunan baru yang megah menunjukkan hal tersebut. akan tetapi, hal ini tidak dibarengi dengan pembangunan mental dan budaya orang-orang bogor itu sendiri. beberapa tahun yang lalu, bogor mendapat predikat kota besar terkotor di indonesia. predikat itu emang mengejutkan buat saya, karena faktanya bogor memang jorok. tepat di sebelah pusat perbelanjaan yang megah, modern, dan bersih, seketika itu juga kita dapat melihat pemandangan kontras yang jorok, seolah-olah diantara kedua tempat itu adalah perbatasan dari dua daerah yang sama sekali berbeda peraturan dan gaya hidupnya.

masalah sampah juga telah menjadi beban bagi sungai-sungai yang ada di bogor. kalau kita naik angkot 03 dan melintasi jalan antara lapangan sempur dan kebun raya bogor, kita akan melihat betapa banyaknya sampah yang tersangkut di saringan sampah beton yang dibangun di kali ciliwung yang membelah kebun raya. sekali waktu teman saya pernah iseng bertanya kepada seorang ibu rumah tangga di daerah bogor selatan yang membuang samah ke sungai cisadane. jawaban itu itu sederhana aja,”alah, aernya deres koq. nggak bakal banjir kalo deres begini mah.” saya nggak tau pengetahuan macem apa yang ibu itu anut, tapi hal itu udah ngebuktiin kalo banyak masyarakat bogor yang telah gagal berbudaya.

kalo anda punya waktu senggang, coba perhatiin tingkah laku penumpang-penumpang kendaraan yang bergerak lamban di sekitar jembatan merah. selalu aja ada orang yang nyangka bahwa jalanan adalah tempat sampah yang membentang dan tak berujung. yang ngebuang sampah bukan cuma mbok-mbok yang pulang dari pasar anyar sambil asik makan rambutan, atau anak-anak SMP yang udah selesai makan chiki-chikiannya, tapi juga dari mobil-mobil pribadi yang nyalain AC. ada dua alesan kenapa mobil-mobil ber-AC itu ngebuka sedikit jendelanya. alesan pertama adalah untuk ngacih recehan ke pengemis dan pengamen dan alesan kedua adalah untuk ngebuang sampah. rendahnya kesadaran untuk lingkungan yang bersih bukan cuma penyakit buat orang yang pendidikannya rendah atau yang kualitas ekonominya menengah ke bawah, tapi juga jadi masalah untuk mereka yang udah mapan dan terdidik. (Rae Arani)

2 Comments (+add yours?)

  1. iqbal
    Jun 11, 2008 @ 15:24:43

    ada alesan satu lagi re, mau ngerokok…

    Reply

  2. A. Zaenuddin
    Aug 03, 2008 @ 11:10:52

    memprihatinkan jika kota bogor tempat mukim para pakar ipb mengalami kegagalan mengelola sampah sebagai cermin level budayanya.

    10 tahun lalu, septik tank juga belum dianggap perlu bagi tiap keluarga. Apa beda sampah rumah dengan cara pandang kita terhadap penampungan kotoran penghuni suatu keluarga ? Level budaya suatu bangsa akan tercermin dari cara mengelola sampahnya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: