Orang Miskin Dilarang Sakit!

Satu lagi contoh kasus kebobrokan pemerintah. Di tempat saya tinggal, di Bogor, ada seorang wanita yang bekerja membantu pekerjaan bersih-bersih di Asrama. Kami, para penghuni asrama, memanggilnya dengan sebutan teteh. Kalau dimasukkan ke dalam strata ekonomi, mungkin teteh masuk ke strata ekonomi paling bawah. Akses pendidikan kurang baginya dan bagi anak-anaknya. Itulah sebab anaknya mendapati nasib yang tidak jauh berbeda dengannya.

Suatu ketika, kami mendapati teteh sudah jarang sekali bantu-bantu kami di asrama, bahkan sampai lebih dari seminggu. Padahal biasanya teteh datang setiap hari. Kami berkunjung ke rumahnya yang di pojokan itu. Terkuaklah sebab mengapa teteh jarang datang di asrama. Suaminya yang hanya seorang kuli bangunan terbaring sakit tak berdaya. Sudah dua bulan ia tidak bisa bergerak. Teteh harus menjaganya setiap hari.

Awalnya, teteh sudah membawa suaminya ke Klinik Katili (ex Boulkin) di Dramaga, ia divonis terkena asam urat. Dokter menyarankan rontgen terlebih dahulu untuk menentukan pengobatan apa yang paling tepat.

Kami menyarankan untuk tidak mengindahkan saran dokter itu karena menurut kami klinik itu bukan jalur yang tepat untuk kaum suburban seperti teteh. Dua jalur yang kami sarankan adalah alternatif dan kedokteran tetapi dengan askeskin. Teteh mencoba keduanya. Dengan pengobatan alternatif memang terlihat perkembangan. Suami teteh sudah bisa berjalan kembali setelah beberapa minggu pengobatan. Pengobatan alternatif ini harus dilakukan setiap dua hari sekali dengan biaya seikhlasnya. Di situlah masalahnya. Sang pengobat alternatif tidak kunjung datang lagi, mungkin karena teteh tidak memberikannya uang dalam tiga kali pengobatan terakhir. Mau bagaimana lagi kalau memang tidak ada uang?

Jalan kedua ditempuh, askeskin. Teteh memang punya askeskin, tapi harus diperpanjang karena asuransi itu sudah kadaluarsa sejak beberapa tahun yang lalu. Untuk memperpanjangnya diperlukan KK terlebih dahulu. Mungkin karena memang pendidikan yang kurang, ternyata teteh belum mempuyai KK. Diuruslah KK itu di kecamatan dan kelurahan. Harus empat kali bolak-balik untuk menyelesaikan urusan di kecamatan, belum lagi di kelurahan.

Uang tabungan teteh sudah habis karena untuk ke kantor camat dibutuhkan ongkos yang menurutnya cukup membebani. Pupus sudah harapan berobat dengan askeskin. Apalagi ditambah cerita dari tetangganya yang sudah pernah mencoba menggunakan askeskin tetapi ujung-ujungnya butuh banyak uang juga. Menurut tetangga itu, askeskin hanya mengcover biaya inap dan dokter saja. Sedangkan obat ya silakan cari sendiri. Belum lagi prioritas nomor dua yang diberikan pihak rumah sakit karena mereka lebih mendahulukan pasien yang bayar daripada yang tidak bayar.

Sekarang teteh sudah pasrah saja. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Orang miskin di Bogor, dan mungkin di kota-kota lain, memang tidak boleh sakit (IQBAL).

1 Comment (+add yours?)

  1. antobilang
    Jun 03, 2008 @ 20:29:42

    Orang miskin juga di larang hidup di negeri ini…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: