di mana kami harus melangkahkan kaki?

pemerintah akhirnya mencoba memberi solusi atas kemacetan yang jamak terjadi di sepanjang jalan raya darmaga. sebuah proyek yang dilakukan semenjak medio ramadhan yang lalu akhirnya setengah rampung. proyek tersebut adalah pelebaran ruas jalan raya darmaga.

pelebaran jalan ini bisa dilihat mulai dari depan kawasan IPB Darmaga sampai depan hotel duta berlian yang memang sering menjadi titik kemacetan pada pagi dan petang. meskipun telah dilebarkan, ternyata macet tetap saja hadir. rasanya lebarnya ruas jalan bukanlah permasalahan utama. kedisiplinan sopir, terutama sopir angkot, yang menjadi pangkal masalah kemacetan di jalan raya darmaga.

selain tidak bisa menjawab kemacetan yang acap terjadi, pelebaran jalan juga memakan hak pejalan kaki. ruas tanah kosong yang sedianya untuk pejalan kaki harus terampas untuk disulap menjadi hamparan aspal.

pejalan kaki
pejalan kaki: di mana kami harus melangkah?

mungkin sampai kapanpun nanti, pejalan kaki akan selalu menjadi warga negara kelas akhir. setelah harus rela berbagi trotoar dengan pedagang makanan kaki lima dengan tenda yang menyita ruang trotoar, kemudian juga penjajahan trotoar oleh kendaraan bermotor di saat macet, kini mereka harus kehilangan sepenuhnya hak atas trotoar. di mana lagi pejalan kaki harus melangkah? di atas kubangan selokankah?

8 Comments (+add yours?)

  1. Opi
    Nov 16, 2009 @ 15:53:56

    duh, ini permasalahan seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya warga Bogor aja lho🙂. dari sejak aku tinggal di kawasan, Cipete-Jakarta, Blok M-Jakarta, hingga Dermaga-Bogor, lanjut pindah ke Cimanggu-Bogor dan balik lagi ke Jakarta, memang haknya pejalan kaki gak ada yang mikirin😐. sedih ya…

    Reply

  2. hatt
    Nov 18, 2009 @ 13:18:17

    komplek rumah saya di IPB 2 persis di depan pedestrian yang dibabat habis itu,
    dan awal kegagalan dus carut marut angkot daerah dramaga ini adalah: angkot 05 (dahulu: bogor-ciampea/leuwilian/jasinga) dilarang masuk dan ngetem di bilangan jalan Merdeka.
    Akibatnya, angkot 05 yg jumlahnya ratusan dan trayek angkotnya panjang2 itu, harus berdesak dalam trayek yg sempit dan pendek bahkan ada jalur angkot yang kurang dari 5 Km (cek jalur: bubulak – ciherang or bubulak – kampus dalam). hihihi, untung sekarang ga ada mahasiswa pelintas batas dramaga- baranang siang. bisa kaga bikin skripsi tuw..

    Reply

  3. kawanlama95
    Nov 20, 2009 @ 20:58:50

    karena tidak ditindak berjualan di trotoar maka akhirnya tempat untuk berjalan di ambil alih oleh pedagang.

    Siapakah yang harus menindak?

    Reply

  4. Iqbal
    Nov 24, 2009 @ 12:28:29

    serba salah….
    kalo dilarang ngetem kasian dia gak dapet penumpang (kecuali semua angkot gak ngetem lg), kalo gak dilarang jd macet…

    Reply

  5. Kebon jahe
    Nov 24, 2009 @ 15:48:49

    kan idealnya ngetem itu di terminal. hehe

    Reply

  6. numpang liwat
    Nov 27, 2009 @ 08:36:33

    @kebonjahe: teori begitu indah, realita begitu berbeda. lagian ya bon.. alah bisa karena biasa. dan karena sudah terbiasa kita pun jadi maklum.

    Reply

  7. Anggi
    Dec 09, 2009 @ 12:18:58

    Di Indonesia doang kali ya ada motor sampe ngebabat trotoar😛

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: