petak-petak yang terlipat

saya sempat tinggal di perumahan IPB II yang jalan masuknya terletak di pertigaan bubulak-laladon. meskipun gerbang masuknya adalah salah satu pusat kemacetan yang paling parah di kota bogor bagian barat. meskipun bagian depan perumahan ini pikuk dengan kendaraan, saya tetap dapat merasa tenang dan damai. rumah yang saya diami berada di bagian belakang kompleks. di seberang rumah, setelah jalan aspal, ada sebuah kolam ikan dan setelahnya menghampar sawah luas dengan latar gunung salak. ketika terbangun di pagi hari, saya biasa mengambil beberapa detik untuk menikmati semua keindahan tadi melalui jendela kamar.

saya selalu menikmati saat-saat ketika saya harus menyusuri pematang sawah sebagai jalan pintas menuju terminal laladon. jika sedang musim menanam, akan terdengar suara melenguh kerbau yang menarik bajak. di saat panen, samar-samar terdengar petani memukul-mukulkan tangkai padi untuk merontokkan bulir-bulirnya. sebenarnya agak takjub juga karena masih bisa menikmati pemandangan rural seperti itu tepat di balik beton-beton kota. tidak banyak yang menyadarinya.

satu atau dua dasawarsa yang lalu mungkin di daerah ini dan sepanjang jalan raya darmaga adalah daerah persawahan. tapi satu per satu, sawah-sawah itu terkonversi menjadi bangunan-bangunan beton. berubah menjadi pabrik dan tempat makan. beberapa yang lain menjadi rumah dan perumahanan. setidaknya saat ini ada dua perumahan baru yang sedang dibangun di daerah darmaga. lahan yang disulap menjadi rumah itu pun rasanya tadinya sebagian besar adalah wilayah persawahan. daerah ini pun kemudian mulai kehilangan cita rasanya sebagai daerah pedesaan, namun belum pantas juga menyandang daerah perkotaan. yang pasti, perubahan sedang terjadi di daerah ini dan persawahan tidak lagi menjadi pemeran utama.

kebutuhan manusia memang bukan hanya pangan. tidak mungkin semua tanah hanya diperuntukkan menjadi sawah dan ladang. seperti halnya pangan, manusia juga masih menempatkan papan sebagai kebutuhan primer. pun sama seperti perumahan-perumahan yang sedang dibangun itu, rumah yang saya huni di perumahan IPB II itu, mungkin sebelumnya adalah sawah. rumah yang dibangun dengan menekuk petakan sawah.

8 Comments (+add yours?)

  1. Hatt
    Dec 28, 2009 @ 14:03:12

    Jika demikian, berarti Anda juga harus dan pasti sering lalu lalang di depan rumah saya di Komplek IPB 2.
    Coba ingat2 seorang lelaki sering lewat di depan kediaman kosan Anda, membawa kamera dan sering mengabadikan gambar Sawah dan Gunung di depan kos2an Anda.

    Btw, rambutan di depan kediaman Anda itu udah mulai lebat buahnya😀

    Reply

    • Kebon jahe
      Jan 06, 2010 @ 23:04:58

      *mengingat-ingat…*
      =====57%=====
      =====98%=====
      =====100%=====

      gak inget..😛
      lagian udah lama gak tinggal di situ.

      btw, rambutan yang di depan rumah itu aceem…😛

      Reply

  2. Pandu
    Jan 01, 2010 @ 15:17:59

    jika ingin dianalisa lebih dalam lagi, dari peta ruang tata kotanya bisa dipastikan:
    1. Bogor sudah tidak akan menjadi kota indah+sejuk+nyaman lagi..
    2. Proyek pembangunan yang bersifat Sustain, Green, dan Eco Friendly tidak ada.
    3. Tinggal menunggu waktu…

    Meskipun saat ini ada yang namanya “Car Free Day” sudah lah.. itu tidak berpengaruh besar..
    Meskipun beberapa angkot sudah diganti dengan Bahan Bakar Gas, wah tetap saja penambahan jumlah angkot tidak bisa distop…

    (maaf saya bukan pesimis sama Bogor, saya sangat optimis, tapi kalo dilihat dari keseriusan Pemda, beserta Wakil Rakyat yang katanya TErhormat dan memperjuangkan aspirasi rakyat… hal-hal yang membuat Bogor lebih baik.. nothing)

    Reply

  3. math40master
    Jan 06, 2010 @ 20:49:58

    @pandu:

    hehehehe,
    1. kenapa yang di atas yang selalu di salahkan…

    2. optimis tapi bilang nothing… berarti bohong, berarti pesimis😀

    Reply

  4. Moes Jum
    Jan 13, 2010 @ 20:47:40

    aku baca postingan ini koq jadi rada “miris” yaa … jangan2 persawahan yg dulunya pernah ada di seputaran Bubulak-Laladon itu sudah dikonversi dengan Perumahan IPB II itu … kenapa juga pake nama IPB yang katanya “PRO POOR dan PRO PETANI”

    Reply

  5. Anggi
    Jan 14, 2010 @ 14:38:26

    Sepertinya asik punya rumah dengan pemandangan seperti itu, meskipun ketika saya pernah tinggal di komplek IPB II kok malah ngerasa tidak aman ya kalo rumahnya dekat sawah…hehehe
    Nice Picture😉

    @Mas Moes : knapa dinamakan Perumahan IPB karna memang perumahan tersebut diperuntukan untuk para pegawai IPB semisal dosen, hanya saja skrg ini sudah banyak orang2 nonpegawai IPB yg tinggal di situ.

    Reply

  6. Iqbal
    Jan 14, 2010 @ 22:49:21

    @moes: sy agak tersudutkan sebagai alumni IPB… bener jg sih, kok banyak unsur IPB yg nyela2 konversi lahan pertanian tp IPB jg ngonversi… itu mirip kyk kita nyela2 ketidakproduktifan PNS tp adik kita ternyata PNS, gimana tuh? walaupun satu keluarga tp kan setiap unsur di dalamnya gak bs dicampur begitu aja….

    Reply

  7. ade
    Jul 16, 2010 @ 15:37:04

    hmmpp yaiyalah.. 80%nya bogor kan kawasan kampus IPB..
    *dingg,,ga nyambung.. hehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: