Waktunya Belanja

Agaknya salah satu cara menerjemahkan “Kota Jasa” seperti yang dicita-citakan Bogor adalah dengan memperbanyak tempat perniagaan. Mulai dari pasar tradisional dengan tradisi puluhan tahunnya, sentra bisnis tua khas pecinan di sepanjang Surya Kencana, cafe-cafe eksotis di daerah Taman Kencana, Factory Outlet di sepanjang Jalan Padjadjaran, sampai Kemegahan mall-mall modern menjadi pengejawantahan hal tersebut. Terlepas dari hal-hal yang sudah terlampau mainstream untuk dibahas, Saya kemudian melihat beberapa hal unik yang mungkin belum terlalu membosankan untuk kita obrolkan.

Pasar Bogor: Ujung dari rantai distribusi
Datanglah lewat tengah malam di pangkal Jalan Surya Kencana. Ratusan lapak sayuran siap menjajakan dagangannya. Pasar di tengah jalan aspal ini sebenarnya hanyalah pasar perantara antara petani dengan pedagang pada rantai distribusi berikutnya. Pembelinya kebanyakan adalah pedagang yang akan menjajakan kembali barang dagangan itu di dalam Pasar Bogor pada pagi harinya. Puluhan tahun sudah rutinitas ini berjalan. Tak lekang oleh waktu. Tidak juga lekang oleh pasar gaya baru yang lebih nyaman di balik tingkap-tingkap beton.

Menjelang terang, pasar ini sedikit-sedikit memudar. Transaksi telah usai dalam panduan nyala lilin sebatang. Sayuran telah berganti tempat masuk ke dalam Pasar Bogor. Sementara di jalanan yang tersisa tinggal debris sayuran busuk atau kulit-kulit sisa hasil kupasan.

Dalam waktu yang tak lama, sampah-sampah organik yang menggunung segera habis disapu petugas untuk kemudian menghilang di balik kotak-kotak baja kuning bak sampah. Jadilah aspal Surya Kencana yang siap dilalui ratusan kendaraan roda empat dengan cat hijau.

Pangrango Plaza: Tidak lebih beruntung dari Bogor Internusa Plaza
Sebagaimana juga terjadi di daerah lain, perniagaan a la pasar tradisional seperti yang ada di Pasar Bogor sudah semakin tergerus. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, paling tidak ada empat pusat perbelanjaan modern yang berdiri. Akibatnya, bukan hanya pasar tradisional saja yang terhimpit. Persaingan antar pusat perbelanjaan pun makin sengit.

Untuk mereka yang sudah tinggal lama di Bogor, mungkin nama Bogor Internusa Plaza pernah menjadi sebuah kebanggaan. Mall termodern di eranya itu kemudian berubah nama menjadi Pangrango Plaza setelah sebelumnya bertahun-tahun kosong karena kebakaran.

“Perlu ada bioskop,” itulah yang terucap oleh Saya ketika beberapa tahun yang lalu memperhatikan adanya deteriorasi Pangrango Plaza. Ketika itu akhir tahun 2008, Saya iseng-iseng masuk ke dalam Pangrango Plaza. Memang mengenaskan keadaannya. Suasana suram dan hanya sedikit toko yang buka. Pendingin ruangan tidak bekerja maksimal di seluruh ruangan. Begitu pula dengan tangga berjalannya. Padahal saya masih ingat ketika baru beberapa bulan dibuka, tempat ini begitu ramai. Bahkan kuis Kocok-kocok SCTV sempat shooting di tempat ini.

Ternyata, modal lokasi strategis saja tidak mampu membuat Pangrango Plaza mampu bersaing dengan mall lainnya. Nyatanya kini gedung megah itu mengkusam tanpa penghuni. Bagian depannya pun kini penuh dengan grafiti dan ketika malam, yang tersisa hanyalah onggokan bayangan hitam besar. Jika dulu Bogor Internusa Plaza harus tutup karena kebakaran, kini Pangrango Plaza harus tutup karena tak mampu bersaing.

Ngesti: Produk Lokal yang Tersisa
Diakui atau tidak, PT Hero Supermarket Tbk. dengan jaringan Giant Hypermarket maupun Supermarket-nya saat ini memiliki potongan kue terbesar dalam penguasaan pasar modern di Bogor. Pemain-pemain swalayan lokal seperti Mawar atau Naga mau tidak mau harus menerima konsekuensi persaingan oligopoli yang ada. Semakin hari, toko-toko mereka semakin sedikit pembeli. Tidak hanya dihimpit oleh Hypermarket model Giant saja rasanya, tapi hadirnya minimarket model alfamart dan indomaret juga rasanya memiliki andil besar dalam jalannya roda bisnis mereka.

Namun sebuah anomali terjadi. Ngesti, sebuah swalayan lokal juga, ternyata mampu bertahan. Dengan modal pelanggan setia yang sudah dibina dalam bilangan dekade, Ngesti ternyata masih mampu bernafas teratur. Kalau tidak percaya, coba saja kunjungi toko mereka di Baranangsiang atau Suryakencana. Sama sekali tidak bisa dibilang sepi.

Boleh jadi Ngesti telah mencapai kasta tertinggi dalam penerapan ilmu marketing. Dengan memiliki loyalis dalam jumlah banyak, mereka tidak perlu takut kehilangan pelanggan. Setidaknya dalam waktu dekat ini.

7 Comments (+add yours?)

  1. almascatie
    Nov 23, 2010 @ 00:56:08

    salut.. salut.. salut… aku belom pernah ke bandung e😦 kapan yah bisa kesana.

    Reply

  2. eP
    Nov 23, 2010 @ 14:43:01

    kalo Yogya, tergolong yang mana tuh? termasuk ngesti-ngestian gitu ngga sih? soalnya kayaknya lebih ruame yogya kalo di bogor.

    Reply

    • Luthfi
      Dec 10, 2010 @ 11:51:02

      jalan ke jogja toserba yang di jalan baru suka macetnya itu lho
      lagipula, kalo dari posisi tempat tinggal sekarang (darmaga) mending ke giant.

      etapi di darmaga banyak juga yang bertahan
      kayak al amin, citra usaha, dll

      Reply

  3. desty
    Nov 23, 2010 @ 17:58:47

    PP tutup ya?? sayang juga bangunan besar itu.
    Kalo Ngesti selalu jadi pilihan pertama belanja bahan kue dan makanan ringan. harganya relatif murah sih…
    ohya, cari obat2an cina juga ada di ngesti

    Reply

  4. Luthfi
    Dec 10, 2010 @ 11:47:08

    Toko Grand Suryakencana, banyak juga pengunjungnya
    padahal tokonya suempit banget

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: