Cerita dari Panggung Kecil

Sekitar pukul tujuh malam sepeda motor saya sampai di pelataran parkir sebuah cafe di sekitar Taman Kencana. Dari flyer yang saya baca, acara dimulai pukul lima sore. “Telat dua jam gak rugi-rugi amat,” pikir saya.

Benar saja, setelah membeli tiket dan mendapat cap di punggung tangan, saya mendapati ruang cafe masih terlampau sepi. tidak sampai 30 orang di dalam. Itupun tidak semuanya penonton, sebagiannya adalah pengisi acara yang sudah atau menunggu giliran tampil. Di panggung, sebuah band, yang semua personelnya adalah laki-laki, dengan memakai wardrobe perempuan baru saja merampungkan lagu terakhirnya.

Saya masih enggan maju ke bibir panggung kecil di ruangan itu. Saya memilih menikmati penampilan band-band pembuka ini dari sudut belakang ruangan. Di beberapa meja mulai berserakan botol bir kosong. Ruangan yang tidak dilengkapi dengan saluran udara yang baik itu mulai penuh dengan asap rokok sehingga memnbuat suasana mulai gerah.

Band-band pembuka naik satu per satu ke panggung. Ajang seperti ini memang sangat tepat untuk melatih kemampuan manggung sebuah band. Di acara seperti ini mereka bisa belajar mengakbrabkan diri dengan kehadiran penonton. Namanya juga band amatir, seringkali suara vokalis jauh tenggelam ditelan letupan drum yang gak karuan. Asal keras. Grogi juga bisa dilihat dari beberapa pemain gitar yang lebih memilih bersembunyi menghadap ke amplifier dan membelakangi penonton.

Pukul sembilan malam. Penonton pun mulai ramai. Line up utama mulai naik. Cukup terlihat perbedaannya, band-band yang masuk ke dalam line up ini lebih well prepared. Secara musikalitas pun lebih baik, lebih terasa harmonis. Di saat inilah saya dan kebanyakan penonton mulai terpancing maju ke depan. Mosh pit kecil-kecilan, body slam, bahkan beberapa dive-in dilakukan penonton.

Mereka yang masuk ke dalam line up utama ini pun dulunya pasti pernah mengalami masa-masa menjadi band canggung seperti para pembukanya. Senang sekali rasanya ketika mereka sudah sukses dan sudah manggung di berbagai pelosok negeri, bahkan keluar negeri, mereka tetap sangat mendukung scene-scene lokal yang telah membesarkan mereka.

panggung kecil yang hanya mampu menampung set drum dan beberapa amplifier membuat pemain lain berada satu level dengan penonton. Menjadikan gig-gig seperti ini menjadi sebuah dialog, ketimbang monolog. Jauh berbeda dengan konser band-band papan atas kebanyakan yang memberi sekat begitu lebar antara penonton dan yang tampil.

Video oleh Gilang Purnama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: