Kasihan atau Gemas?

“Punten Bapak Ibu, saya seorang tuna netra. Nyuhun sedekahnya, seikhlasnya.” Kalimat itu terus diulang oleh seorang Bapak yang terlihat sehat dan kuat. Ia memegang tongkat dan terkadang dituntun oleh seorang bocah. Mungkin anaknya. Sejak awal masuk bus lewat pintu depan, sampai keluar bus dari pintu belakang, ia mengucapkan hal yang sama sambil menyodorkan tangannya ke setiap kursi penumpang.

Terakhir saya naik bus Bogor-Jakarta itu 2010. Baru kemarin (April 2012) saya naik bus itu lagi. Tidak banyak yang berubah, termasuk Bapak-Bapak ini. Sering sekali saya lihat dia masuk ke bus-bus yang ngetem di Baranang Siang. Kawan saya yang tahun 2004 tiap haru bolak-balik Bogor-Jakarta komentar bahwa Bapak itu dari dulu sudah ada. Jadi minimal dia sudah 8 tahun meminta-minta begitu.

Kasihan atau gemas?

Advertisements

Kenapa Berputar?

Empat tahun yang lalu, sepertinya di ujung tol Baranang Siang tidak ada pengalihan arus kendaraan dari arah Kujang menuju Tajur. Beberapa tahun ini saja diberlakukan aturan tersebut. Juga di Jalan Raya Dramaga dari arah kampus IPB menuju Bubulak.

Kalau diasumsikan jarak berputar di ujung tol itu 100 meter x 2 (bolak-balik), maka 200 meter sia-sia buat si pengendara. Jika harga bensin subsidi Rp4.500/liter dan konversi bensin ke jarak yaitu 1 liter untuk 50 kilometer (untuk motor), maka dalam satu kali pemutaran, pengendara motor seperti membuang Rp18.

Kalau dalam 1 menit ada 50 motor yang lewat, maka dalam 1 hari (dihitung arus kendaraan aktif 15 jam) uang yang dibuang sia-sia untuk bensin karena jalan diputar adalah sebesar Rp81 ribu atau setara dengan 18 liter bensin subsidi. Dari asumsi-asumsi di atas, kesimpulannya, dengan diputarnya jalan di ujung tol Baranang Siang maka dampaknya dalam 1 hari terbuang uang sia-sia sebesar Rp81 ribu dan bensin menguap mencemari udara sebanyak 18 liter.

Hitung-hitungan di atas adalah dampak minimal, karena tidak menghitung variable uang negara untuk mensubsidi bensin dan waktu serta tenaga yang dikeluarkan ketika melewati 200 meter jalan sia-sia tersebut.

Kalau diputarnya jalan tersebut sudah berlangsung 3 tahun, berarti uang yang sudah terbuang sebesar Rp88.695.000 dan bensin yang sudah menguap sia-sia mencemari udara sebanyak 19.710 liter bensin.

Pastinya ada alasan kuat dari Pemkot atau siapapun yang mengatur dibelokkannya arus kendaraan itu, menghindari kemacetan mungkin. Tapi kok lama betul ya diputarnya? Sampai bertahun-tahun. Seorang dosen saya pernah memberikan solusi, dengan dibuatnya by pass seperti yang ada di jalan baru. “Itu investasi besar yang bisa mengenyahkan masalah-masalah di atas,” katanya. Apalagi mengingat ke depannya arus kendaraan akan semakin padat seiring bertambahnya penduduk.

Mungkin yang menjadi alasan Pemkot adalah tiadanya dana untuk merealisasikan hal tersebut. Tapi apa iya ? Jangan-jangan malah pemutaran jalan tersebut tidak terpikir efek sia-sianya. Baru akan terpikir lagi kalau arus kendaraan sudah menimbulkan kemacetan lagi walaupun sudah diputar. Semoga tidak.

Kenapa Ujungnya di Sana?

Dua tahun. Ya, kurang lebih dua tahun saya tinggal di daerah Malabar. Jurusan saya adalah yang terakhir dipindahkan ke Dramaga karena peralatan laboratorium butuh waktu lama untuk dipindahkan. Walaupun cukup kenal daerah itu, sampai sekarang saya tidak tahu kenapa ujung yang mengarah ke Bogor baru yang dideklarasikan sebagai Malabar ujung? Kenapa bukan ujung yang mengarah ke tugu kujang?

Saya perjelas sedikit. Di daerah Baranang Siang, ada yang namanya jalan Malabar. Jalan yang menjadi saksi tokoh-tokoh alumni IPB tumbuh. Waktu masih berpusat di Baranang Siang, jalan ini mahsyur sekali untuk mahasiswa, mungkin mirip Bara (Babakan Raya) untuk mahasiswa IPB Dramaga.

Yang namanya jelan tentu ada dua ujung. Untuk Jalan Malabar, satu ujung ada di belakang PMI, sebelum turun ke Babakan Fakultas. Ujung satunya lagi ada di pertigaan dekat tempat lotek paling enak di Bogor, kalau belok kanan dari pertigaan itu maka akan menuju Bogor Baru.

Yang saya bingung itu, kenapa ujung yang menuju Bogor Baru yang disebut-sebut sebagai Malabar Ujung?