Pangrango Plaza Riwayatnya Kini

Pangrango Plaza

Ada masa di mana mal di Kota Bogor belum sebanyak sekarang dan masih bisa dihitung jari. Saat itu, awal hingga pertengahan dekade 90-an, Mal Internusa adalah satu dari sejumlah mal yang cuma sedikit itu. Letaknya di Jalan Pajajaran, urat nadi bisnis dan hiburan di Kota Bogor.

Sekitar pertengahan tahun 1996, Mal Internusa mengalami kebakaran untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, sampai menghentikan usahanya. Selama bertahun-tahun, bagian depan yang terbakar terbengkalai begitu saja. Namun aktivitas jual beli kemudian berlangsung lagi di belakang gedung, di bagian yang dulunya tempat parkir.

Bertahun-tahun kemudian, renovasi besar-besaran terjadi di eks-Mal Internusa, mengubah bentuk dan namanya. Jadilah Pangrango Plaza.

Tapi Pangrango Plaza hadir saat sejumlah mal sudah lahir di Bogor dan mempunyai pasarnya masing-masing. PP jadi mal yang serba tanggung. Banyak butik pakaian dengan harga produk relatif mahal, padahal barang yang sama bisa didapat di BTM dengan harga lebih murah. Bila menyasar kelas menengah ke bawah, sudah ada BTM dan Jambu Dua yang lebih besar dan berlokasi dekat pasar. Bila menyasar kelas menengah ke atas, sudah ada Botani Square yang lebih lengkap dan strategis.

Seingat saya, tak pernah sekalipun saya melihat lot/kapling di PP terisi lebih dari 70%. Anda pernah? More

Advertisements

Fasilitas Mushola di Tempat Perbelanjaan

Di sebagian besar tempat umum di Indonesia, mushola adalah fasilitas yang sering kali tersedia. Kondisinya bermacam rupa, dari yang tak layak sampai istimewa. Ada yang luas luar biasa, ada juga seukuran meteran satu kali dua. Ada beberapa hal yang bisa jadi penentu keadaan mushola, kira-kira inilah: ketersediaan dana pengelola, kepedulian para pengguna dan kebesaran hati para penyandang dana. Bila ini dijadikan patokan umum, idealnya mushola di tempat yang bagus & digunakan banyak orang berpunya, kondisinya juga baik adanya.

Tapi musholla yang baik dan bersih kondisinya rupanya nggak banyak. Jangankan di pasar tradisional yang biasanya bau dan becek, mushola yang OK juga nggak selalu ditemukan di mall-mall. Musholla biasanya menempati tempat terpencil, seringkali di basement atau tempat parkir. Supaya sepi dan bisa konsen beribadah? Ya, alasan ini bisa diterima. Di tempat yang agak jauh dari tempat transaksi jual beli? Ya, bisa dipahami juga karena ibadah bukan kegiatan yang secara langsung menghasilkan uang sewa bagi pemilik tempat belanja.

Belakangan ini, mushola di banyak tempat keadaannya juga sudah lebih baik. Botani Square memperluas mushola di lantai 2 meskipun antrian di waktu maghrib tetap saja ada. Mukenanya pun sudah tersedia, antara lain berkat dukungan dari Gerakan Mukena Bersih (GMB) yang secara rutin menyuplai dan memelihara mukena-mukena bersih di berbagai tempat umum. Namun, bagaimana hubungan yang terjadi antara GMB dan BoQuare saya kurang tau juga sih.

Ada satu hal yang sering membuat saya bertanya-tanya, kenapa penyediaan (tempat) mushola seringkali tidak diiringi dengan penyediaan fasilitas untuk beribadahnya? Misalnya karpet atau sajadah yang baru dan bersih dan mukena atau sarung yang juga bersih. Bukan cuma sekali dua kali, saya ke mushola yang bagus gitu di mall yang baru dibangun.. tapi sajadah & mukenanya sudah kucel dan kelihatan bekas pakai. Padahal yo musholanya bersih dan baru. Iya, memang adalah kewajiban setiap muslim untuk menunaikan ibadahnya dan memiliki fasilitas masing-masing. Tapi rasanya, tanggung aja gitu. Seperti menunaikan suatu pekerjaan tapi nggak tuntas. More

Waspadai Jambret Bermotor!

Baru kemarin, seorang sahabat (Icha) bercerita tentang pengalaman buruk: hampir jd korban jambret yang menggunakan motor. Kejadian ini terjadi di kawasan Taman Kencana, setelah maghrib saat suasana sepi. Untuk mempertahankan tasnya, Icha sampai jatuh terseret penjambret bermotor tersebut. Namun syukurlah, tas tersebut tidak jadi berpindah tangan.

Pengalaman buruk serupa menimpa juga tetangga saya, seorang perempuan berjilbab yang rutin menggunakan motor untuk bepergian sehari-hari. Beberapa minggu lalu, dua orang penjambret bermotor menyalipnya di sekitar Laladon, Ciomas dan berhasil mengambil tasnya. Teman saya kaget dan motornya pun oleng. Malang, sebuah mobil Kijang menghantamnya dari depan dan menyebabkan dua kakinya patah. Sampai hari ini, dia masih dalam pengobatan & belum bisa pulang ke rumahnya.

Modus operandi penjambretan seperti ini sebenarnya sudah lama, namun rupanya belum terlalu klasik untuk digunakan sampai sekarang. Pada umumnya, penjahat ini mengincar perempuan yang menggunakan tas di bahu dan sendirian di kawasan yang sepi.

Berikut adalah tips-tips dari Icha yang didapatnya sebagai hikmah kejadian kemarin:

  1. Tas bahu sering menjadi incaran karena mudah ditarik. Sebaiknya gunakan tas yang talinya kokoh atau gunakan backpack sekalian
  2. Simpan tas di bahu kiri, sehingga lebih sulit dijambret orang yang biasanya berada di sebelah kanan (bila sedang di jalan raya)
  3. Jangan membawa terlalu banyak barang di kedua tangan, supaya kita fokus pada semua barang bawaan kita. Sebaiknya jangan menggunakan ponsel ketika sedang di jalanan
  4. More

Jembatan, Apakah Aman?

Jembatan penyeberangan dibuat untuk memberikan keamanan kepada pengguna jalan raya, khususnya pejalan kaki. Jalan sedikit lebih jauh nggak apa-apa, yang penting nggak ketabrak kendaraan. Selain aman, tentunya jembatan harus nyaman bagi penggunanya. Kalau nggak nyaman, ya pejalan kaki bisa malas dong makenya.

Iqbal bercerita mengenai pengemis yang selalu bisa ditemukan di jembatan penyeberangan Baranang Siang. Soal ini, kita semua sudah tahu bahwa jembatan penyeberangan jadi salah satu tempat favorit peminta-minta. Miris sih, .. jadi teringat minggu kemarin saya menyaksikan seorang ibu-ibu pengemis yang sedang mengganti celana anaknya yang (maaf) BAB di jembatan. 😯

Belakangan ini, ada hal lain lagi. Pagi dan siang hari, sekelompok pemuda sering tampak di tengah jembatan pada bagian yang tertutup oleh iklan. Sesekali mereka meminta waktu pejalan kaki (biasanya perempuan yang jalan sendirian) untuk sesuatu hal yang disebutnya “training manajemen”. More

Jalan Terbaik di Bogor

UPload 1Pada sebuah jalan menuju Warso Farm, Cihideung Bogor, ada satu pemandangan menarik. Di sebelah kiri jalan terdapat plang bertuliskan, “Anda memasuki jln kehancuran… Lanjutkan!!!”. Rupanya plang tersebut mengawali ruas jalan yang jelek, berbatu-batu layaknya tak pernah terlapisi aspal”.

Sekitar 1 kilometer dari situ, plang lain di sebelah kanan bertuliskan, “Selamat!!! Anda melintasi jln terbaik di Bogor”. Yayaya, ironis. Nyindir abis memang..

Cihideung

Saya jadi teringat percakapan dengan seorang sopir angkot sekitar hampir lima tahun lalu.

Saya: Wah, jalan sini baru diaspal ya, Pak?
Sopir: Yaa namanya ada warga sini baru diangkat jadi menteri. Ya diaspal.
Saya: Lah kalo gaada yang jadi menteri?
Sopir: Tau deh diaspal apa kaga..hahaha!

(nonadita)