Kasihan atau Gemas?

“Punten Bapak Ibu, saya seorang tuna netra. Nyuhun sedekahnya, seikhlasnya.” Kalimat itu terus diulang oleh seorang Bapak yang terlihat sehat dan kuat. Ia memegang tongkat dan terkadang dituntun oleh seorang bocah. Mungkin anaknya. Sejak awal masuk bus lewat pintu depan, sampai keluar bus dari pintu belakang, ia mengucapkan hal yang sama sambil menyodorkan tangannya ke setiap kursi penumpang.

Terakhir saya naik bus Bogor-Jakarta itu 2010. Baru kemarin (April 2012) saya naik bus itu lagi. Tidak banyak yang berubah, termasuk Bapak-Bapak ini. Sering sekali saya lihat dia masuk ke bus-bus yang ngetem di Baranang Siang. Kawan saya yang tahun 2004 tiap haru bolak-balik Bogor-Jakarta komentar bahwa Bapak itu dari dulu sudah ada. Jadi minimal dia sudah 8 tahun meminta-minta begitu.

Kasihan atau gemas?

Advertisements