Di Bawah Pohon Rindang

Sambil menarik tangan saya, Pak Jaya membisiki, “Sudah empat hari, baru ini yang cukur,” sambil memberi isyarat ke seorang Bapak yang baru selesai dicukur oleh Jaya. Ia menjawab demikian setelah saya tanya, biasanya sehari bisa mencukur berapa kepala Pak?

Seorang Bapak sedang dicukur Di Bawah Pohon Rindang, Bogor. Dok: Iqbal.

Dulu, tahun 70-an, waktu Jaya masih baru-barunya menjadi tukang cukur rambut, ia ngetem di Pasar Bogor. Sedikit demi sedikit posisinya bergeser seiring meningkatnya keriuhan transaksi Pasar Bogor. Sampai akhirnya Jaya bertempat di dekat lampu merah Tugu Kujang seperti sekarang ini. Lebih tepatnya, di pinggir pagar Kebun Raya Bogor.

Ia menempelkan “meja kerja” nya –kalau masih boleh disebut begitu- dengan tali yang dikaitkan di pagar Kebun Raya. Kaca seluas sampul buku, gunting yang dililit dengan rafia pada pegangannya (mungkin supaya awet), dan sisir pink yang sudah agak kumal menjadi senjata Jaya dalam mencari rupiah. Ohya, juga kain lecek untuk menutupi tubuh pengunjungnya ketika sedang dicukur, yang dijepit dengan penjepit jemuran yang sudah hitam berlumut.

Ia tertawa setelah saya tanya, ini yang orang-orang bilang DPR Pak? Lalu dengan masih terkekeh, Jaya menjawab, “Di bawah pohon rindang.” Sebutan DPR sudah cukup santer, menandakan usia para pencukur DPR ini. Saya sebut “para” karena terkadang bukan hanya Jaya yang mencukur di bawah pohon rindang, di pinggiran pagar Kebun Raya.

Untuk satu kepala, tarif cukurnya adalah Rp 7.000, yang angka itu baru keluar setelah saya desak, karena Jaya pada awalnya terus mengatakan, “Terserah saja lah….” Saya salut dengan keteguhan hati Pak Jaya. Dalam usia yang sudah 70 tahun ini, ia masih saja mencari nafkah untuk mengebulkan dapurnya. Keterpaksaan seringkali menjadi alasan orang untuk berbuat hal-hal yang dianggap tidak lazim.

Advertisements