Ibu-ibu yang Berada di Jalanan

Bogor, sebuah kota yang memiliki banyak warna. Kali ini, Blogor membuat #RantaiCerita dengan topik hitam dan putihnya Bogor. Saya tergabung dalam Grup Hitam yang menyajikan sisi kelam Bogor yang membutuhkan perbaikan. Sebelumnya, silakan simak tulisan dari Prof. Sjafri M, Matahari Timoer, Chandra Iman dan Erfano Nalakiano. Saya tertarik untuk menulis tentang fenomena yang marak belakangan di Bogor: kelompok ibu-ibu pengemis yang berkelana di jalanan.

================

Pagi menjelang siang, atau pada tengah hari, mereka bisa ditemui di sejumlah titik di Bogor. Dari jalanan di sekitar pertokoan Jembatan Merah, sampai di jalan-jalan kecil di berbagai komplek perumahan. Kadang berjalan berdua atau bisa berempat dalam satu rombongan. Tujuannya satu: meminta belas kasihan orang.

Ibu-ibu ini mudah dikenali dari ciri-cirinya yang serupa. Sebagian besar dari mereka berusia paruh baya, berkerudung dan membawa tas wanita berukuran besar. Terkadang mereka terlihat turun bersama dari kendaraan umum untuk menyebar ke arah yang berbeda, bisa ke kawasan pertokoan atau yang paling umum daerah perumahan.

Bila dilihat secara kasat mata, seharusnya mereka masih bisa melakukan kegiatan produktif walaupun usianya tak lagi muda. Beberapa ibu-ibu yang saya kenal dengan kisaran usia yang sama, masih bisa bekerja entah berdagang atau menjadi pembantu rumah tangga. Bila dengan usia dan keadaan demikian, mereka sanggup menempuh perjalanan melelahkan untuk meminta belas kasihan, tidakkah seharusnya mereka sanggup melakukan pekerjaan lain yang lebih ringan?

Kadang saya penasaran, kenapa ibu-ibu ini memilih mengemis sebagai jalan mencari nafkah. Tidak adakah cara lain yang bisa dilakukan? Sedemikian buntunyakah jalan yang lain sehingga mereka memilih jalan yang ini? Atau sederhana saja, karena mengemis adalah usaha yang paling mudah dilakukan?

IMHO, seharusnya kita bisa sama-sama menarik mereka keluar dari jalanan dan mendorong mereka melakukan hal lain untuk mencari makan. Pemerintah bekerjasama dengan stakeholders bisa mengusahakan pelatihan keterampilan, pendampingan dan modal usaha bila memang itu yang diperlukan. Warga biasa bisa mulai untuk melihat sekitarnya dan memberikan kesempatan bekerja sekadarnya sesuai kemampuan mereka. Bisa jadi petugas kebersihan atau tenaga pada usaha tingkat rumah tangga. Ini adalah beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan.

Usia paruh baya dan pendidikan yang seadanya memang hambatan untuk pekerjaan tertentu, tapi seharusnya tidak menjadi halangan untuk tetap bekerja. Di Singapore, petugas kebersihan di resto fast food dan penyapu jalan di kawasan pertokoan adalah orang-orang tua yang usianya bahkan lebih tua daripada ibu-ibu pengemis yang berkeliaran di jalanan Bogor itu. Bahkan di negara maju lain seperti US, saya bertemu dengan seorang ibu tua yang mulai belajar komputer di usianya yang sudah melewati limapuluh tahun. Di banyak kota lain di Indonesia, contohlah Yogyakarta, banyak ibu yang tidak berhenti bekerja di pasar meski usianya sudah menua.

Bagaimana menurut anda? Apa yang jadi sebab para ibu itu turun ke jalan dan apa yang bisa jadi solusi untuk ini?

 ===============================

Tulisan ini merupakan bagian dari Rantai Cerita Grup Hitam Blogor dengan tema sisi gelap Bogor yang membutuhkan perbaikan. Rantai cerita selanjutnya akan diteruskan oleh Jun Dieyna🙂

16 Comments (+add yours?)

  1. wongkamfung
    Dec 24, 2011 @ 00:01:38

    “Informasikan di paragraf pertama bahwa itu adalah cerita berantai dengan topik tulisan Bogor, dan nama para peserta dalam grupnya” sebagaimana disebutkan dalam Aturan Main di http://blogor.org/2011/12/06/cerita-berantai-2-bogor/

    Anyway, terima kasih sudah berpartisipasi dalam #RantaiCerita #Bogor.😉

    Reply

  2. Trackback: Cerita Berantai #2: Bogor | blogor.org
  3. Diaz Hendrianto
    Dec 25, 2011 @ 05:57:38

    wow

    Reply

  4. Matrisoni
    Jan 01, 2012 @ 07:44:36

    Nice info Nonadita….itulah fakta yg terjadi di kota Bogor, kita semua prihatin, seharusnya pemerintah punya program dan target yg jelas dalam mengentaskan kemiskinan. Kenapa mereka mengemis? karena pekerjaan inilah yg paling gampang, hanya butuh modal nekad dan muka tebal saja. Yang perlu disikapi dan ditindak adalah mafia2 dibalik para pengemis yg menjadi koordinator dan mengeksploitir kaum ibu2 dan anak2 dibawah umur. Semoga dalam waktu dekat bogor bebas dari pengemis…Program ini bisa menjadi salah satu agenda kegiatan Blogor.

    Reply

  5. Chandra Iman
    Jan 03, 2012 @ 15:43:54

    banyak pengangguran, karena kurangnya lowongan kerja/lahan pekerjaan
    mereka susah mencari kerja karena kurangnya pendidikan baik formal maupun informal
    seharusnya dengan adanya pelatihan jumlah ibu2 dan anak dijalan semakin berkurang
    selain pelatihan, mungkin perlu juga diadakan penyuluhan
    perlu juga tindakan yang tegas dari pemerintah,memberikan peringatan, dll

    thanks dit! great post🙂

    Reply

  6. Dina Begum
    Jan 03, 2012 @ 15:56:38

    Menurutku, uang kitalah yang menarik mereka ke jalanan. Ada supply, ada demand. Sesederhana itu. Bila dengan mudahnya mereka bisa mendapatkan uang di jalan, untuk apa repot-repot menguras keringat segala? Walau hati ini miris, aku memutuskan untuk tidak memberikan uang kepada pengemis jalanan setelah membaca beberapa artikel tentang orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi mereka. Bagaimana dengan sedekah? Kembalikanlah kepada hati nurani kita, kita bisa tahu kok mana orang yang pantas mendapatkan uluran tangan dan yang tidak. Konon, ciri-ciri mereka yang pantas mendapatkan bantuan adalah yang tidak memintanya. Jadi, memang kita harus peka terhadap keadaan sekitar.

    Reply

  7. ari
    Jan 03, 2012 @ 16:24:35

    Secara awam & dari informasi yg saya dapat di jalan, entah terorganisir atau tidak… sebagian besar dari mereka bukan dari kalangan yg ‘benar2 kekurangan’ atau boleh dibilang itu sebuah ‘profesi’, tanpa kita bisa membedakan mana yg memang benar2 ‘mengemis untuk bisa bertahan hidup & mana yg memilih jalan tsb sebagai profesi atau pengisi waktu luang, daripada nganggur di rumah.

    Di jakarta saya melihat dengan mata kepala sendiri sebuah kelompok terdiri dari 4 orang yg menyewa 1 rumah kontrakan, Berangkat sebelum matahari terbit & pulang di atas jam 11 malam. Yang menakjubkan, pulang mudik lebaran mereka sanggup mencarter kendaraan untuk mereka be-4 ke kampung, tidak menggunakan bus umum atau transportasi umum lainnya.

    Jadi (pendapat saya) kurang efektif memberikan mereka penyuluhan atau kegiatan lainnya & hanya akan buang2 uang saja, toh mereka akan kembali lagi ke jalan nantinya karena sudah merupakan ‘pilihan’

    Reply

  8. Lanjar
    Jan 09, 2012 @ 20:19:23

    Topik ini adalah salah satu topik yang beberapa kali diangkat oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor, salah satunya oleh mahasiswi dari Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian. Ia meneliti budaya kemiskinan pada komunitas pengemis di Kelurahan Tegalega Kecamatan Bogor Tengah. Sayang, ketika saya cari link database pdf skripsinya untuk dicantumkan di sini, saya malah tersesat di http://www.ipb.ac.id dan hanya menemukan http://katalog.perpustakaan.ipb.ac.id/senayan3-stable11/index.php?p=show_detail&id=62287
    Memang ini hanya penelitian sarjana. Tapi kalau bisa baca isinya, tentu bisa membangun pemahaman lebih dalam tentang keberadaan mereka, khususnya di kota Bogor.

    Reply

  9. Trackback: Pasar “Kaget” Pemda, menikmati macet mingguan dan sisa sampah di akhir pekan «
  10. Trackback: Sopirku Idaman | utamiutar.boogoor.com
  11. Trackback: James Bond Sopir Idaman | utamiutar.boogoor.com
  12. Trackback: » Macet Level Dewa Miftahgeek
  13. Iqbal
    Jan 19, 2012 @ 15:04:40

    klasik banget.

    pemerintah bukannya gak kasih pelatihan, pelatihan ada, tapi mereka yang gak mau. Pikiran mereka gini: kalo saya ikut pelatihan, pemasukan berhenti dong..
    ini juga sekasus dengan rumah singgah yang kosong2 itu.

    saya ketemu solusinya di banda aceh. pemerintah aceh bikin larangan di baliho yang besar2 bahwa masyarakat dilarang kasih apa2 ke pengemis, biar kami (pemerintah aceh) yang memberdayakan mereka. saya lihat pengemis masih ada memang, tapi jauh lebih sedikit daripada di jakarta dan bogor.

    jadi solusinya ya itu, jangan kasih mereka duit. kalo emang kasihan banget gak bisa ditahan, kasih mereka makan. tapi pengalaman saya mereka akan tolak ajakan makan bareng kita, dari 5 cuma 1 yang terima, itupun minta dibungkus.

    Reply

  14. Trackback: Kabut malam di Buitenzorg | Catetan kecil httsan
  15. Trackback: James Bond Sopir Idaman | utami utar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: