Wajah Sunda di Bengkulu

Saya ketemu satu-satunya (kayaknya) restoran Sunda yang ada di kota Bengkulu. Tembus juga Sunda ke mari, walau cuma satu, sementara ratusan lainnya adalah restoran Padang.

Resto Sunda di Bengkulu

 

Advertisements

Warna-Warni Bogor di Taman Kencana

Lihat-lihat, nongkrong, makan, skateboard, capoeira, mau apa lagi?

Heren van de Thee (Pengusaha Teh), buku curhatan orang Belanda yang membuat perkebunan di Jawa Barat dahulu kala, bercerita banyak tentang keadaan Jawa Barat di seputaran abad ke-19. Kata buku ini, sebagian besar wilayah Bogor, terutama yang di luar lingkar kotanya, adalah kebun karet. Cuma sedikit wilayah yang sudah di-set sebagai kota ketika itu yang dicirikan dengan atribut “kota”: lansekap rapi, sanitasi oke, jalanan bagus, dan lain-lain. Taman Kencana termasuk bagian dari yang hanya sedikit itu. Bogor beruntung, karena tidak semua kota di Indonesia memiliki taman buatan Belanda seperti ini.

Taman Kencana

Plang Nama Taman Kencana

Sebetulnya di Bogor ada juga taman yang lebih besar dan lebih terkenal yaitu Kebun Raya Bogor. Tapi untuk ke sana, kita perlu membayar. Jadi kesan “rakyat”-nya tidak sekental Taman Kencana. Kali ini, Kami ingin mengajak Anda ngobrol tentang Taman Kencana.

Pada umumnya, kabupaten-kabupaten di Jawa memiliki taman umum yang biasa disebut “alun-alun”. Biasanya juga alun-alun ini dikepung oleh bangunan Masjid Raya dan Kantor Polisi, atau yang sedikit berbeda mungkin adalah hadirnya Pasar Tradisional dan Kantor Pemerintahan.

Taman Kencana tidak dikelilingi oleh satu pun dari itu. Di sekitarnya, yang ada malah gedung-gedung tua milik IPB dan sejumlah balai penelitian. Keduanya juga merupakan gedung-gedung peninggalan Belanda dengan langit-langit tinggi yang khas dan suasana yang bikin deg-degan di malam hari. Mayoritas sarana dan prasarana di sekeliling Taken, sebutan akrab warga Bogor untuk Taman Kencana, adalah warisan dari jaman Belanda.

Fakta bahwa Taman Kencana tidak dikelilingi hal-hal umum yang ada pada Taman Kota membuat seorang teman dari Arsitektur Lansekap pernah berkata, “Taken itu bukan Taman Kota. Taken lebih mirip Taman Lingkungan.” Artinya, taman itu sebetulnya untuk orang-orang di lingkungan situ saja. Konsepnya mirip-mirip dengan taman yang biasa ada di dalam kompleks perumahan.

Tapi Taman Kencana letaknya kadung strategis, karena: berlokasi di tengah kota, ada jalur angkutan umum yang melewatinya, dan –ini yang paling penting– banyak pilihan tempat makan dan tempat nongkrong. Itulah mengapa warga Bogor dari berbagai kalangan dan umur akur menjadikan Taman Kencana sebagai meeting point.

Nah kan. Jadi agak blur. Apa yang seperti ini masih bisa dibilang Taman Lingkungan? Atau kita sebut saja ini Ruang Terbuka Hijau? Ah, apa pentingnya ya dikotak-kotakkan demikian? Taman Kencana adalah Taman Kencana. Taman yang memiliki bangku di setiap sudutnya. Taman yang punya lampu tembak di tengahnya untuk menjaga  agar suasana malam taman ini tetap “sehat”. Walau sebenernya, kadang masih ada juga hal-hal yang nggak bener.

More

Kuliner Khas Bogor

Suatu kali di rapat redaksi, saya dan tim pernah berencana mengangkat kuliner Bogor. Semua sudah bertahun-tahun di Bogor, tapi semua kebingungan, emang kuliner Bogor apaan? Ngambil nara sumbernya ke mana?

Roti unyil venus. Dok: http://glenhelena.multiply.com

Kalau mau bawa oleh-oleh, saya pribadi selalu belinya roti unyil Venus yang biasa gerobaknya nongkrong di bawah tangga penyebrangan dekat Tugu Kujang. Ini gampang dapatnya dan orang rumah pada suka. Tapi itu roti yang jelas bukan Indonesia banget, jadi sebetulnya ini bukan khas Bogor. Juga, harganya naik terus, gak turun-turun, kan bukan Indonesia banget tuh (kalau Indonesia kan, harga naik, didemo, gak jadi naik). Sebiji kecil begitu harganya kalau gak salah Rp 1.300.

Roti unyil dicoret.

Gimana kalau asinan? Yang ini mendingan. Harganya murah dan Indonesia banget. Kayaknya gak ada asinan di luar Indonesia, ya kan? Tapi, ini bukan khas Bogor. Di mana-mana gampang nemu asinan kok. Di Jawa banyak. Malah saya nemu asinan Sabang (Aceh) yang itu juga katanya khas di sana.

Asinan dicoret.

Nah, tales gimana? Wah, ini lagi… saya pernah nemu tales itu di Miangas (pulau paling utara Sulawesi) yang itu sudah dekat banget sama Filipina. Mereka makan tales juga tuh, malah ada satu hamparan lahan tanamannya tales semua.

Tales juga dicoret.

Akhirnya, dulu kalau gak salah, kami mutusin angkat warung tenda ujung tol aja. Itu loh, warung-warung yang makan trotoar yang berderet memanjang antara kujang sampai swalayan Ada. Kita gak ngomongin itu warung legal atau enggak ya, tapi kita ngomongin di situ kita bisa nemu macam-macam makanan sunda yang jadi prototype warung makan di Bogor.

Pas saya mau ngeliput ke sana siang-siang (2009), warungnya pada tutup. Ada sih yang buka, tapi ngomongnya gak nyambung, jadi gak jadi ditulis deh, hehe.

Cerita dari Penjual Martabak Dekat Stasiun

Sekitar awal 2010, saya sempat wawancara salah satu tukang martabak yang berjejer di dekat stasiun, yang dekat Jembatan Merah itu loh. Tapi baru ditulis sekarang, hehe. Saya lupa nama tukang martabak yang saya ajak wawancara, tapi saya ingat dia masih muda (sekitar 30 tahun), kumisan, tampangnya sangar (tapi ternyata bikin ketawa melulu).

Ini hasil wawancaranya dengan sedikit penyuntingan:

Iqbal (I) : Gak takut kesaing? Kan di sini ada 20-an tukang martabak?
Tukang Martabak (TM) : Wah 20 lebih. Gak takut ah, kan masing-masing ada langganan. Banyak yang cuma mau beli di situ aja. Biasanya langganan karena enak, bukan karena kenal.
I : Yang paling rame mana?
TM : Rata sih ya. Kayaknya sini sih.
I
: Haha. Di sini buka jam berapa?
TM
: Biasanya setengah empat sore. Tutupnya mah tergantung. Biasanya jam 1 itu masih ada. Jam 3 subuh itu baru gak ada sisa.
I
: Biasanya sehari laku berapa?
TM
: Sepuluh kilo lah, itu dapat sekitar 80 martabak. Satunya dijual tujuh ribu. Yang keju tiga belas ribu. Biasanya yang banyak mesen sih yang kacang, yang tujuh ribu itu.
I
: Kalau siangnya ngapain mas?
TM
: Ya siap-siap.
I
: Ini gerobaknya bawa dari rumah?
TM
: Nitip belakang sini.
I
: Udah brp lama di sini mas?
TM
: 10 tahun lah. Sendiri aja, gak pake asisten.
I
: Gak coba martabak telur? Susah ya?
TM
: Ah enggak. Ini saya punya roti bakar nih di sebelah, cuma belum buka.
I
: Enaknya jd tukang martabak apa sih?
TM
: Banyak duitnya, serius. Hehe.
I
: Emang sehari bersihnya berapa mas?
TM
: Pe go (Rp 150.000) lah
I
: Wih gila. Empat juta lebih dong sebulan?
TM
: Ya iya. Tapi gak kaya kaya. Malah kaya monyet.
I
: Enak ya, duitnya banyak.
TM
: Makanya besok jualan martabak, jangan wawancara.
More

Dunkin Stasiun Perbolehkan Penumpang Duduk Tanpa Beli

Sudah lama sebetulnya saya mau tahu apa pendapat pengelola Dunkin Donuts yang ada di Stasiun Bogor tentang pengunjung yang hanya duduk-duduk saja tanpa membeli. Seperti yang kita ketahui bersama, kursi Dunkin Donuts Stasiun Bogor tidak hanya berada di dalam restorannya, tapi juga di luar yang itu berada di wilayah tunggu penumpang kereta. Banyak penumpang yang memilih duduk di kursi milik Dunkin Donuts tersebut tanpa membeli produknya, mungkin karena kursinya yang nyaman atau memang karena kursi tunggu sudah tidak ada yang kosong. Saya temui Pak Syarif, Store Manager-nya. Ia menyambut dengan baik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan ramah:

Iqbal: Gimana tentang orang-orang yang suka duduk di depan situ yang itu kan haknya Dunkin?

DD: Itu kan membantu penumpang buat duduk. Selain itu, kita lihat, alangkah baiknya penumpang duduk kita tawarkan (menu Dunkin). Orang mau duduk silakan walaupun gak pesan. Jadi, duduk di situ gak harus pesan. Kru saya selalu diajarkan sopan santun, “Pak, sambil nunggu kereta mungkin Bapak mau pesan.”

Iqbal: Tapi maaf ni Pak, ada keluhan, kru Dunkin agak judes, jadi dia seakan-akan maksa yang duduk buat beli?

DD: Saya dari dulu tekankan ke kru, kalau penumpang mau duduk silakan. Mungkin karena mood kerjanya sedang tidak baik. Tapi saya selalu tekankan kerja professional.

Iqbal: Tapi kalau ada pengunjung yang beli Dunkin, lalu kursinya penuh, kan dia punya hak duduk?

DD: Ya kita ngomong baik-baik ke pengunjung yang tidak beli, karena itu fasilitas punya kita. Sebenarnya dengan adanya kursi itu kan kita membantu penumpang. Dari segi kebersihan juga kan kita jaga, kita sapu.

Iqbal: Jadi, kalau orang datang duduk di kursi luar itu, lalu petugas kasih menu, orang yang duduk di situ menolak untuk pesan itu boleh ya?

DD: Boleh. Yang saya tekankan seperti itu ke anak-anak. Gak masalah. Tapi akan didahulukan orang yang pesan Dunkin kalau dia kehabisan tempat duduk.

Taman Koleksi IPB: Dari Duduk Gratis Sampai Nongkrong di Resto

Sepasang muda-mudi menikmati rindangnya pohon kapuk di tengah Taman Koleksi.

Sepasang muda-mudi menikmati rindangnya pohon kapuk di tengah Taman Koleksi.

Taman Koleksi IPB adalah satu dari sedikit taman publik yang bisa dimanfaatkan secara gratis di Bogor. Meskipun kurang terawat dan ada sampah di sana-sini, rupanya tidak menyurutkan minat beberapa orang untuk sejenak hinggap menghindari panasnya Bogor di kala siang. Mulai dari mahasiswa yang numpang belajar sampai orang pacaran bisa ditemui pada bangku-bangku taman yang ada di taman ini.

Ternyata potensi ini tidak luput dari mata petinggi-petinggi IPB. Status baru IPB sebagai Badan Hukum Pendidikan agaknya membuat IPB harus lebih serius memutar otak bisnisnya untuk mendapatkan penghasilan secara mandiri. Maka dari itu, mengingat letaknya yang strategis di pusat kota dan berada tepat di sebelah Mall terbesar di Bogor, akhirnya sejak beberapa bulan yang lalu, berdirilah Resto Taman Koleksi dengan pilihan menu dan suasana yang unik.

Mencari Citarasa Sumatera di Tanah Bogor

Bogor tidak ramah dengan lidah Sumatera. Sebenarnya ini masalah klasik bagi orang rantau. Lain padang, lain ilalang. Masakan di satu tempat belum tentu cocok untuk orang dari daerah lain.

Untuk orang Sumatera, yang masakannya dikenal dengan kerumitan racikan bumbunya, tentu sedikit banyak akan kaget ketika disodorkan masakan Bogor yang bumbunya relatif datar-datar saja. Sepelekah? Belum tentu. Seorang kawan saya pernah masuk rumah sakit setelah sekitar satu bulan tinggal di Bogor. Alasannya ternyata remeh saja. Dia mengalami malnutrisi karena tidak bisa makan masakan yang biasa dijual di warung-warung makan di Bogor.

Tidak selera makan katanya. Sambalnya tidak mantap. Bumbu sayurnya gak nampol. Nasinya dingin.

Okelah, mungkin memang kawan saya itu kelewat manja. Tetapi dengan kondisi demikian, maka kerinduan orang Sumatera akan citarasa khas tanah asalnya dapat menjadi sebuah peluang usaha yang cukup potensial. Sudah biasa dengan Rumah Makan Padang? Alternatif masakan khas Sumatera seperti Mie dan Nasi Goreng Aceh pun bisa menjadi pilihan.

Pagi tadi, saya menyempatkan diri untuk mencicipi Lontong Sayur Padang yang ada di dekat Stasiun Bogor. Lokasi persisnya adalah di pertigaan Jalan Kapten Muslihat dan Jalan Nyi Raja Permas (jalan menuju bagian depan stasiun Bogor). Dengan berbekal dua buah meja dan beberapa kursi plastik, dagangan pun digelar persis di depan sebuah Rumah Makan Padang. Selain lontong sayur, tempat ini juga menjual gado-gado, kripik balado, krupuk kulit, dan beberapa penganan kecil lainnya.

Lontong sayur yang sudah jamak dimakan sebagai sarapan lantas diberi citarasa khas Masakan Padang melalui bumbu-bumbunya. Sayurnya pun bukan sekedar gulai nangka, tapi juga dilengkapi dengan sayur pakis. Saya yakin tidak banyak tempat makan di Bogor yang menyediakan sayur pakis di dalam menunya. Wajar saja, sayur pakis tidak terlalu dikenal di luar Sumatera. Dengan dilengkapi satu butir telur dan kerupuk merah, harga yang harus dibayar hanya Rp 5.000,00 – 6.000,00.

Sayang sekali saya tidak berhasil mendapatkan gambar satu menu ini dalam keadaan komplit. Sepiring lontong sayur padang terlalu sayang ditunda hanya demi mengabadikan gambarnya.
hahaha..

Usaha terbaik saya untuk mengambil gambarnya. :P

Usaha terbaik saya untuk mengambil gambarnya. 😛

Previous Older Entries